Muslimah dan Feminisme
Feminisme Tak Membuat Perempuan Bahagia
Rabu, 23/12/2009 15:22 WIB
Persamaan hak kaum perempuan dan laki-laki menjadi isu yang tidak pernah berhenti dibahas di kalangan aktivis perempuan. Kalangan feminis memanfaatkan istilah “hak asasi” dan “pemberdayaan” perempuan untuk menyuarakan gerakan feminisme. Sekilas, konsep feminisme tidak bermasalah karena bertujuan untuk mengangkat derajat kaum perempuan yang selama ini dianggap didiskriminasikan dan dilanggar hak-haknya oleh kaum lelaki. Tapi konsep feminisme yang notabene berasal dari Barat dan menggunakan standar-standar kehidupan perempuan Barat yang cenderung bebas.
Belakangan diketahui banyak menimbulkan masalah bagi kaum perempuan itu sendiri. Mereka justeru tidak bahagia dalam hidupnya, bahkan banyak diantara kaum perempuan yang terjerumus dalam tindak kriminal.
Sahar El-Nadi, seorang instruktur profesional dan penceramah di bidang komunikasi antar budaya dalam artikelnya “The Other Side of Feminism” mengungkap konsep feminisme ala Barat yang bermasalah itu.
Ia mengatakan, konsep feminisme jadi problem karena dengan alasan persamaan hak dan kesetaraan, sadar atau tidak sadar perempuan ditanamkan pemikiran dan pandangan bahwa kaum lelaki adalah manusia yang agresif, emosional, memonopoli lapangan kerja dan menutup kesempatan bagi kaum perempuan untuk memiliki banyak pilihan selain hanya mengurusi urusan rumah tangga.
Agenda feminisme yang dikedepankan kaum feminis sekarang ini, tulis El-Nadi, adalah persamaan hak yang cenderung membuat perempuan “identik” dengan laki-laki. Mereka menolak argumen bahwa kaum lelaki dan perempuan memiliki perilaku yang berbeda karena peran mereka dalam hidup pun berbeda. Kaum feminis akan menyebut orang-orang yang beragumen demikian sebagai orang yang ’seksis’, dikriminatif, pendukung “agenda chauvinis kaum lelaki” dan ingin mengendalikan kaum perempuan dalam sebuah sistem masyarakat yang patriarkis.
Kesetaraan menurut konsep feminisme, bahwa laki-laki dan perempuan harus memiliki kehidupan yang sama, tanggung jawab yang sama dan pada akhirnya mengalami tekanan hidup yang sama. Apakah konsep itu membuat kaum perempuan bahagia? Ternyata tidak. Semakin perempuan merasa berhasil menjalankan standar-standar feminisme itu, kenyataannya semakin mereka merasa sengsara. Lembaga General Social Survey pernah melakukan penelitian tentang hal ini di kalangan masyarakat AS. Mereka meneliti bagaimana mood masyarakat AS dari mulai tahun 1972 hingga sekarang, dan hasilnya, kaum perempuan AS yang notabene menganut konsep feminisme, kehidupannya lebih suram dibandingkan kaum lelaki.
Perempuan mengalami kondisi yang lebih buruk, karena mereka diminta untuk memainkan dua peran bukan satu peran bahwa tugas perempuan di dalam rumah dan tugas laki-laki mencari nafkah di luar.
Dibawa ‘revolusi feminisme’ kaum perempuan menang dalam mendapatkan apa yang disebut kebebasan dalam dunia laki-laki, sementara kaum lelaki banyak yang mengalami krisis jati diri.
Sehingga tak heran jika sekarang banyak kaum lelaki yang ‘feminim’, berpakaian dan bertingkah laku seperti perempuan. Perubahan semacam ini bisa dipahami, karena konsep kesetaraan itu, sejak kecil anak-anak perempuan didorong untuk belajar berani dan agresif seperti anak-anak laki.
Gaya mendidik seperti ini akan terbawa sampai anak perempuan tadi dewasa. Mereka akan tumbuh dengan pendekatan untuk menjadi “manusia yang egois” di dunia.
Konsep feminisme yang sekarang berkembang, membuat kaum perempuan, utamanya di negara-negara maju jadi meremehkan peran perempuan sebagai isteri dan ibu. Banyak diantara mereka yang tidak mau direpotkan dengan kewajiban-kewajiban sebagai isteri dan ibu sehingga mereka cenderung memilih melakukan seks bebas tanpa komitmen, memilih membesarkan anak-anak tanpa kehadiran seorang ayah bahkan menikah sesama jenis. Semuanya dilakukan atas nama “hak asasi perempuan.” Jika sudah demikian, maka lenyaplah perang kaum perempuan dalam masyarakat.
“Sebagai seorang muslim, saya sedih melihat makin banyak kaum perempuan di berbagai penjuru dunia yang berlomba-lomba mengikuti jalan feminisme akhirnya jatuh ke jurang yang sama. Bagi para muslimah, Al-Quran dengan jelas menyebutkan bahwa Allah Swt menciptakan berbeda antara kaum lelaki dan kaum perempuan. Masing-masing dianugerahkan peran yang berbeda pula untuk saling mendukung sebagai satu tim, dan bukan untuk saling bersaing,” tulis El-Nadi. “Tak seorang pun yang ingin mencerabut hak-hak kaum perempuan, tapi kita harus memahami bahwa kebebasan bukan berarti harus mendegradasikan kaum perempuan dan persamaan hak bukan berarti harus ‘identik’.
Kaum perempuan membawa karunia dan nilai-nilai yang unik bagi dunia. Peran perempuan dalam memulihkan nilai-nilai keluarga dalam kehidupan masyarakat yang modern bisa membuat kaum lelaki, anak-anak bahkan perempuan itu sendiri, hidup bahagia,” papar El-Nadi. Nah, para muslimah, rasanya tak perlu silau dengan propaganda kesetaraan gender dan persamaan hak asasi yang digaungkan para aktivis feminisme. (ln/iol)
boleh dibaca juga:
Keistimewaan Perempuan
Moms, ANAK BERHAK atas ASI!
Oooh! I LOVE this article!
“Mengapa kita membiarkan seorang ibu untuk tidak menyusui anaknya karena pekerjaan di kantor tidak bisa ditinggalkan?”
Hmmm.. Kira-kira saya jadi sedikit paham, mengapa Allah berkata “hendaklah kamu tetap di rumahmu…” [QS. Al-Ahzab: 33]
Ada tugas yang lebih penting dari “kerjaan kantor”, yaitu anak-anakmu. Perempuan memang tidak diciptakan untuk setara dengan laki-laki, karena masing-masing memang dibebani atas peran yang berbeda tetapi saling mendukung dan melengkapi dalam sebuah tim (keluarga). Domestik dan publik. Di luar perihal ke-ilmiah-an ASI yang sudah jelas terbukti (melalui artikel dibawah ini), tentang ASI itu sendiri sudah jelas disebutkan dalam Al-Qur’an surat Lukman: 14. Kita tentu tahu juga, bahwa apa yang diperintahkan dalam Qur’an adalah wajib. Jadi mengapa para ibu mengabaikan kewajiban utamanya sebagai perempuan untuk menyusui (di antaranya) dan lebih memilih bekerja di luar rumah, yang lagi-lagi adalah pengabaian terhadap perintah Allah bahwa perempuan itu hendaknya di rumah? Bagaimana dengan anak yang disebut sebagai titipan Tuhan itu? Sanggupkah kita mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak?
-Vis
PEREMPUAN DAN PENGABAIAN HAK ANAK ATAS ASI
Senin, 21 Desember 2009 | 10:20 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com – Masih banyak anak Indonesia yang tidak mendapatkan air susu ibu (ASI) eksklusif karena berbagai alasan. Cakupan ASI eksklusif diperkirakan baru sekitar 30 persen. Padahal, kita tahu dampak kurang gizi bagi generasi mendatang dan bagaimana seharusnya mengatasinya.
Kurang gizi mengakibatkan potensi IQ loss jutaan poin, kecerdasan anak terkendala, dan anak tidak dapat berkembang sesuai fitrah genetiknya.
Selama ini instansi pemerintah maupun swasta memberi cuti melahirkan kepada perempuan selama tiga bulan. Kebijakan cuti ini sesungguhnya tidak mendukung upaya perbaikan kualitas hidup bangsa.
Pakar gizi dan kesehatan menyepakati, bayi harus diberi ASI eksklusif selama enam bulan pada awal kehidupannya. Hal ini akan menjamin asupan gizi berkualitas dalam periode sangat penting ini. Anak memasuki fase usia keemasan sampai usia dua tahun. Pada periode inilah perkembangan otak sangat optimal dan karena itu menyusui sampai dua tahun menjadi penting.
Pemberian cuti melahirkan yang hanya tiga bulan akan menyulitkan penerapan ASI eksklusif sehingga bayi tidak mendapatkan haknya, yakni makanan alami terbaik yang melekat pada tubuh ibunya. Sebagai gantinya, bayi terpaksa mengonsumsi susu formula yang harganya mahal dan kadang-kadang tidak terjangkau oleh daya beli rumah tangga.
Sangat penting disadari produksi ASI ditentukan oleh frekuensi menyusui dan stres seorang ibu. Apabila ibu harus bekerja dengan meninggalkan bayi berusia dua atau tiga bulan di rumah, maka selama di kantor ibu tidak dapat atau kurang optimal mengeluarkan air susunya. Akhirnya, jumlah ASI akan semakin sedikit dan atau kering sebelum masa penyusuan dua tahun terpenuhi.
Orang modern kini menghadapi sumber stres yang beraneka ragam karena tantangan hidup yang semakin berat. Ketika industrialisasi berkembang sebagai tanda kemajuan zaman, maka masyarakat harus menghadapi stres akibat polusi dan stres emosional akibat pekerjaan. Bagi perempuan pekerja rendahan, stres semakin bertambah karena penghasilan tidak memadai untuk menunjang kehidupan keluarganya sehari-hari.
Ubah Aturan Cuti
Agar kaum perempuan dapat menyusui anaknya dengan tenang dan mendayagunakan ASI-nya secara maksimal, maka sudah saatnya peraturan cuti bagi kaum perempuan diubah dari hanya 3 bulan menjadi 6 bulan. Perempuan perlu diberi kesempatan membesarkan anaknya dengan baik. Maternal bonding dalam enam bulan awal kehidupan seorang anak sangat penting. Seorang bayi akan merasa aman dan nyaman dalam dekapan ibunya ketika dia disusui.
Kita memang merasa bangga kalau ada 3-5 siswa mendapatkan medali emas dalam olimpiade fisika atau matematika berkelas internasional. Namun, kemenangan ini bukan cermin semakin membaiknya kualitas sumber daya manusia bangsa. Kurang gizi masih mendera anak-anak kita akibat defisit energi protein, kurang yodium, dan anemia. Abad ke-20 telah berlalu dan dunia gagal menyelamatkan anak-anak dari masalah kekurangan gizi.
Di Finlandia, ibu yang mau menyusui bayinya mendapatkan imbalan dari pemerintah. Ini menunjukkan besarnya perhatian negara terhadap tumbuh kembang seorang anak.
Indonesia tidak akan mampu memberi imbalan bagi perempuan menyusui, tetapi paling tidak kaum perempuan harus diberi kesempatan dapat secara leluasa memberikan ASI bagi anaknya.
Sebab itu, perlu ada komitmen dari pemerintah untuk memberikan cuti melahirkan sesuai kaidah ASI eksklusif, yaitu enam bulan pascamelahirkan. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Departemen Kesehatan adalah dua institusi negara yang harusnya paling risau dengan kenyataan rendahnya pemberian ASI eksklusif yang akan berdampak pada kualitas hidup anak.
Mengapa kita mengabaikan sumber daya nutrisi yang murah dan selalu tersedia, yaitu ASI? Mengapa kita membiarkan seorang ibu untuk tidak menyusui anaknya karena pekerjaan di kantor tidak bisa ditinggalkan?
Perempuan yang tidak menyusui secara eksklusif selama enam bulan mengalami kerugian karena memikul biaya pembelian susu formula. Ditambah lagi, perkembangan intelektualitas anak mungkin kurang optimal karena tidak mendapatkan ASI secara semestinya.
Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk miskin sangat banyak. Penduduk miskin ini tidak seyogianya membelanjakan penghasilannya yang pas-pasan untuk membeli susu formula. Tuhan telah membekali kaum perempuan dengan ASI sebagai makanan bayi yang telah dilahirkannya.
Kalau perempuan harus menyusui anaknya secara eksklusif selama enam bulan, maka kantor atau instansi tempatnya bekerja harus mendukung hal ini. Sebab itu, diperlukan terobosan perubahan kebijakan cuti bagi perempuan (dari 3 bulan menjadi 6 bulan) agar tercapai perbaikan kualitas hidup anak-anak Indonesia.
Istilah breastfeeding father perlu disosialisasikan bukan sebagai bentuk kekenesan perempuan, tetapi lebih untuk menyadarkan para suami agar selalu memberi dukungan kepada istrinya sehingga tidak gampang menyerah dalam memberi makanan alamiah terbaik (ASI) bagi bayinya.
Ali Khomsan Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, FEMA IPB
KENAPA TIDAK BERJILBAB? Alasan dan Jawabannya..
05/07/09
Waah.. Ada artikel buat melengkapi punyaku.. Copas dari mbak Arie Widowati (thanks!). Aku menambahkan sedikit –kenapa tidak berjilbab versi aku– di bawah..
-Vis
beribadah yoo.. jangan banyak alasaan.. (GIGI)
Wednesday, June 10, 2009 at 8:04am
Bismillahirrohmanirrohim,
Seorang muslimah, diperintahkan untuk menutup auratnya ketika keluar rumah, yaitu dengan mengenakan pakaian syar’i yang dikenal dengan jilbab atau hijab. Namun dalam kenyataan masih banyak di antara para muslimah yang belum mau memakainya. Ada yang dilarang oleh orang tuanya, ada yang beralasan belum waktunya atau nanti setelah pergi haji dan segudang alasan yang lain. Nah apa jawaban untuk mereka?
1. Saya Belum Bisa Menerima Hijab
Untuk ukhti yang belum bisa menerima hijab maka perlu kita tanyakan, “Bukankah ukhti sungguh-sungguh dan yakin dalam memeluk Islam, dan bukankah ukhti telah mengucapkan la ilaha illallah Muhammad rasulullah dengan yakin? Yang berarti menerima apa saja yang diperintahkan Allah Subhannahu wa Ta’ala dan Rasulullah? Jika ya maka sesungguhnya hijab adalah salah satu syari’at Islam yang harus dilaksanakan oleh para muslimah. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memerintah kan para mukminah untuk memakai hijab dan demikian pula Rassulullah Shalallaahu alaihi wasalam memerintahkan itu. Jika anda beriman kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, maka anda tentu akan dengan senang hati memakai hijab itu.
2. Saya Menerima Hijab, Namun Orang Tua Melarang.
Kalau saya tidak taat kepada orang tua, saya bisa masuk neraka. Kepada saudariku kita beritahukan bahwa memang benar orang tua memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia, dan kita diperintahkan untuk berbakti kepada mereka. Namun taat kepada orang tua dibolehkan dalam hal yang tidak mengandung maksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala , sebagaimana dalam firman-Nya, artinya,
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya,” (QS. Luqman:15)
Meskipun demikian kita tetap harus berbuat baik kepada kedua orang tua kita selama di dunia ini.
Inti permasalahannya adalah, bagaimana saudari taat kepada orang tua namun bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, padahal Allah Subhannahu wa Ta’ala adalah yang menciptakan anda, memberi nikmat, rizki, menghidupkan dan juga yang menciptakan kedua orang tua saudari?
3. Saya Tidak Punya Uang untuk Membeli Jilbab
Ada dua kemungkinan wanita muslimah yang mengucapkan seperti ini, yaitu mungkin dia berdusta dan mungkin juga dia jujur. Jika dalam kesehariannya dia mampu membeli berbagai macam pakaian dengan model yang beraneka ragam, mampu membeli perlengkapan ini dan itu, maka berarti dia telah bohong. Dia sebenarnya memang tidak berniat untuk membeli pakaian yang sesuai tuntunan syari’at. Padahal pakaian syar،¦i biasanya tidak semahal pakaian-pakaian model baru yang bertabarruj.
Maka apakah saudari tidak memilih pakaian yang seharusnya dikenakan oleh seorang wanita muslimah. Apakah anda tidak memilih sesuatu yang dapat menyelamatkan anda dari adzab Allah Subhannahu wa Ta’ala dan kemurkaan-Nya? Ketahuilah pula bahwa kemuliaan seseorang bukan pada model pakaiannya, namun pada takwanya kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala . Dia telah berfirman, artinya,
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” (QS. al-Hujurat:13)
Adapun jika memang anda seorang yang jujur, jika benar-benar saudari berniat untuk memakai jilbab maka Allah Subhannahu wa Ta’ala akan memberikan jalan keluar. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah mengatakan, artinya,
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. ath-Thalaq 2-3)
Kesimpulannya adalah bahwa untuk mencapai keridhaan Allah dan untuk mendapatkan surga, maka segala sesuatu akan menjadi terasa ringan dan mudah.
4. Cuaca Sangat Panas
Jika saudari beralasan bahwa cuaca sangat panas, kalau memakai jilbab rasanya gerah, maka saudari hendaklah selalu mengingat firman Allah Subhannahu wa Ta’ala , artinya,
“Katakanlah, “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jikalau mereka mengetahui.”(QS. 9:81)
Apakah anda menginginkan sesuatu yang lebih panas lagi daripada panasnya dunia ini, dan bagaimana saudari menyejajarkan antara panasnya dunia dengan panasnya neraka? Yang dikatakan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala , artinya,
“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah.” (QS. 78:24-25)
Wahai saudariku, ketahuilah bahwa surga itu diliputi dengan berbagai kesusahan dan segala hal yang dibenci nafsu, sedangkan neraka dihiasi dengan segala yang disenangi hawa nafsu.
5. Khawatir Nanti Aku Lepas Jilbab Lagi
Ada seorang muslimah yang mengatakan, “Kalau aku pakai jilbab, aku khawatir nanti suatu saat melepasnya lagi.” Saudariku, kalau seseorang berpikiran seperti anda, maka bisa-bisa dia meninggalkan seluruh atau sebagian ajaran agama ini. Bisa-bisa dia tidak mau shalat, tidak mau berpuasa karena khawatir nanti tidak bisa terus melakukannya.
Itu semua tidak lain merupakan godaan dan bisikan setan, maka hendaklah suadari mencari sebab-sebab yang dapat menjadikan anda selalu beristiqamah. Di antaranya dengan banyak berdo’a agar diberikan ketetapan hati di atas agama, bersabar dan melakukan shalat dengan khusyu’. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, artinya,
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. 2:45)
Jika saudari telah memegang teguh sebab-sebab hidayah dan telah merasakan manisnya iman maka saudari pasti tidak akan meninggalkan perintah Allah Subhannahu wa Ta’ala , karena dengan melaksanakan itu anda akan merasa tentram dan nikmat.
6. Aku Takut Tidak Ada Yang Menikahiku
Saudariku! Sesungguhnya laki-laki yang mencari istri seorang wanita yang bertabarruj, membuka aurat dan senang melakukan berbagai kemaksiatan maka dia adalah laki-laki yang tidak memiliki rasa cemburu. Dia tidak cemburu terhadap yang diharamkan Allah Subhannahu wa Ta’ala, tidak cemburu terhadapmu, dan tidak akan membantumu dalam ketaatan, menuju surga serta menyelamatkanmu dari neraka.
Jadilah engkau wanita yang baik, insya Allah Subhannahu wa Ta’ala engkau mendapatkan suami yang baik pula. Engkau lihat berapa banyak wanita yang tidak berhijab, namun dia tidak menikah, dan engkau lihat berapa banyak wanita berjilbab yang telah menjadi seorang istri.
7. Kita Harus Bersyukur
“Oleh karena kecantikan merupakan nikmat dari Allah Subhannahu wa Ta’ala, maka kita harus bersyukur kepada-Nya, dengan memperlihatkan keindahan tubuh, rambut dan kecantikan kita.” Mungkin ada di antara muslimah yang beralasan demikian.
Suadariku! Itu bukanlah bersyukur, karena bersyukur kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala bukan dengan cara melakukan kemaksiatan. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka.” (QS. an-Nur:31)
Dalam firman-Nya yang lain,
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (QS.al-Ahzab:59)
Nikmat terbesar yang Allah Subhannahu wa Ta’ala berikan kepada kita adalah iman dan Islam, jika anda ingin bersyukur kepada Allah maka perlihatkanlah kesyukuran itu dengan sesuatu yang disenangi dan diperintahkan Allah Subhannahu wa Ta’ala, di antaranya adalah dengan mememakai hijab atau jilbab. Inilah syukur yang sebenarnya.
8. Belum Mendapatkan Hidayah
Ada sebagian muslimah yang mengatakan, “Saya tahu bahwa jilbab itu wajib, namun saya belum mendapatkan hidayah untuk memakainya.” Kepada saudariku yang yang beralasan demikian kami katakan, “Bahwa hidayah itu ada sebabnya sebagaimana sakit itu akan sembuh dengan sebab pula. Orang akan kenyang juga dengan sebab, yakni makan. Kalau anda setiap hari meminta kepada Allah agar ditunjukkan ke jalan yang lurus, maka anda harus berusaha meraihnya.Di antaranya, hendaklah anda bergaul dengan wanita yang baik-baik, ini merupakan sarana yang sangat efektif, sehingga hidayah dapat anda raih dan terus-menerus terlimpah kepada ukhti.
9. Aku Takut Dikira Golongan Sesat
Ketahuilah saudariku! Bahwa dalam hidup ini hanya ada dua kelompok, hizbullah (kelompok Allah) dan hizbusy syaithan (kelompok syetan). Golongan Allah adalah mereka yang senantiasa menolong agama Allah Subhannahu wa Ta’ala, melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Sedangkan golongan setan sebaliknya selalu bermaksiat kepada Allah dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan ketika ukhti melakukan ketaatan, salah satunya adalah memakai hijab maka berarti ukhti telah menjadi golongan Allah, bukan kelompok sesat.
Sebaliknya mereka yang mengumbar aurat, bertabarruj, berpakaian mini dan yang semisal itu, merekalah yang sesat. Mereka telah terbius godaan syetan atau menjadi pengekor orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Maka berbahagialah anda sebagai kelompok Allah Subhannahu wa Ta’ala yang pasti menang.
Jilbab atau hijab adalah bentuk ibadah yang mulia, jangan sejajarkan itu dengan ocehan manusia rendahan. Dia disyari’atkan oleh Penciptamu, kalau engkau taat kepada manusia dalam rangka bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala maka sungguh engkau akan binasa dan merugi. Mengapa engkau mau diperbudak oleh mereka dan meninggalkan ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala Yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikanmu?
sumber : http://solekha.multiply.com/journal/item/215/Tak_mau_berjilbab_Alasan_Dan_jawabanya
-KENAPA TIDAK BERJILBAB VERSI AKU-
*10. Takut Susah Mendapat Pekerjaan
Heeeeee? Memangnya ketika kita berdoa untuk meminta rezeki (pekerjaan) itu mintanya sama siapa, ya? Kan sama Allah. Kok maunya aja minta-minta, tapi giliran disuruh sama Yang Disembah kok nggak mau nurut.. Gimana mau dikasih? Yang kasih kerjaan itu Allah atau Departemen/Perusahaan? Kalau Allah gak izinkan, sekuat apapun usahanya juga gak bakal tembus.. Tapi kalau Allah sudah berkehendak, kun-fa-yakun! Wah, ibarat daunpun bisa jadi emas..
*11. Jilbab Budaya Arab
Ada juga yang bilang begitu. Bukan budaya di Indonesia. Loh, bukankah Islam itu rahmatan lil’alamin? Nggak ada hubungan sama Arab atau negara manapun, asal dia muslimah, wajib ya wajib aja.. Hayo, mau bantah apa lagi..
*12. Nanti Saja Kalau Sudah Tua, Sudah Hajjah..
Hahaha.. Itu mah aku bangetd, dulu ;P Yaa.. itulaah.. Siapa yang tau umur manusia? Siapa yang menyangka ajal akan menjemput ketika sedang sarapan pagi di restoran mewah di hotel bintang lima? Jangan-jangan sebelum tobat sudah dipanggil YME.. Oh, nooo.. Jadi? Pakai sekarang! Nggak usah nunggu ‘hidayah’.. Hidayah bisa dicari.. Seppp?
*13. Cukup dengan Pakaian yang Terhormat
Seperti yang diceritakan Quraish Shihab di Metrotv kemarin, ada perbedaan pendapat di antara ulama sendiri. Ada yang mengatakan bahwa jilbab itu tidak wajib, yang penting adalah pakaian yang terhormat. Namun dalam pemikiran aku pribadi, kalau boleh bertanya pada ulama tersebut; jika memang boleh hanya dengan pakaian terhormat, tanpa jilbab; bagaimana dengan surah Al-Ahzab 59 dan An-Nur 31, yang menurut aku jelas menyebutkan tentang perintah agar mengulurkan jilbab menutupi tubuh dan menutupkan kain kudung ke dada? Bagaimana dengan kisah wanita kaum Anshar yang langsung merobek kain wol mereka untuk menutupi kepala begitu mendengar turunnya ayat tentang perintah berjilbab? Mereka nggak pakai mikir dan debat lagi, langsung aja menutup rambut kepala mereka. Kira-kira bagaimana interpretasi ayat-ayat tersebut sehingga bisa dimaknai menjadi cukup dengan pakaian terhormat saja, ya??? Sayang aku nggak ada di sana buat nanyain itu. Lagipula definisi pakaian terhormat akan sangat berbeda satu dan lain budaya, negara, ras, suku, dll. Bagaimana dengan suku yang wanitanya berpakaian hanya menutup kelaminnya saja, sementara bagian lain tidak tertutup sehelai benang-pun? Tentu menurut mereka pakaian itu sudah terhormat bagi wanita. Jadi.. Silakan menyimpulkan dengan keyakinan masing-masing
*14. Yang Penting Hatinya Dikerudungi
Rasanya sering aku denger alasan ini.. Cuma kalo dipikir-pikir.. Perempuan yang cantik, rajin sholat, puasa, zakat, sodakoh, udah haji, sering umroh, selalu berbuat baik, bagus ilmu agamanya, dll.. Tapi bajunya terbuka? Shortpants and tanktop? Bikini at the beach? Backless at the party? Kayaknya gak match deh.. Karena kalo dia baca Qur’an juga, pasti tau ada perintah Allah untuk menutup aurat.. Pasti tau juga hadis Nabi tentang perempuan yang berpakaian tapi telanjang tidak akan mencium baunya surga.. Jadi, buat apa hati dikerudungi kalau auratnya terbuka? Jika dia sholat, pasti tiap sholat pakai mukena yang menutup seluruh tubuh. Tapi lepas sholat, lepas juga penutup auratnya. Apa dikira Allah hanya melihat ketika sholat saja? Apa setelah sholat Allah melepas pandangan-Nya dari kita? Padahal muslim/muslimah yang baik harus senantiasa merasa seperti selalu melihat dan dilihat Allah, dengan demikian dirinya selalu berada koridor yang benar. Hati yang dikerudungi siapa yang tahu? Hati kan nggak kelihatan. Perintah yang jelas adalah menutup aurat yang nampak, yang dilihat orang lain selain muhrim. Ibadah-ibadah seperti sholat, puasa, dll, hanya Tuhan dan dia yang tahu. Apa yang membedakan perempuan muslimah dan yang bukan, kalau bukan jilbab? Jadi.. Rasanya belum sempurna seorang muslimah kalau belum berjilbab
Kira-kira begitu menurut saya.. Idem dengan PPT 3 episode Aya ‘mengingatkan’ kak Mira agar berjilbab.. Episode yang jempolan banget.. Hidayah itu bisa datang lewat jalan apa aja.. Bisa lewat sinteron, bacaan, atau nasihat orang lain.. Kalau hati sudah membenarkan tapi nggak dilaksanakan juga, hilanglah hidayah itu.. Jika dengan cara yang halus kita masih menolak, apa harus denngan cara yang keras dan kasar kita baru setuju? Demikian kata bang Asrul menasehati istrinya..
*15. Tidak Berjilbab adalah Hak Asasi Saya
Naah.. Alasan ini baru ngetren sekarang.. Aku juga baru tau setelah baca koran… Hehehe… Menurut aku, hak asasi itu berlaku untuk hal yang sunnah, tapi kalau yang wajib, yaah… namanya juga wajib, ya harus ditaati, kalau memang percaya (iman) sama agamanya. Apa dikira perintah Allah itu buruk sekali sehingga melanggar hak asasi perempuan? Akal manusia yang terbatas ini memang sukanya ‘memikirkan’ ajaran-ajaran Allah itu bagaimana-bagaimana, ya jelas tidak sampai lah… Contoh sederhana, manfaat khitan… Kalau dipikir, orang jaman dulu pasti mengira gila kaliii… ‘memotong’ alat kelamin!!! Belum ada bius pulak! Tapi beratus tahun setelahnya terbukti manfaat khitan…
Kembali lagi ke awal, tapi mungkin ada benernya juga sih, hak asasi dia untuk taat atau tidak, percaya (iman) sama Islam dan ajaran-Nya atau tidak, berjilbab atau tidak. Jadi, semua kembali ke kepercayaan masing-masing.. Bagi yang percaya, dan percaya bahwa jilbab itu hukumnya wajib, hayuk.. Bagi yang tidak percaya, ya sudah..
Bagi aku yang percaya jawabannya begini; Sang Nona berkata bahwa beragama itu keyakinan dan harus mengerti. Meyakini dengan perilaku Islami. Tidak berjilbab tapi kan menjalani keagamaannya dengan sunguh-sungguh.
Kata aku: Kalau memang menjalani agama dengan sungguh-sungguh, yakin dan mengerti, berperilaku Islami; kenapa jugaaa—tidak berjilbab? Apa tidak mengerti tentang perintah berjilbab? Tidak yakin sama ajaran Allah? Tidak menutup aurat itu perilaku Islami? Binguuung dewh..
“Walaupun tidak berjilbab tapi sudah khatam membaca Qur’an..”
Kata aku: Membaca mah biasa.. Tapi memahami dan melaksanakannya ityu loooch… Yang jelas tidak baca artinya kali yah..
“Kalau ke tempat yang mengharuskan pemakaian jilbab, saya akan pakai untuk menghormati aturan di sana”
Kata aku: Kalau aturan manusia, dihormati, ditaati. Aturan Allah, dilanggar? Jadi lebih takut aturan manusia daripada Tuhan donk? Aneh beneeer.. Memang yang menciptakan manusia itu siapa?
“Saya Akan Berjilbab, Kalau Saya Yakin Berjilbab Akan Membuat Saya Lebih Baik.”
Kata aku: Kalau jadi lebih buruk, ya bukan salah jilbabnya dwonk… Ya salah orangnya… Namanya juga Allah yang buat aturan, pastinya sudah dibuat sedemikian rupa demi kemashalatan umat-Nya, mendatangkan kebaikan bagi yang mereka yang menjalankan.. Betul?
“Untuk berjilbab, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui.”
Kata aku: Ya ampyuuun.. Kelamaan bangetd nggak seeeh.. Kalau belum sampai ke tahapan itu keburu mati gimana? Tidak sempet tobat dwonk..
Wallohu A’lam Bissowab,
Artikel Terkait:
- Kenapa Berjilbab 1
- Kenapa Berjilbab 2
Memilih Anak atau Karir
Pak Mario Teguh bilang…
Kita tidak bisa berharap untuk sukses dalam 2 hal. Karena hal itu ibarat mengejar 2 kelinci. Tidak mungkin kan, kelinci-kelinci itu lari ke arah yang sama?
Benar juga, ya. Kata-kata itu pas betul buat saya. Energi dan perhatian kita akan terpecah menjadi 2 sehingga hasilnya tidak akan maksimal. Salah-salah malah tidak ada satu kelinci-pun yang didapat. Lain halnya jika kita fokus untuk mengejar satu kelinci. Seluruh energi dan konsentrasi kita maksimalkan hanya untuk mengejar kelinci itu. Tentu kemungkinan untuk mendapatkannya lebih besar.
Jadi mau-tidak-mau, kita harus memilih. Pilihan kita adalah hal yang kita prioritaskan. Demikian pula saya sebagai seorang ibu, rasanya tidak mungkin bagi saya untuk berkarir dan mengasuh anak sekaligus. Saya di kantor tetapi pikiran saya mengingat anak-anak. Tidak bisa konsentrasi pada pekerjaan. Saya di rumah teringat pekerjaan besok. Tidak bisa fokus momong anak-anak. Saya mengasuh anak saja belum becus, mau dibagi 2 dengan bekerja. I’m not that SUPER. Apa boleh buat, harus ada kelinci yang dikorbankan. Daripada saya sukses tapi anak-anak terlantar. Atau lebih parah; karir gagal, anak-anak juga terlantar. Kalau anak-anak terurus dan karir gagal? Ya kalau tetap nekat kerja berarti akan banyak korupsi yang saya lakukan. Masuk lebih siang, pulang lebih cepat, bolos untuk keperluan anak, dan sebagainya. Malah jadi banyak dosa, anak-anak menjadi fitnah bagi saya. Maka saya memilih mengorbankan pekerjaan dibanding orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya.
Hanya sementara. Nanti jika mereka sudah besar dan mandiri, saya akan kembali mencari kesibukan lain…
Seperti yang pernah saya katakan kepada seorang teman, anak-anak itu cepat besarnya. Hanya sebentar mereka “membutuhkan” saya. Nanti kalau sudah penuh waktu di sekolah, kembali deh waktu saya “seorang diri”. Mau kerjakan apa saja, bisa. Maka demi waktu mereka yang sebentar itu, saya korbankan waktu saya untuk menemani mereka. Melihat mereka tumbuh berkembang. Saya tidak ingin menyesal, melewatkan waktu-waktu emas mereka tumbuh besar, yang hanya terjadi sekali dan tidak bisa diulang. Saya ingin menjadi yang pertama; yang melihat mereka tersenyum, mendengar celoteh pertama, melihat langkah pertama, mendengar cerita mereka sepulang sekolah, dan sebagainya. Saya ingin melihat dan dilihat mereka sepanjang hari, menemani mereka bermain lego dan puzzle, bukan si mbak. Untuk itu, saya harus memilih. Saya bersyukur, saya punya “kemewahan” untuk memilih berhenti bekerja dan menemani anak-anak.
Anak adalah investasi dunia-akhirat (Murni Budiadi)
Artikel terkait:
>> Haruskah Berhenti Bekerja (It’s Baby Time)
>> Prioritas Sang Ibu
Comments to My Letter at The Jakarta Post (Do We Read the Same Qur’an?)
Hooo… Ternyata suratku ke Jakarta Post ada yang kasih komentar! Selama ini yang kuikutin korannya aja, ternyata ada perkembangan di webnya. Berikut komentar-komentarnya:
Abdullah (not verified) — Sun, 04/13/2008 – 9:47pm
Everything is from Allah as stated in the Al-Quran. Homosexuality is from Allah, even iblis is from Allah. Just because it is from Allah, it does not mean that it can be adopted by mankind as “natural” when God has made it very clear it is forbidden. But why does Allah provides everything but then forbids some? Why does Allah create iblis and kafirs and then warn mankind not to embrace, succumb and follow their ways? Again Allah made it very clear in the Al-Quran that those are subjects of test for mankind. But how can the non-Muslim understand that? Lakum dinukum, waliyadin.
Anita (Bandung) (not verified) — Mon, 04/07/2008 – 11:44am
Just trust that Allah always gives the best for its creations.
The Reader (not verified) — Sat, 04/05/2008 – 6:58am
Who decides who does and who does not fully understand Islam? Who decides what is and is not a correct or incorrect interpretation of Islam- the MUI, JIL or the Taliban?? Surely they cannot all be right?? Or is it Viska Wibowo, Gus Dur or Osama Bin Laden who have the answers?? These 3 people all seem to think they do! What exactly is required to fully understand it? In Indonesia,one minute the Bali Bombers are denounced as having nothing to do with the ‘real’ Islam, and then they are having lunch with the authorities because they are their Muslim brothers!! Amrozi cs were convinced, and still are, that they were defending Islam, according to their understanding, which is obviously very real to them. The Wahid Institute tells us Islam is plural, tolerant and inclusive. Tolerant and inclusive of who, and what? Some say the Al-Qu’ran cannot be translated from the original Arabic, so can only native speakers of Arabic fully understand Islam? What is the ‘real’ Islam: Muslims and non-muslims are constantly telling each other they have no idea what this is, if they happen to disagree on something…so, Viska, what is the real Islam, who fully understands it, and how do you know? Why is one person’s interpretation or understanding ‘better’ or more ‘correct’ than anothers??
Source: Jakpost
My Respond:
I totally agree with Abdullah and Anita.
To: “Reader”
I guess You think it too hard or I just put the wrong word to the sentence “didn’t fully understand Islam”. Please forgive my Inglish (Indonesian-English).
I meant it to those who e.g; didn’t know Islam, didn’t read Qur’an completely, didn’t have the knowledge about Islam; even she/he is a moslem. For example, my maid is a moslem, but what she knows about Islam is all about shalat (daily pray), puasa (fasting at Ramadhan) and Lebaran (Ied Fitr Holy-day). She can’t read Al-Qur’an, she never read one, even its translation. She didn’t know about zakat, one of moslem’s obligations. She didn’t know much about sunnah, things that ‘recommended’ to do. I can’t guarantee that she’s able to explain about polygamy, hijab, jihad, or else matters in Islam.
So I think it’s clear about those who “didn’t fully understand Islam”. I also think that no one can fully understand Islam 100%. That’s why moslems are obliged to learn Islam as long as they live. If a person takes Islam as his/her religion and understand it, he/she must apply Islam in his/her relation to Allah (ibadah—hablumminnallah) and to human and environment as well (hablumminnanas). Take our Rasullullah, Muhammad SAW as a perfect example. We can’t say that someone that good in his/her ibadah but corrupt either is a good moslem, can we?
If the matter is about what is sin/not, halal/haram, wajib/sunnah/makruh/mubah etc, that is a clear fact, I’d say that possibly one understanding is better/more correct than others. Example; A knows that adultery in Islam is a sin, so he didn’t do it. B doesn’t know, so he did it anyway. I’d say that A’s understanding is better than B. Off course, it’s about adultery.
Other things such as khitan (circumcision), jihad or polygamy, we can’t say that someone’s understanding is better-or-less. I’ll say it as: “different”, depend on which kilafiyah that she/he believes. Example; there’s ulama believes that circumcision is a must to women, but others think the contrary, depends on certain condition. A believes first opinion, B believes the second one. It’s not better or correct, but just different. But if A knows the ‘knowledge’ about khitan while B doesn’t, can we say that A is better than B?
Aah.. I know. I forget to mention the “about” thing on my letter!
Sunat Perempuan…
Beberapa waktu lalu forum membahas sunat perempuan (SP). Awalnya sih nggak pengen ikut-ikutan, tapi trus… ada anggota yang ’suaranya cukup berpengaruh’ ikut berkomentar tentang (manfaat) SP -salah satunya, meng-i’tidal-kan syahwat- adalah ‘tidak ilmiah’. Lalu ada postingan artikel lagi, menyebutkan bahwa SP itu anjuran atau keharusannya tidak jelas. Ada lagi yang menulis, bahwa hadisnya Abu Dawud itu mursal, yaitu hadis yang kehilangan mata rantai riwayat karena tidak ditemukan di antara para sahabat Nabi. Selain itu, hadis ini hanya ada dalam Abu Dawud dan tidak ada dalam kompilasi hadis terkemuka lainnya. Wajar sih, ada pro dan kontra. Mungkin beda interpretasi, beda aliran, beda iman. Tapi gatel juga baca postingan kok semua yang tentang ‘negatif’-nya SP. Pengen juga nih posting artikel SP yang isinya tentang SP yang ‘positif’, supaya info yang keluar berimbang. Tinggal yang baca memilih, mau percaya yang mana. Ilmiah atau enggak, tergantung kepercayaan ajah. Kalau dari aku, tentyu artikelnya dari almanhaj… Heheh..
Aku sendiri, ikut yang tengah aja. SP buatku sunnah, hanya jika perlu (ada bagian yang dikhitan).
http://www.almanhaj.or.id/content/851/slash/0
Kamis, 24 Juni 2004 21:12:39 WIB
HUKUM KHITAN
Oleh
Salim bin Ali bin Rasyid Asy-Syubli Abu Zur’ah
Muhammad bin Khalifah bin Muhammad Ar-Rabah.
Hukum khitan ini umum bagi laki-laki dan wanita, hanya saja ada sebagian wanita yang tidak ada pada mereka bagian yang bisa dipotong ketika khitan yaitu apa yang diistilahkan klitoris (kelentit). Kalau demikian keadaannya maka tidak dapat dinalar bila kita memerintah mereka untuk memotongnya padahal tidak ada pada mereka.
Berkata Ibnul Hajj dalam Al-Madkhal (3/396) :
“Khitan diperselisihkan pada wanita, apakah mereka dikhitan secara mutlak atau dibedakan antara penduduk Masyriq (timur) dan Maghrib (barat). Maka penduduk Masyriq diperintah untuk khitan karena pada wanita mereka ada bagian yang bisa dipotong ketika khitan, sedangkan penduduk Maghrib tidak diperintah khitan karena tidak ada bagian tersebut pada wanita mereka. Jadi hal ini kembali pada kandungan ta’lil (sebab/alasan)”.
[Disalin dari kitab Ahkamul Maulud fi Sunnatil Muththarah edisi Indonesia Hukum Khusus Seputar Anak dalam Sunnah yang Suci, hal 110-112 Pustaka Al-Haura]
http://www.almanhaj.or.id/content/800/slash/0
Kamis, 10 Juni 2004 10:11:08 WIB
HUKUM KHITAN BAGI WANITA
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : “Apakah khitan (sunat) bagi wanita itu hukumnya wajib ataukah sunnah yang disukai saja ?”
Jawaban.
Telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya dalam satu hadits, anjuran beliau untuk menyunat wanita. Beliau juga memerintahkan wanita yang menyunat untuk tidak berlebihan dalam menyunat. Tapi dalam masalah ini berbeda antara suatu negeri dengan negeri-negeri lainnya.
Kadang-kadang dipotong banyak dan kadang-kadang hanya dipotong sedikit saja (ini biasanya terjadi di negeri-negeri yang berhawa dingin). Jadi sekiranya perlu dikhitan dan dipotong, lebih baik di potong. Jika tidak, maka tidak usah di potong.
[Disalin dari Kitab Majmu’ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarrah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Albani, hal 162-163, Pustaka At-Tauhid]
HUKUM KHITAN BAGI ANAK PEREMPUAN
Oleh
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta’
Pertanyaan.
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta’ ditanya : “Apa hukum khitan bagi anak perempuan, apakah termasuk sunnah atau makruh?”.
Jawaban.
Khitan bagi wanita disunnahkan berdasarkan keumuman sabda Nabi Shallalalhu ‘alaihi wa sallam bahwa sunnah fitrah itu ada lima, di antaranya khitan. Juga berdasarkan riwayat Khalal dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Khitan itu merupakan sunnah bagi para lelaki dan kehormatan bagi para wanita”
[Fatawa Lajnah Daimah Lil Ifta' 5/119]
SALAHKAH TIDAK MELAKUKAN KHITAN ?
Oleh
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta’
Pertanyaan.
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta’ : “Saya mendengar khatib di masjid kami berkata di atas mimbar bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghalalkan khitan bagi para wanita. Kami berkata kepadanya bahwa wanita-wanita di daerah kami tidak dikhitan. Bolehkan seorang wanita tidak melakukan khitan ?”
Jawaban.
Khitan bagi wanita merupakan kehormatan bagi mereka tapi hendaknya tidak berlebihan dalam memotong bagian yang dikhitan, berdasarkan larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda.
“Artinya : Sunnah-sunnah fitrah itu ada lima ; khitan, mencukur bulu kemaluan, memendekkan kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak”
[Muttafaq Alaih]
Hadits ini umum, mencakup lelaki dan perempuan.
[Fatawa Lajnah Daimah Lil Ifta' 5/119,120]
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita-3 hal 121-122 Darul Haq]
Khitan/Sunat dalam Islam
Postingan ini disarikan dari buku yang saya baca, “Menanti Buah Hati” karangan Abdul Hakim bin Amir Abdat (2001). Saya kira isinya cukup valid, karena bahan acuan dan rujukannya banyak dan lengkap.
FAEDAH KHITAN
1. Mengikuti sunahnya nabi dan rasul.
2. Khitan merupakan salah satu syi’ar dari syi’ar2 Islam yg besar. Jika dalam agama Kristen ada baptis, maka dalam Islam ada khitan.
3. Khitan sebagai pembeda antara yg muslim dan yg bukan muslim, sehingga senantiasa terkait dengan keislaman seseorang.
4. Khitan sebagai kebersihan dari najis dan kotoran.
5. Meng-i’tidal-kan (menstabilkan) syahwat. Ini keistimewaan khusus bagi perempuan, apabila dilakukan dengan benar sebagaimana yg diperintahkan Nabi SAW. Jelasnya, perempuan apabila tidak di khitan maka syahwatnya akan tinggi sekali, sukar untuk diatasi – kalau tidak mau dikatakan tidak dapat diatasi sama sekali. Tetapi apabila di khitan, maka syahwatnya akan melemah dan dia akan dingin terhadap jima’. Sebaliknya, yg tidak dikhitan akan membawa perempuan tersebut menjadi ‘liar’ dan tidak akan pernah merasa cukup ber- jima’ dengan suaminya.
(note: nampaknya cukup menarik sebagai bahan penelitian, ya… supaya bisa dibilang ‘ilmiah’!)
Oleh karena itu, Nabi SAW memerintahkan Ummu ‘Athiyyah, ” Apabila engkau mengkhitan (perempuan), potonglah sedikit bagian kulit/klentitnya dan jangan engkau potong semuanya, karena sesungguhnya yang demikian itu akan mencemerlangkan wajah(nya) dan lebih baik (yakni lebih memuaskan, baik banyak dan nikmatnya) bagi suami.” (dari Anas bin Malik)
Hadis ini telah dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam kitab Silsilah Al Ahaadits Ash Shahihah (jilid 2 no.722) dari beberapa jalan dan syawaahid-nya dari hadis Ali dan Qais bin Dhahak dll. Sedangkan hadis Anas di atas dikeluarkan oleh Ad Dulabiy di kitabnya Al Kuna dan Al Khatib Baghdadiy dalam Tarikh dan Thabraniy di Mu’jam Ausath. Masalah ini dapat diperiksa dalam kitab2 : Fat-hul Baari Syarah Hadits no.5889, Syarah Muslim Imam Nawawi juz 3 hal.148 , lisanul Arab Ibnul Mandzur (1/791), Tuhfatul Maudud bab IX pasal 1.
HUKUM KHITAN
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW sesungguhnya beliau bersabda, “Fithrah itu ada lima perkara: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, menggunting kuku, mencukur bulu ketiak.” (lima perkara ini termasuk bagian fitrah selain masih banyak lagi yg tidak terbatas hanya lima macam)
Hadis ini hukumnya shahih, dikeluarkan Bukhari no.5889, Muslim (1/53), Abu Dawud (no. 4198), Tirmidzi (4/184), Nasa’i (1/13,14,15 juz 8 hal.181), Ibnu Majah (no.292) dan Ahmad (2/229,239,283,410,489).
Al Imam Ibnu Qayyim dalam Tuhfah (bab IX pasal 3) menjelaskan bahwa fithrah ada 2 macam. Pertama fithrah ma’rifatullah (berkaitan dengan hati) yaitu mencintai-Nya serta mengutamakan-Nya lebih dari yang selain-Nya. Faedahnya mensucikan ruh dan membersihkan hati. Kedua, fithrah amaliyah (perbuatan) yaitu beberapa macam yang tersebut di atas. Faedahnya, membersihkan badan. Keduanya saling menguatkan dan melengkapi. Dan ketua dari fithrah badan adalah khitan.
Berdasarkan dalil2 dalam kitab tersebut, maka jumhur ulama seperti Malik dan Syafi’iy dan Ahmad dll mengatakan bahwa hukum khitan itu wajib. Kewajiban ini bersifat umum untuk laki2 dan perempuan, tidak ada perbedaan.
Khitan bagi perempuan telah dilaksanakan pada jaman Nabi SAW berdasarkan beberapa alasan, di antaranya :
1. Berkata ‘Aisyah bahwa telah bersabda Rasulullah SAW “…dan telah bersentuh khitan (laki-laki) dan khitan (perempuan), maka sesungguhnya telah wajib mandi.” (hadis shahih riwayat Muslim juz 2 hal.187 dll). Bersentuh di sini maksudnya jima’, yang berarti baik alat kelamin laki-laki maupun perempuan telah dikhitan.
2. Sabda Nabi SAW kepada Ummu ‘Athiyyah, “Apabila engkau mengkhitan (perempuan)…” (hadis pada masalah pertama)
Hal ini menunjukkan bahwa adanya para pengkhitan perempuan pada jaman Nabi SAW, yang berarti khitan bagi perempuan di jaman tersebut merupakan suatu kelaziman dan keharusan.
WAKTU KHITAN
Bagi perempuan umumnya dilakukan kaum muslimin satu/beberapa hari setelah kelahirannya ( Tuhfatul Maudud bab IX pasal 5 dan 6, Fat-hul Baari’ no.5889).
BERKHITAN KETIKA DEWASA
Apabila seorang laki-laki atau perempuan belum ber khitan sampai umur dewasa atau tua disebabkan belum mengetahui hukum wajibnya atau dia baru masuk Islam, maka kewajiban khitan tetap ada padanya dan tidak gugur selama dia mampu melakukannya ( Tuhfatul Maudud bab IX pasal 11 dan 12).
Dalil dalam masalah ini adalah hadis tentang Nabi Ibrahim yang ber khitan pada usia 80 tahun dengan alat yang biasa dipakai tukang kayu (dari Bukhari Fat-hul Baari’ no.3356 dan 6298 dan Muslim (juz 7 hal.97). Jika tidak wajib tentu Allah SWT tidak akan perintahkan kepada hamba-Nya yang telah demikian tuanya.
Kelahiran Kedua
01/12/08
Waktu awal hamil sih senang juga, soalnya nggak pakai mabok seperti waktu yang pertama dulu. Paling eneg-eneg doang plus mual. Secara kalau pakai teler, gimana mau momong si Naren. Tapi sempet kepikiran juga; dulu pas Naren, hamilnya susah tapi lahirnya gampang (banget), yang ini hamilnya gampang tapi jangan-jangan lahirnya susah. It can’t be this easy. Bukannya suudzon sama Allah, tapi kayaknya kok keenakan gue. Hehehe. Ternyata benar.
Mungkin karena kecapean juga karena si mbak nggak masuk, hari Selasa itu [18/11] perut mulai terasa kenceng-kenceng. Malemnya googling cari artikel tentang tanda-tanda melahirkan, eh ternyata memang itu salah satu tandanya. Haduh, pegawai lagi cuti dan nyokap belum diimpor pulak. Bener dah, besokannya keluar deh itu flek setelah malamnya perut terasa tegang kira-kira setiap 2 jam. Langsung deh, telpon nyokap minta untuk datang kesini naik pesawat paling pagi. Untung dapat tiket. Laki juga mau pulang cepat setelah makan siang. Waktu itu sudah feeling, kok sekarang ada kontraksi nih (dulu pas Naren nggak ada, jadi diinduksi) kayaknya bakalan beda sama yang dulu. Mana dokternya praktek pagi. Jadi kalau periksa sore ke ruang bersalin, nggak ketemu dokternya gimana tuh. Pasti treatment-nya bakal beda. Tapi kalau pagi ke dokter terus langsung disuruh masuk ruang bersalin, gimana Naren, mau dititipin siapa. Pasrah deh… Siangnya laki pulang, lalu nggak lama nyokap datang. Mau periksa ke dokter tapi ngantuk. He. Setelah ngelonin Naren maksud hati pengen ikut tidur, tapi nggak bisa tidur juga. Akhirnya setelah Ashar mandi dan siap-siap ke RS. Mau berangkat sebelum Naren bangun tapi ternyata keduluan. Untung sudah ada nyokap, jadi pas kita berangkat dia cuma mewek bentar trus da-da-da-dah.
Di RSPC/HC, masuk ke ruang bersalin diperiksa bidan ternyata baru bukaan 2, kontraksi tiap 5-7 menit sekali. Boleh pilih mau tunggu di rumah atau di RS. Tunggu di RS kayaknya praktis, tapi di ruang bersalin lagi nggak ada pasien lain. Mana laki juga nggak mau kalau nunggu di situ, misalnya lahirnya besokan paginya masa kudu nunggu duduk ngantuk di tempat duduk lipat yang nggak nyaman. Jadi dia mau balik, nanti kalau ssudah dekat waktunya baru dipanggil. Ih, kok enak. Bete amat sendirian, nggak ada tv juga, mau baca-baca sambil mules juga males. Dokterku juga nggak available kalau pasiennya melahirkan malam, jadi pasti ditangani dokter kandungan penggantinya. Mengecewakan juga, tapi yah… Bagaimana lagi kalau jadwal lahirnya digariskan malam hari? Mungkin karena beliau ssudah berumur kali ya. Jaga kondisi, kata bidan. Ya sudah, akhirnya kita putuskan tunggu di rumah aja. Balik deh…
Sampai di rumah masih bisa ditahan tuh mules-mules sampai kira-kira jam 9-an malam. Pas ngelonin Naren ssudah mulai ‘berasa’ tuh kontraksi. Haduh, bakalan tengah malam nih. Bener lagi, menjelang jam 10-11 malam, kontraksi sudah mulai ampun-ampunan. Hadoooh, bener-bener gulung koming deh. Baru dah berasa yang namanya ‘sakit melahirkan’ seperti pengalaman ibu-ibu lain. Beda banget sama yang dulu. Pas Naren itu padahal diinduksi, tapi mulesnya nggak ada apa-apanya bangets deh, cuma kayak mules mau pup. Kira-kira skala 1 – 10, Naren dulu 1, si Rayyan ini 10! Bedanya bumi dan langit. Perut mules sih masih tahan, tapi yang nggak tahan sakit di ruang tulang belakang, tulang ekor dan pinggang. Nggak bisa digambarkan dengan kata-kata… Mau nggak mau ‘aduh-aduh’ juga. Padahal dulu pas Naren nggak ada sama sekali ‘aduh-aduh’; bidannya sampai heran dan menawarkan, “Ibu, kalau mau ‘aduh-aduh’ nggak apa-apa kok.” Hla, kalau nggak ‘sakit’ apanya yang mau di-aduh-in? Untung juga di rumah. Kebayang juga kalau nunggu di RS terus ‘aduh-aduh’ gitu rasanya malu juga sama suster dan bidannya ;P
Akhirnya setelah sekitar 1 – 2 jam berperang dengan rasa mules, menjelang jam 12 mulesnya menghebat dan mulai berasa ada yang mendorong keluar. Ganti posisi segala macam supaya agak enak, praktekin nafas untuk mengurangi rasa sakit, tapi nggak ngaruh, jack… Tapi karena nggak ada darah, jadi masih mikir mau bertahan di rumah. Tapi sampai kapan nih? Jadi jam 12 malam, mulai siap-siap ke RS. Laki dibangunin setelah kira-kira tidur agak lumayan lama. Setelah mbangunin nyokap untuk jagain Naren, berangkatlah kita ke RS di tengah malam hujan dan rasa mules yang luar biasa… Wadow, dramatis banget deh. Untungnya nggak macet. Di mobil juga sudah ‘setengah-mati’ nahan rasa sakitnya. Sampai di RS rasanya sudah nggak sanggup jalan ke ruang bersalin, tapi kirain bukaan masih 7 atau 8, jadi aku nggak naik kursi roda dan jalan aja. Maksudnya supaya cepat bukaan. Kalau sakit berhenti dulu, begitu kontraksi mereda langsung jalan lagi. Mana sampai ruang bersalin ruangan kosong melompong. Mungkin karena nggak ada pasien jadi pada tidur kali yah. Laki langsung ke belakang cari orang, aku masuk ke tempat tidur. Nggak lama datang bidan Ketut yang langsung nyuruh ganti baju sebelum meriksa, tapi sempet nanyain status dan kartu pulak. Dan ternyata bukaan sudah lengkap bo… Ya ampyun banget deh. Ngepas amat si datangnya, begitu mungkin pikir mereka. Aku juga nggak nyangka kalau sudah lengkap. Tadi takut ngejan karena kalau belum lengkap kan belum boleh ngejan. Begitu tau, ya ngejan aja deh secara tekanan dari dalam juga sudah kuat banget mendorong keluar, sementara bidan dan suster kelabakan telpon dokter pengganti, siapin ruang bersalin dan alat-alat. Ternyata malah ketuban pecah menyembur sembari didorong ke ruang bersalin. Hahaha. Begitu masuk ruangan, eh masih diminta pindah ke ranjang bersalin tapi ya jelas sudah nggak sanggup lah. Aku ngaduh dan ngejannya saja sudah asal-asalan, sampai ‘dimarahin’ karena ngejannya bersuara. Kalau sudah begitu lupa deh segala macam teori ngejan, teori nafas dan posisi bersalin. Halah! Sama bidan masih nafas terus ngejan, 3x keluar deh itu anak… Alhamdulillah… Luega banget rasanya. Langsung hilang itu semua rasa sakit, ajaib. Prosesnya cepat banget, mungkin nggak ada 5 menit. Dokternya belum lagi datang. Jadi cuma ditangani sama bidan-suster 3 orang. Mau IMD tapi kok persiapan belum matang. Laki nyusul suster ke ruangan lain untuk bersihin bayi, cap kaki, urus kamar, dll. Dokternya datang terus jahit guntingan episiotominya dengan bius lokal, sambil ngobrol pulak. Kebayang nggak siiih… Clekit-clekit plus malu deh. Apa yang berikutnya ganti dokter cewek ya
Dulu pas Naren kan setelah induksi langsung disuntik tidur, jadi begitu lahiran langsung tidur nyenyak, dijahit ya nggak berasa. Pokoknya pas Naren dulu enak banget deh dan minim rasa sakit (mules). Tapi karena tidur jadinya ya nggak IMD. Setelah beres aku dijahit, dibersihin dan diselimutin datang deh itu bayi untuk disusuin pertama kalinya… Maksudnya sih IMD, tapi sayang bayinya udah dibersihin. Tapi ya nggak apa-apa deh daripada nggak sama sekali, yang penting bayinya masih dapat kolostrum dan masih dalam 1 jam pertama semenjak lahirnya. Naren dulu baru disusuin besokan harinya ;( Sukses menyusu dan menyusui pertama, jam 3 baru istirahat di kamar… Selesailah masa kehamilan dan kelahiran, selamat datang masa ngantuk dan begadang… Hehehe…
Welcome to the world, Rayyan!
PS: Besoknya baru dokterku datang kontrol… Ternyata memang kata beliau, semakin lama proses kelahiran itu semakin sakit (mulesnya) tapi semakin cepat juga lahirnya. Mungkin besok yang ketiga cuma satu menit kali ya proses lahirnya, tapi mulesnya itu nggak kebayang! Lebih mules dari ini? Oh, No!
It’s a Baby Boy!
30/11/08
Wah… Ini baru namanya manusia berusaha, Tuhan menentukan… Ternyata anak gue cowok lagi… Hehehe… Padahal… Hamilnya beda banget sama yang pertama. Dulu pas Naren; males mandi, males keramas (tunggu gatel baru keramas. ih, jorok!) males dandan, males jalan, seneng tidur, bentuk perut kayak telur… Yang ini serba kebalikan; ga mabok (alhamdulillah), mandi 3-4x sehari (gerah!), seneng centil, seneng jalan-jalan, perut juga ga oval (katanya siy biasanya,cewek)… Katanya (katanya lho)… Halah, ga akurat. Selalu ada anomali. Pas gue yang dapet anomali… Hehehe… Bikinnya udah pas hari ke-12 tapi tetep aja jadinya cowok… Hahaha… Padahal temen bikin hari ke-13, jadinya bener cewek! Rayyan tgl 20 Nov, dia tgl 21 Nov! Kata mertua kalo anak cewek, lahirnya maju. Nah ini udah maju 2 minggu dari perkiraan, malah masih 38 minggu udah lahir, eh cowok juga. Nah lho… Bener Allah itu Maha Kuasa….
Tapi ternyata tetep happy juga pas liat si Rayyan… Walo ngantuknya itu sungguh tidak lucu… Hehehe…
Tumben… (Heboh ‘SP’)
5/11/08
Yah… Daripada nggak ada yang ditulis nih…
Setelah sekian lama nggak ngecek blog-stat… Eh, tumben ada yg nyasar ke posting “Tentang Rasulullah Menikahi Aisyah…” Pasti gara-gara kasus SP itu deh, jadi ada yg penasaran… Nggak ngerti deh, tau sendiri Indonesa’ negara yang begenong, eh nekat juga ngawinin perempuan 12 tahun… Ya hueboh laah… Kalo menurut hukum agama, mungkin dia nggak salah; tapi secara kan dia tinggal di Indo, yang bukan negara Islam dan punya hukum pernikahan sendiri… Yaa… Mau nggak mau karena dia tinggal di Indo kudu ngikutin hukum Indo, jadi lah secara hukum dia salah karena si penganten masih di bawah umur… Heran juga sih, apa nggak ada cewek berumur yang bisa dikawinin apa ya, sampai harus nikahin ABG. Apa ABG di sini juga matang secara psikis–siap menikah?
Tapi kalo menurut aku, nggak bijaksana juga sih kalo langsung meng-judge dia pedofil… (pengantennya udah mens kan?) Would you call our prophet like that coz marrying 9-yo girl? (untuk bisa disebut pedofil ada kriterianya menurut DSM) Secara di desa-desa Indo sendiri, begitu anak perempuan baligh langsung dinikahkan… Si bibik pegawai aku juga pas nikah umurnya baru 14 tahun. Kudunya suaminya bisa didakwa melanggar hukum karena menikahi si bibik di bawah umur tuh! Bukan hanya terjadi jaman mbiyen (jadul), bahkan sampai saat ini loh! Contohnya mertua bibik aku yg resah karena anak perempuannya yang baru 15 tahun kelas 1 SMA sampai sekarang belum mau nikah juga (padahal yang melamar banyak). Katanya udah perawan tua! Weleh-weleh… Kebayang nggak sih, kita dulu pas umur 15 tahun disuruh nikah? Menurut bibik aku; kalo di kampung, perempuan umur segitu sih emang biasanya udah nikah… Tuh, kan… Kalo gitu banyak dong yang mesti dipenjara gara-gara menikahi perempuan di bawah umur!Kenapa mesti heboh sama si SP ini sih? “Emang siapa sih dia (sampai menimbulkan kehebohan ini)?!” protes seorang rekan di milis. Embeeerrr…
Above of all; di luar isu kesehatan reproduksi, hak-hak anak, hukum pernikahan di Indo, Nabi SAW dan Aisyah… (Heeiii… Jangan bandingin sama istri Nabi dong! Kalo Nabi memang manusia bejat, masa iya beliau dijadikan Nabi dan disuruh jadikan teladan pulak sama Allah–Sang Pencipta kita?!) Kalo si perempuan udah mens (siap secara biologis), siap secara mental (untuk berumah tangga), mau nikah ya silahkan… Wong udah siap ini?! Kalo udah siap nikah dan bisa nikah hukumnya kan jadi wajib untuk nikah. Lihat aja kasus-kasus anak SD yang terlibat perkosaan setelah nonton BF. Kalau dipikir, emang mereka masih SD. Tapi kalo udah baligh dan punya dorongan seksual? Ya jadi’ juga deh…
Lalu… Mungkin (mungkin lho… maaf kalau salah, jangan tersinggung), perempuan desa dan kota beda. Kalau di desa, menurut si bibik memang anak perempuan itu ‘disiapkan’ untuk menjadi istri… Jadi begitu mens… Ya dikawinin… Bukan seperti anak perempuan kota yang dididik untuk sekolah tinggi, menggapai cita-cita, dapat kerjaan bagus, baru menjadi istri… Iya, kan. Jadi kesiapan mentalnya mungkin beda juga. Aku dulu kalo umur 15 tahun disuruh kawin juga pasti bakal stres kalee… Tiap hari nangis bombay. Karena nggak kebayang harus berumah tangga dan punya anak, sementara masih ingin sekolah, main, bergaul dan lain-lain. Sementara si bibik; memang nggak bercita-cita demikian, jadi ya siap aja nikah dan punya anak umur 14 tahun, apalagi karena sejak awal memang sudah disiapkan untuk itu.
Jadi… mestikah kita heboh sama si SP ini?




Comments