Posts from the ‘Uncategorized’ Category

renares.wordpress diblokir!


25/03/16

Yeay! Alhamdulillah renares.wordpress sudah aktif lagi. Beberapa hari ini blog nggak bisa diakses. Kirain aplikasinya error. Coba re-install sekian kali masih nihil. Coba buka di browser eh ada pengumuman kalau blog ini diblokir karena melanggar terms of service! Menurut user guidelines, bisa disebabkan karena ada illegal content/conduct dalam materinya. Sebelah mananya dari blog ini yang isinya demikian cobaa.. Adoi..

Buru-buru dong send error report ke wp.. Alhamdulillah, nggak lama dibales, katanya sudah di-review lagi dan blog ini boleh aktif kembali.

Your site was mistakenly flagged by our automated anti-spam controls.

Komentar saya cuma, “kok bisa siyh…”

Ustadz, Aku Ingin Poligami


15/03/16

Copas dari:
http://www.fotodakwah.com/2016/01/catatan-kajian-ustadz-aku-ingin.html?m=1#ixzz42vhlD0bX

• • • • •

Ustadz… Aku Ingin Poligami
Oleh: Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah

Agama Islam adalah agama yg sempurna, agama yang sesuai dg fitrah manusia, agama yang tidak memberatkan manusia. Poligami bukan syariat baru, karena umat-umat sebelumnya berpoligami. Islam datang untuk membatasi. Islam menyempurnakan. Seperti hal-nya perbudakan, sebelum Islam ada, perbudakan sudah ada. Poligami adalah syariat Allah dan sunnah Rasul.

Ukuran kebaikan seseorang adalah takwa kepada Allah, bukan yang istrinya banyak. Hukum poligami adalah sunnah.
Perintah Allah itu dibagi dua ada yg dicintai manusia dan ada yang tidak dicintai manusia. Menikah adalah perintah yang dicintai oleh laki-laki dan perempuan, tapi poligami tidak dicintai oleh wanita. Di dalam poligami ada dua perintah yaitu perintah utk menikah dan perintah utk berbuat adil.

An Nisa 3
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Jumhur ulama tentag perintah poligami hukumnya adalah diperbolehkan, hukumnya bisa jadi wajib apabila dia takut berbuat zina. Sesuatu yang mubah akan menjadi baik dengan niat yang baik, niat ingin punya anak-anak yang sholeh.
Poligami indah akan tetapi banyak yang merusaknya sehingga menganggap sesuatu yang jelek.

Ibnu Abbas: sesungguhnya umat yang paling baik adalah yang banyak istrinya. Makna kalimat itu adalah apabila ada dua orang sama-sama baik ibadahnya, shalatnya baik dll tapi yang satu memiliki istri satu yang lain memiliki lebih dari satu, maka menurut Ibnu Abbas yang nomor dua lebih baik. Makna lain kalimat tersebut adalah yang terbaik adalah Rasulullah. Pihak yang merasa sengsara terhadap poligami adalah wanita, rasa berat tersebut adalah hal yang wajar, seperti lelaki membenci jihad-berperang di jalan Allah. Ini adalah hal yang wajar, tapi jangan membenci hukum poligaminya.

Zaman sekarang ini kalau ada orang ke tempat pelacuran itu merupakan hal yang biasa tapi kalo org berpoligami langsung heboh – dianggap salah berat.
Para sahabat Rasul yg dijamin masuk sorga semua berpoligami. Mana manusia yg lebih baik dr Rasul dan para sahabat. Dalam satu waktu maksimal hanya 4 istri.
Abu Bakar istrinya 5 (tdk dalam waktu yg sama).
Utsman bin Affan istrinya 8 (tdk dalam waktu yg sama).
Umar bin Khattab istrinya 4 (tdk dalam waktu yg sama)
Ali bin Abi Thalib istrinya 9 (tdk dalam waktu yg sama).

Poligami di luar Islam, menurut non-muslim, tidak dilakukannya poligami maka akan membuat jumlah wanita lebih banyak dan perzinahan lebih banyak.

Penyebab sedikitnya poligami:
1. Aturan yg memberatkan disuatu negeri, di Indonesia, Tunisia.
2. Banyak orang yang tidak mengerti agama, orang lebih memilih ke tempat pelacuran daripada poligami.
3. Pendidikan sekolah dan media yang merusak, banyak sinetron bercerita tentang suami yang tidak adil dalam berpoligami.
4. Adanya lelaki yang gagal berpoligami, sering dijadikan alasan oleh wanita.
5. Gaya hidup masa kini, kalo dulu kakek-kakek kita menikah lagi, nggak ada masalah. Kalau sekarang ada yang poligami, langsung disebar di medsos.

Syarat2 poligami :
1. Mampu fisiknya, jgn org yg sakit2an poligami.
2. Mampu secara financial, suami harus memberi nafkah kpd istri2nya.
3. Mampu berbuat adil dan me-manage rumah tangga, hrs bisa management conflict. Adil adalah menempatkan sesuatu pd tempatnya, bukan sama rata.

An Nisa 129
وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Yg dimaksud ayat diatas adalah dalam hal cinta maka manusia tdk mampu berbuat adil, kadang lebih condong kpd yg satu. Contoh : kita punya anak 3 maka pasti kita akan lebih mencintai salah satu diantaranya karena mungkin dia penurut dll, bukan artinya tdk cinta dg yg lainnya. Jadi laki2 yg berpoligami harus adil dalam hal yg lainnya, yaitu waktu menginap, memberi nafkah.
Laki2 hrs adil dlm semua hal yg dia mampu utk adil.

At Talaq 6
أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ ۚ وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۖ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ ۖ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَىٰ

“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.”

Kecemburuan para istri2 adalah wajar sampai2 istri2 Rasul jg cemburu dg yg lainnya, Aisyah cemburu kpd Khadijah padahal mereka tdk pernah bertemu. Ketika di rumah Aisyah , Rasul menerima makanan dr istri yg lain dan Aisyah melempar piring tsb, tapi Rasul tdk marah malah berkata kpd para tamunya bahwa Ibu kalian sedang cemburu, dan akhirnya Aisyah sadar.

Menolak hukum poligami adalah haram. Wanita yg minta cerai pd laki2 yg berpoligami adalah berdosa. Tapi apabila wanita minta cerai sama suami karena suaminya setelah poligami, tdk mampu adil atau wanita itu takut tdk kuat, maka boleh hukumnya.
Boleh hukumnya menikah lagi karena alasan kebutuhan seks, jauh lebih baik poligami dibanding berzina.
Dalam poligami tidak dituntut adil dalam cinta, dalam hal lainnya harus adil. Orang yg berpoligami dg sabar maka akan memperoleh pahala kesabarannya.

Rekaman kajian berikut dapat dilihat:

Posted from WordPress for Android

Menghadapi Khilafiyah


14/09/15

Ketika saya bingung tentang sesuatu hal dalam agama, ada yang membolehkan, ada yang tidak; begini jawaban dari guru saya:

Hampir di semua hal dari yang sepele hingga serius, ada perbedaan pendapat (khilafiyah). Jadi usahakan keluar lah dari khilafiyah itu. Caranya: ikuti hadits yg shahih, adakah sahabat melakukannya.

Bagi yang mengamalkan insyaAllah mendapatkan pahala, karena haditsnya shahih. Bagi yang tidak mengamalkan, itu pilihan mereka untuk tidak mendapatkan pahala dari mengerjakan sunnah. Simple saja, kan?

Living in KL: Yay or Nay?


28/09/14

Absolutely “Yay” lah yaa.. 😀

Major point tentu karena lokasinya yang dekat dengan tanah air. Mana tiketnya murah lagi. Bayangkan, sampai dengan bulan ini, saya sudah 4 kali mudik, sodara-sodaraa.. Bulan depan ada term break bakal mudik lagi.. Jiahahahaa.. Kebetulan juga kok pas banyak urusan di tanah air, jadi sering mudik deh.. Contohnya kemarin perpanjang SIM. Maklum supir, lesen kudu aktif. Kebayang deh kalau masih di Abud, nggak mungkin banget pulang jauh-jauh buat perpanjang SIM doang.. Relain aja mati itu SIM-nya 😀 Padahal kalau udah kelewatan, harus bikin baru lagi.. Capedeeh..

Well, makanya ekspat kita di sini pada betah-betah, yaa.. Jarang yang cuma 1-2 tahun, kecuali kontrak memang sudah habis. Kerasa banget sih sebabnya. Malahan teman-teman yang rumahnya di Jakarta, kadang kalau lagi kangen, wiken aja mudik.. Ckckck.. Udah ibarat pekerja long distance deh, yang kerja di Jakarta, wiken pulang ke rumah di luar kota. Sama-sama perjalanan 2 jam aja naik pesawat, kan. Tapi gaji dollar lho.. Hihihi..

Jadi setelah puas bertualang di gurun pasir, bisa dipertimbangkan pindah ke sini untuk waktu yang agak lama. Apalagi bagi yang suka homesick 🙂 Saya doakan semoga bisa pindah kerja ke negeri tetangga ini. Tapiii…di manapun negaranya, asal berkumpul bersama keluarga adalah yang terbaik. Setuju?

Tentang Jilbabisasi


Seperti yang saya copas dari artikel “Kerudung oh Kerudung!”
 

Mengapa harus berkerudung dan mengapa tidak harus berkerudung?

 
Bunga Eidelweiss (saya tidak tahu apakah ini nama aslinya, tapi kami sudah kopi darat setelah melalui perkenalan di fesbuk, teman dari seorang teman yang saya kenal di kampus), teman saya seorang gadis Melayu Malaysia, menyatakan dalam statusnya dengan berani kira-kira begini bunyinya, ”Memaksakan seseorang untuk menggunakan jilbab, sama buruknya dengan melarang orang menggunakan jilbab.”

Komentar yang panjang lebar dari banyak orang, termasuk saya, bertubi-tubi pada statusnya. Beberapa kalangan mengecam cara pandangnya, beberapa yang lain mendukung cara pandangnya. Saya sendiri termasuk yang mendukungnya. Bagi saya, segala sesuatu yang dipaksakan selalu berpotensi untuk berdampak buruk. Terutama jika dalam budaya setempat, ada cara-cara lain yang telah berabad-abad menjadi tradisi dalam mengenakan pakaian.

 
Tidak lama kemudian dalam suatu grup eksklusif yang ada kata Pluralis-nya dan kata Bhinneka-nya, selama seminggu terakhir bertubi-tubi beberapa anggotanya (yang juga sebagiannya ternyata adalah adminnya) menurunkan pernyataan-pernyataan dan semacamnya yang mengecam ”Jilbabisasi” antara lain sebagai perusak kebudayaan Indonesia yang orisinil.  Sementara itu, suatu Jumat pada bulan lalu (Maret) kalau tidak salah koran Republika menurunkan artikel-artikel khusus mengenai kewajiban jilbab. Yang pertama melihat dari sisi ”budaya” atau hak-hak individual dalam berpakaian dan yang lain melihat dari sisi ”syariat agama”. Keduanya tidak mungkin dapat dipertemukan. Saya ingat samar-samar bahwa salah satu dosen saya di The Islamic College, menyatakan adanya peraturan wajibnya wanita baik muslimah maupun bukan muslim mengenakan jilbab (atau menutup kepala dan rambut) saat berada di ranah publik di Iran antara lain karena menutup aurat dipandang tidak lagi dipandang sebagai persoalan hak individual, tetapi juga hak-hak bersama sebagai komunitas bahwa setiap individu memiliki kewajiban untuk menjaga ketertiban dan ketenteraman dalam masyarakat, sedangkan menutup aurat dalam syariat Islam bertujuan untuk menjaga kehormatan, maka ia kemudian diperundangkan dalam tatacara berpakaian di negara tersebut – kira-kira begitulah yang saya tangkap dari syarahan beliau.

Saya menduga, dan hanya bisa menduga, bahwa tradisi masyarakat di negeri-negeri yang mewajibkan berkerudung dalam memandang ”menjaga kehormatan” sejak semula memang sangat berbeda dengan cara pandang masyarakat di belahan dunia lain yang memiliki cara khas masing-masing dalam menutupi tubuh maupun kepalanya. Maka di sinilah terjadinya ”benturan budaya” sekaligus ”benturan peradaban” yang tidak akan pernah ada habisnya.

Di dalam hal ini, saya tidak akan membahasnya dari sisi letterlijk atau harafiah tuntutan menutup aurat dalam agama Islam. Saya hanya berusaha menampilkan tulisan ini berdasarkan fenomena yang terjadi.
 
Kalangan yang mengecam jilbabisasi, mencurigai arabisasi di berbagai bidang, khususnya dalam berpakaian, dan menganggap pemaksaan jilbab merupakan adanya budaya yang melanggengkan patriarkat dan menggerus hak-hak perempuan dalam mengeksplorasi tubuhnya; Sedangkan kalangan yang mengkampanyekan jilbab,  terbagi, antara (1) yang berupaya memadukannya berusaha memenuhi tuntutan sesuai syariat yang diyakininya dengan tetap mengggunakannya dengan memodifikasi mode jilbabnya sesuai budaya lokal, serta (2) yang sepenuhnya menganggap syariat Islam yang benar adalah menutup aurat dengan niqab atau cadar dan budaya Indonesia adalah budaya buatan manusia yang tak perlu ditaati/diikuti. Perintah Allah tentang jilbab sama sekali tidak bisa diganggugugat.

Barangkali – dan ini benar-benar barangkali – sekitar 90 hingga 95 persen ulama atau rohaniwan Islam yang menyatakan bahwa menutup aurat dengan menggunakan jilbab bagi wanita muslim itu hukumnya adalah wajib, sedangkan sisanya menyatakannya sunnah.

Tetapi, masalah kerudung bukan semata-mata pengalaman masyarakat Muslim. Berikut ini saya kutip tulisan ”Jilbab dalam dunia Kristiani” oleh: Nathan Adam Abu Kheir, seorang penganut Kristen Ortodoks, yang diterjemahkan secara bebas oleh Chen Chen Muthahari (saya).

Merupakan kemunafikan bagi kalangan Kristen dan anak-anak sekuler mereka untuk menstereotipekan gagasan-gagasan Islami dan kaum Muslim mengenai feminitas dan penggunaan penutup kepala dll apabila ia ternyata merupakan tradisi kita sendiri. Beberapa tulisan-tulisan Patriarkis:

Ia telah diperintahkan bahwa kepala harus dikerudung dan wajah ditutup. Sebab ia adalah kejahatan bahwa kecantikan dapat menjadi jeratan bagi kaum pria. Juga tidaklah layak bagi seorang perempuan untuk berkeinginan tampil menyolok dengan menggunakan kerudung ungu (Clement dari Alexandria/Iskandariah, Bapa Gereja Awal, 195 M)

Jika kamu berada di jalanan, tutuplah kepalamu. Dengan mengerudungi itu, kamu dapat terhindar dari dilihat oleh orang-orang liar…Tundukkanlah wajahmu tatkala berjalan di khalayak umum, mengerudungi dirimu sendiri, sebagaimana menjadi seorang perempuan –  Konstitusi Apostolik (kompilas 390 M)

Kerudung semacamnya itu haruslah dikenakan dan adalah penting menutupi wajah seorang perempuan (Clement dari Alexandria, Bapa Gereja Awal, 195 M)

Dengan alasan apapun tidaklah dibenarkan seorang perempuan tidak ditutupi dan menampakkan bagian-bagian dari tubuhnya, janganlah sampai keduanya terjadi – kaum lelaki akan jadi terhasut untuk memperhatikannya, dan kaum wanita memikatkan dirinya sendiri ke hadapan mata para pria – (Clement dari Alexandria, Bapa Gereja Awal, 195 M)

Berkerudunglah wahai gadis perawan, jika kamu benar-benar perawan. Sebab kau pasti akan tersipu-sipu malu. Jikalau kamu perawan, ciutkanlah dari pandangan banyak mata, jangan biarkan seorang pun mengagumi wajahmu. Jangan biarkan siapa pun mengetahui keburukanmu. – [Tertullian (198 M) di dalam ungkapan ini ia juga mengargumentasikan bahwa berkerudung bukan hanya untuk wanita bersuami tapi juga para gadis perawan]

Ia mewajibkan para gadis perawan kita untuk berjilbab dari waktu ke waktu bahwa mereka telah melewati titik balik dari usia mereka. Ketaatan ini diperlukan bagi Kebenaran (Tertulillan, 207 M)

Pakaian yang mewah yang tak dapat menyembunyikan bentuk tubuh bukanlah pakaian (yang menutup aurat). Sebab pakaian semacam itu, tampil ketat di tubuh, memperlihatkan bentuknya dengan mudah. Menempel di tubuh seolah ia adalah daging, ia memperoleh bentuknya dengan garis-garis pada bentuk sang perempuan. Sebagai hasil, seluruhnya membuat tubuh tampak jelas bagi yang mengamati, meskipun mereka tidak melihat tubuh itu sendiri. (Clement dari  Alexandria,  195 M)

Perempuan pada sebagian besarnya bersepatu. Sebab tidaklah pantas mereka bertelanjang kaki. Lagipun, perempuan adalah makhluk yang lembut, mudah tersakiti (Clement dari Alexandria 195 M)

Perempuan dan laki-laki haruslah ke gereja dengan pakaian yang sopan, dengan langkah yang alami, mencakup keheningan….Biarkan perempuan menaati ini, lebih jauh lagi: Biarkan mereka secara penuh terselubung, kecuali dia berada di rumah. Bahwa gaya berpakaiannya adalah serius dan melindunginya dari ditatap. Dan dia tidak akan pernah jatuh (dalam dosa), bagi yang memandang matanya dengan sederhana dan kerudungnya. Juga tidaklah ia akan jatuh ke dalam dosa dengan menutupi wajahnya. Sebab ini adalah harapan dari Sang Kalimat, sejak ia menjadikan baginya bersembahyang dengan berkerudung.(Clement dari Alexandria 195 M)

Pertama-tama, kemudian, para saudari yang diberkati, hendaklah kamu mengindahkan bahwa kamu tidak menerima untuk mengenakan sesuatu yang mencolok perhatian dan mengenakan dan berpakaian cabul. (Tertullian 198 M).

[Lihat:(http://natebookexodus.blogspot.com/2011/01/early-christian-hijab.html)%5D
 
Lebih jauh lagi, masyarakat Yahudi, khususnya kaum Ortodoks Yahudi seperti kaum Hasidic, juga menganjurkan kaum wanitanya, terutama yang sudah menikah, untuk mengenakan kerudung yang lazim disebut “tichel” bagi kaum wanitanya. Cara berpakaian sangat diatur dalam kalangan Yahudi, yaitu “tzniut”, yang antara lain laki-laki maupun wanita dianjurkan atau bahkan wajib menutup kepalanya. Dalam sejarah, mereka yang berhijrah ke negeri-negeri yang memiliki kecenderungan anti-Semit, mau tidak masyarakat Yahudi-nya bertaqiyah dengan memodifikasi cara berpakaian mereka, apakah mengenakan topi atau memakai wig bagi wanitanya. Melihat model atau gaya “tichel” yang sederhana, kita bisa memastikan bahwa cara-cara menutup kepala, khususnya bagi perempuan, bukanlah pengalaman atau budaya yang khas Timur Tengah saja.

Sebagai contoh, di India dan di China, suku-suku di pedalaman terpencil mereka banyak yang “mewajibkan” penutup kepala bagi wanitanya padahal agama atau keyakinan mereka bukan Islam, Kristen atau Yahudi. Sangat menarik, mengapa wanita-wanita suku-suku di pedalaman itu juga mengenakan tutup kepala yang khas, dan unik, yang menutupi rambut indah mereka?

Tampak yang paling mengherankan, adalah orang-orang yang mengkritik keras jilbabisasi dan menyayangkan hilangnya budaya lokal Indonesia, dalam waktu yang sama tidak mengkritik cara berpakaian wanita masa kini yang mengenakan kaos you can see berpadu blazer, rok mini berpadu stoking, atau kaos kasual berpadukan celana jins dsb yang sama sekali bukan pakaian asli nenek moyang Indonesia. Kalau memang mereka jujur, dan memang mereka benar-benar mencintai budaya Indonesia yang orisinil seperti yang mereka gembar-gemborkan, saya hendak melihat mereka mengenakan kebaya dan batik sehari-hari, atau pakaian adat daerah mereka masing-masing dalam kesehari-harian mereka, entah itu pakaian ala Kalimantan yang menarik, songket yang berwarna-warni, pakaian ala Papua, atau yang lainnya.
 
Sejauh ini kalangan Kristen, khususnya Ortodoks, mengakui bahwa penggunaan kerudung yang saat ini masih wajib dikenakan saat memasuki gereja, adalah tuntutan liturgi atau tata cara ibadah mereka. Dan ini, sama dengan kaum muslim yang jika hendak sembahyang harus menutupi auratnya, dalam hal ini perempuan wajib mengenakan selubungnya (baca: mukena, kalau di Indonesia).  Di negara-negara Timur Tengah, barangkali tidak ada mukenah karena di sana wanita sudah otomatis mengenakan pakaian yang memenuhi syarat untuk langsung melakukan sholat. Sementara itu di kalangan Katolik, beberapa biara tradisional masih memiliki aturan berpakaian bagi para biarawati, yaitu “habit of a nun” yang merupakan “sign of consecration”. Dalam hal ini, kalangan yang mengecam jilbabisasi, menganggap para biarawati berhak memakai jilbab karena berbagai alasan, seperti bentuk dari pengabdiannya yang membedakannya dari orang awam. Apapun itu, bagi mereka, adalah sangat sangat berbeda jika kaum muslimah yang awam pun diwajibkan berjilbab.

Berikut ini adalah tanggapan-tanggapan pribadi saya tentang “kerudung” atau “jilbab” sebagaimana yang tertuang dalam (yang saya telah edit) http://www.facebook.com/note.php?note_id=494080224418&comments

Bagi saya terdapat makna-makna spiritual dalam level lahiriah maupun batiniyah dalam hal menggunakan kerudung bagi seorang perempuan, terlepas apakah itu dianggap sebagai sesuatu wajib, sunnah atau tidak perlu; Namun, bagi yang tidak pernah mengenakannya dan tidak mengenakannya dengan Kesadaran (di sini maksudnya adalah Consciusness, bukan semata-mata memahaminya sebagai kewajiban atau soal syari’i),  kemungkinan tidak akan pernah mampu menjangkau/memahaminya. Hal ini pernah disampaikan juga oleh Sister Gerardette Phillips dalam salah satu kuliahnya mengenai seorang biarawati santo yang berkerudung dalam suatu lukisan. Dalam tradisi sufi, terkait dengan Bunda Maria  yang senantiasa muncul dalam rupa berkerudung pada lukisan-lukisan tradisional, hal ini bukan hanya secara tradisi beliau alaihissalam mengenakan kerudung secara fisik, atau lahiriahnya demikian, tetapi juga ada makna mistikal yg terkandung di dalamnya.

Penggunaan kerudung atau jilbab yang kemudian dijadikan sebagai stereotipe Islam dan kaum Muslim fanatik/tradisional agaknya kemudian disalahtafsirkan oleh kedua belah pihak, baik pemakai jilbab maupun penstereotipe itu. Pertama, apakah menutup aurat (dalam kasus perempuan adalah jilbab/kerudung) merupakan kepentingan individu atau publik?
 
Jika jawabannya adalah semata-mata hak dan kepentingan individu, maka tidak ada aturan dalam berpakaian. Kita harusnya bisa bertelanjang sesuka hati kita. Ternyata kita hanya dibenarkan bertelanjang di tempat sangat privat di norma masyarakat mana pun. Bahkan, di Papua, tidak bertelanjang bulat kan, selalu ada bagian yg ditutupi?
 Jika jawabannya adalah adanya baik hak dan kepentingan individu maupun masyarakat, maka haruslah disesuaikan dengan kultur dan batasan-batasan masyarakat setempat, serta kondisi lingkungan itu.

Saya melihat Bapa-bapa perdana  Gereja memakai landasan yg kedua. Jadi ini bukan hanya suatu tuntutan liturgi, tetapi tuntutan kultur dan geografi saat itu, yg mana tidak bertentangan bahkan mendukung ajaran Alkitab untuk melindungi kehormatan baik laki-laki maupun perempuan.

Kedua, mereka yang mengusung kampanye wajib mengenakan jilbab/menutup aurat seperti di Acheh justru meletakkan pada landasan pertama, yaitu bahwa hak sekaligus kewajiban bagi seorang muslim untuk menjalani sesuai syariat (dalam hal ini sebenarnya fikih) Islam yaitu berjilbab, tanpa memperhatikan bahwa bagi pemeluk agama-agama lain hal ini bukan fikih mereka.

Semangat mereka kemungkinan sekali, politis. Fitur “jilbabisasi” disamakan dengan “Islamisasi”. Ini juga salah kaprah sebab mereka membenturkan diri pada kultur-kultur yang asing dengan model menutup aurat yang lazimnya justru sangat kental kultur impornya (baca: Arabisasi). Akibatnya tidak sedikit yang menentang, yang lain karena takut dianggap sesat dan tidak Islami, menurut begitu saja. (Maksud saya, model menutup aurat tidak mesti memakai jilbab ala Arab, Iran, atau Turki – kecuali jika memang model yang semacam ini memang minat atau keinginan si pemakainya).
 
Sebagai contoh, sejak Islam masuk ke Nusantara, pakaian melayu untuk perempuan mulai menjadi lebih longgar dan panjang tanpa membatasi gerakgerik mereka ke sawah, wanita Jawa mulai mengenakan kebaya, tidak lagi hanya berkemben, dan istri para kyai mengenakan selendang bukan jilbab ala Arab, atau wanita di Bima sudah biasa mengenakan kerudung dengan sarung atau kain batik khas Bima untuk menutupi kepala mereka.
 
Mengapa hal ini terjadi? Apakah hal itu dulu terjadi karena Arabisasi atau Islamisasi atau apa? Perlu diingat, bahwa aturan berpakaian merupakan salah satu perpanjangan dari aturan-aturan dalam 10 Perintah Allah yang masih ditekankan khususnya pada tiga iman Ibrahimiyyah, antara lain terkait erat dengan aturan ”Jangan berzinah”, dan ”Jangan menginginkan hak orang lain.” Kemungkinan besarnya, masyarakat lokal Indonesia mulai menyerap pandangan-pandangan baru mengenai menjaga kehormatan perempuan dan laki-laki, yang dahulunya biasa bertelanjang dada, dan kemungkinannya zina tidak memiliki sangsi, maka modifikasi-modifikasi pun dilakukan dan batasan-batasan kesopansantunan dalam cara berpakaian pun mulai berubah menyesuaikan diri dengan iman yang dianut. Tetapi, sejauh yang tampak dari masa lalu, pakaian nenek moyang dan nenek-nenek kita sama sekali berbeda dengan yang ada di Arab, Iran, atau Turki. (Saya ingat nenek saya seorang aktivis Aisyiah, tidak memakai jilbab, hanya pada saat-saat tertentu mengenakan kerudung selendangnya, tapi tetap berkebaya dan berkain)

Tapi bagaimana dengan saat ini? Apakah jilbab justru menjadi alat kapitalisme dengan jilbabisasi atas nama agama dengan politisasinya ini? Di samping aturan yang mewajibkan jilbab mulai mewabah di mana-mana, industri jilbab juga menjamur, dan harga pakaian yang panjang menutup aurat justeru mahal bukan kepalang.  Padahal esensi lain menutup aurat adalah ”kesederhanaan”nya, seperti juga ”tziniut” dalam pandangan Yahudi.
 
Adalah lebih penting bagi saya, yang menggunakan jilbab sejak berumur 17 tahun, akhirnya baru dapat memahami setelah memandangi wajah Bunda Maria dalam berbagai lukisan tradisional, jika memang dapat dimaknai dalam konteks yg sama, sebagaimana dalam konteks Gereja Ortodoks yakni wajibnya menggunakan kerudung saat beribadah dalam gereja, maka apabila seorang muslimah berkerudung atau menutup auratnya, itu karena dia menyadari sepenuhnya bahwa seumur hidupnya adalah sebuah liturgi – melangkah lebih jauh dari sekadar itu suatu kewajiban atau bukan, tren atau bukan, menjaga dirinya atau bukan – dan lebih jauh lagi sebagai suatu jalan penghambaan (mencatut istilah Quito Riantori) sebagaimana para biarawati tradisional dengan ”habit”nya, karena arti Islam adalah berserah diri sepenuhnya kepada Allah, damai dalam kehendak-Nya.

Dalam pandangan spiritual, jilbab (yang fisik) juga tidak lagi “dipandang perlu” karena “hati yg telah bersih” tidak akan terkelirukan oleh yang mana yang akan menimbulkan ketercelaan dan yang mana yang tidak; hati yang bersih telah terpaut kepada Allah semata. Apakah seorang nabi atau imam maksum akan berpikir cabul saat terlintas seorang wanita berpakaian tak senonoh di hadapannya? Tentu tidak. (Dan perkara ini bisa jadi dikritik habis-habisan oleh mereka yang membenci Islam dalam kasus poligami)
 
Masalahnya tidak semua orang (laki-laki) berada dalam tingkatan spiritual ini (saat melihat perempuan yang berpakaian seksi), bahkan seorang perempuan yg mengenakan jilbab belum tentu dalam tahap spiritual ini, justru karena mereka sebatas memahaminya sebagai kewajiban semata – karena misalnya takut masuk neraka….Jadi, bukan semata feminis liberal yang terkelirukan, tapi juga sebagian besar pemakai (yang mana setiap orang memulainya dari memandangnya sebagai kewajiban) yang hanya berhenti sampai tahap kewajiban…Ini juga bukan berarti salah.

Jadi pandangan terhadap jilbab dan bukan jilbab itu juga, mengenai kendali dan tidak dapat dikendalikan, tidak sepenuhnya salah. Seperti kutipan di atas:

“Perempuan dan laki-laki haruslah ke gereja dengan pakaian yang sopan, dengan langkah yang alami, mencakup keheningan….Biarkan perempuan menaati ini, lebih jauh lagi: Biarkan mereka secara penuh terselubung, kecuali dia berada di rumah. Bahwa gaya berpakaiannya adalah serius dan melindunginya dari ditatap. Dan dia tidak akan pernah jatuh (dalam dosa), bagi yang memandang matanya dengan sederhana dan kerudungnya. Juga tidaklah ia akan jatuh ke dalam dosa dengan menutupi wajahnya. Sebab ini adalah harapan dari Sang Kalimat, sejak ia menjadikan baginya bersembahyang dengan berkerudung.(Clement dari Alexandria 195 M)”
 
Dalam pandangan sufi, Jika orang memiliki niat dan pikiran buruk niscaya saat menatapi wanita yang berjilbab pun apa yang dikatakan si feminis liberal juga akan berlaku (Biasanya menurut mereka, pakaian bukan satu-satunya alasan terjadinya pemerkosaan atau tidak. Orang yang berjilbab belum tentu aman dari peleceh, pemerkosa dan pencabul. Ya itu ada benarnya juga, saya sendiri mengalami pelecehan berkali-kali, dalam tingkat yang sederhana, walau mengenakan jilbab yang sangat lebar).

Dalam hal liturgi, atau ibadah, perempuan menyelubungi dirinya berusaha seperti Maria yang menyelubungi dirinya berlapis-lapis, baik secara literal atau melampaui literal maknanya,  seperti yang tertuang dalam Fusus al-Hikam karya Ibnu Arabi; ia bukan hanya merupakan menjaga diri dari mengambil perhatian orang lain yang juga sedang beribadah (dalam hidupnya – bagi orang yang taat beragama apapun, hidup adalah ibadah baginya), tapi juga bagi pemakainya sendiri, yaitu melunturkan keEgoan dirinya, bahwa dia bukan siapa-siapa, kecantikan dirinya tidak hakiki, tidak nyata, dan karena itu tak ada gunanya diperlihatkan dengan bangga. Bisa dikatakan: ”Biarkan orang lain tidak melihatmu sama sekali. Seperti halnya Maria dan Fatima yang selalu terselubung. Biarkan hanya Tuhan yang melihatmu (telanjang), bukan manusia yang berhak, malahan biarkan hanya Tuhan yang memandang-mu dan orang lain tidak tahu dan tidak melihat dirimu, karena kamu bukan siapa-siapa. ”
 
Dalam liturgi agama manapun, sangat ditekankan melunturkan ke-aku-an sebab sesungguhnya hanya Aku-Yang-Sejati itulah yang Mutlak, itulah sebenarnya yang dimaksudkan dalam ”aku bersaksi bahwa tiada tuhan (yang layak disembah) selain Tuhan Yang Hakiki, Yang Mutlak, Allah, (yang satu-satunya layak disembah).” …Kata-Nya dalam Alkitab, ”Akulah Allah, Tuhanmu.”

Jadi, haruskah memakai kerudung atau tidak, bagi yang melihatnya dalam konteks beragama, agaknya harus dikembalikan kepada kesadaran Aku-Yang-Sejati ini, dan dalam konteks budaya, agaknya harus dikembalikan kepada konteks apakah berpakaian merupakan semata-mata hak individu dan hak ekspresi pribadi, ataukah ia ada kaitannya dengan hak-hak masyarakat dan kewajiban individu untuk masyarakatnya.

Tiba-tiba jadi teringat, sebelum masuk kantor imigrasi, saya membaca larangan tidak boleh memakai celana pendek bagi tamu atau mereka yang mau masuk ke dalam kantor imigrasi. Sama seperti aturan tidak boleh memakai sandal jepit saat bekerja atau kuliah. Ada pula anjuran di ATM, jangan memakai helm dan masker – bisa berarti anjuran ini harus berlaku pula bagi mereka yang memakai niqab atau cadar, terlepas dari adanya sanksi atau tidak, dan apakah hal ini sesuai dengan hak-hak asasi atau tidak.

Yang pasti, saya lebih setuju dengan status Bunga Eidelweiss yang saya tulis di awal artikel ini. Jika seseorang mengaku pluralis dan liberal, tidak perlu seseorang mengolok-olok dan menghina orang-orang seperti saya yang mengenakan jilbab, hanya karena alasan penggerusan budaya Indonesia, atau alasan-alasan lain yang mengesankan saya dan yang lainnya taklid buta kepada aturan yang mengekang kebebasan perempuan, melanggengkan dominasi lelaki, dan semacamnya. Kritik dan olok-olokan sangat jauh berbeda – yang pertama dinyatakan dalam bahasa yang santun walaupun pedas, ditujukan kepada praktek-praktek yang menyimpang dari nilai-nilai luhur kemanusiaan, dan yang kedua dinyatakan dalam bahasa bias, merendahkan, kasar, dan cenderung meyakinkan bahwa jilbab adalah praktek khas Arab atau Semit, dan semacamnya,  serta hanya mengungkap sisi negatifnya tanpa bersedia melihat sisi-sisi lain yang lebih positif!

Barangkali yang sebenarnya pluralis dan liberal adalah para darwis yang tidak hendak memaksakan siapa saja harus begini dan begitu, juga tidak mau mengolok-olok dan merendahkan pilihan orang lain dalam beragama atau tidak beragama, dan memberikan kebebasan mutlak dalam menjalankan hidupnya mau bagaimana. Para darwis selalu yakin akan rahmat Tuhan yang maha luas, yang menjangkau yang atheis maupun yang saleh, yang melampaui daya pikir kami. ”Hakikat” kita bukanlah apa yang kita pakai, dan bukan pula apa yang tampak di hadapan kita/anda.

Barangkali – ini hanya barangkali – Pluralis sejati adalah mereka yang menerima dengan ikhlas realitas pluralitas, dalam konteks ini bagi mereka pluralitas sebenarnya adalah semu, bukan semuanya benar, melainkan hanya Yang Satu yang Benar, yang Nyata,  dan Absolut; sedangkan Liberal sejati dalam konteks ’liberation’ atau pembebasan diri dari yang segala yang semu, yang telah berhasil bebas dari segala bentuk kemelekatan, yakni mereka  yang telah mencapai kemerdekaan sejati – yang menyadari hakikat kemanusiaannya. Wallahualam bissawab.

 

________________________________________________________

Catatan kaki:

* Wanita Yahudi ortodoks seperti Hasidic yang telah menikah diwajibkan untuk menutup rambutnya, setelah ditutup dengan kain, biasanya mengenakan wig, atau kain yang bernama tichel, atau bandana, dsb. Jadi praktek menutup aurat terutama kepala dan rambut, bukan monopoli masyarakat Muslim dan juga masyarakat Semit. Maka, adalah tidak fair jika ada yang menyerang praktek jilbab kaum Muslim dengan ungkapan “Mengapa kamu menutup kepalamu, ada apa?” maka kami pun bisa saja bertanya, “Mengapa kamu membiarkan kepalamu terlihat, ada apa?”

 

 
 

 

 

 

Muslimah dan Feminisme


Feminisme Tak Membuat Perempuan Bahagia
Rabu, 23/12/2009 15:22 WIB

Persamaan hak kaum perempuan dan laki-laki menjadi isu yang tidak pernah berhenti dibahas di kalangan aktivis perempuan. Kalangan feminis memanfaatkan istilah “hak asasi” dan “pemberdayaan” perempuan untuk menyuarakan gerakan feminisme. Sekilas, konsep feminisme tidak bermasalah karena bertujuan untuk mengangkat derajat kaum perempuan yang selama ini dianggap didiskriminasikan dan dilanggar hak-haknya oleh kaum lelaki. Tapi konsep feminisme yang notabene berasal dari Barat dan menggunakan standar-standar kehidupan perempuan Barat yang cenderung bebas.

Belakangan diketahui banyak menimbulkan masalah bagi kaum perempuan itu sendiri. Mereka justeru tidak bahagia dalam hidupnya, bahkan banyak diantara kaum perempuan yang terjerumus dalam tindak kriminal.
Sahar El-Nadi, seorang instruktur profesional dan penceramah di bidang komunikasi antar budaya dalam artikelnya “The Other Side of Feminism” mengungkap konsep feminisme ala Barat yang bermasalah itu.
Ia mengatakan, konsep feminisme jadi problem karena dengan alasan persamaan hak dan kesetaraan, sadar atau tidak sadar perempuan ditanamkan pemikiran dan pandangan bahwa kaum lelaki adalah manusia yang agresif, emosional, memonopoli lapangan kerja dan menutup kesempatan bagi kaum perempuan untuk memiliki banyak pilihan selain hanya mengurusi urusan rumah tangga.

Agenda feminisme yang dikedepankan kaum feminis sekarang ini, tulis El-Nadi, adalah persamaan hak yang cenderung membuat perempuan “identik” dengan laki-laki. Mereka menolak argumen bahwa kaum lelaki dan perempuan memiliki perilaku yang berbeda karena peran mereka dalam hidup pun berbeda. Kaum feminis akan menyebut orang-orang yang beragumen demikian sebagai orang yang ‘seksis’, dikriminatif, pendukung “agenda chauvinis kaum lelaki” dan ingin mengendalikan kaum perempuan dalam sebuah sistem masyarakat yang patriarkis.

Kesetaraan menurut konsep feminisme, bahwa laki-laki dan perempuan harus memiliki kehidupan yang sama, tanggung jawab yang sama dan pada akhirnya mengalami tekanan hidup yang sama. Apakah konsep itu membuat kaum perempuan bahagia? Ternyata tidak. Semakin perempuan merasa berhasil menjalankan standar-standar feminisme itu, kenyataannya semakin mereka merasa sengsara. Lembaga General Social Survey pernah melakukan penelitian tentang hal ini di kalangan masyarakat AS. Mereka meneliti bagaimana mood masyarakat AS dari mulai tahun 1972 hingga sekarang, dan hasilnya, kaum perempuan AS yang notabene menganut konsep feminisme, kehidupannya lebih suram dibandingkan kaum lelaki.
Perempuan mengalami kondisi yang lebih buruk, karena mereka diminta untuk memainkan dua peran bukan satu peran bahwa tugas perempuan di dalam rumah dan tugas laki-laki mencari nafkah di luar.
Dibawa ‘revolusi feminisme’ kaum perempuan menang dalam mendapatkan apa yang disebut kebebasan dalam dunia laki-laki, sementara kaum lelaki banyak yang mengalami krisis jati diri.
Sehingga tak heran jika sekarang banyak kaum lelaki yang ‘feminim’, berpakaian dan bertingkah laku seperti perempuan. Perubahan semacam ini bisa dipahami, karena konsep kesetaraan itu, sejak kecil anak-anak perempuan didorong untuk belajar berani dan agresif seperti anak-anak laki.
Gaya mendidik seperti ini akan terbawa sampai anak perempuan tadi dewasa. Mereka akan tumbuh dengan pendekatan untuk menjadi “manusia yang egois” di dunia.

Konsep feminisme yang sekarang berkembang, membuat kaum perempuan, utamanya di negara-negara maju jadi meremehkan peran perempuan sebagai isteri dan ibu. Banyak diantara mereka yang tidak mau direpotkan dengan kewajiban-kewajiban sebagai isteri dan ibu sehingga mereka cenderung memilih melakukan seks bebas tanpa komitmen, memilih membesarkan anak-anak tanpa kehadiran seorang ayah bahkan menikah sesama jenis. Semuanya dilakukan atas nama “hak asasi perempuan.” Jika sudah demikian, maka lenyaplah perang kaum perempuan dalam masyarakat.

“Sebagai seorang muslim, saya sedih melihat makin banyak kaum perempuan di berbagai penjuru dunia yang berlomba-lomba mengikuti jalan feminisme akhirnya jatuh ke jurang yang sama. Bagi para muslimah, Al-Quran dengan jelas menyebutkan bahwa Allah Swt menciptakan berbeda antara kaum lelaki dan kaum perempuan. Masing-masing dianugerahkan peran yang berbeda pula untuk saling mendukung sebagai satu tim, dan bukan untuk saling bersaing,” tulis El-Nadi. “Tak seorang pun yang ingin mencerabut hak-hak kaum perempuan, tapi kita harus memahami bahwa kebebasan bukan berarti harus mendegradasikan kaum perempuan dan persamaan hak bukan berarti harus ‘identik’.

Kaum perempuan membawa karunia dan nilai-nilai yang unik bagi dunia. Peran perempuan dalam memulihkan nilai-nilai keluarga dalam kehidupan masyarakat yang modern bisa membuat kaum lelaki, anak-anak bahkan perempuan itu sendiri, hidup bahagia,” papar El-Nadi. Nah, para muslimah, rasanya tak perlu silau dengan propaganda kesetaraan gender dan persamaan hak asasi yang digaungkan para aktivis feminisme. (ln/iol)

sumber: Eramuslim

boleh dibaca juga:

Moms, ANAK BERHAK atas ASI!


27/12/09

Oooh! I LOVE this article!

“Mengapa kita membiarkan seorang ibu untuk tidak menyusui anaknya karena pekerjaan di kantor tidak bisa ditinggalkan?”

Hmmm.. Kira-kira saya jadi sedikit paham, mengapa Allah berkata “hendaklah kamu tetap di rumahmu…” [QS. Al-Ahzab: 33] 🙂 Ada tugas yang lebih penting dari “kerjaan kantor”, yaitu anak-anakmu. Perempuan memang tidak diciptakan untuk setara dengan laki-laki, karena masing-masing memang dibebani atas peran yang berbeda tetapi saling mendukung dan melengkapi dalam sebuah tim (keluarga). Domestik dan publik. Di luar perihal ke-ilmiah-an ASI yang sudah jelas terbukti (melalui artikel dibawah ini), tentang ASI itu sendiri sudah jelas disebutkan dalam Al-Qur’an surat Lukman: 14. Kita tentu tahu juga, bahwa apa yang diperintahkan dalam Qur’an adalah wajib. Jadi mengapa para ibu mengabaikan kewajiban utamanya sebagai perempuan untuk menyusui (di antaranya) dan lebih memilih bekerja di luar rumah, yang lagi-lagi adalah pengabaian terhadap perintah Allah bahwa perempuan itu hendaknya di rumah? Bagaimana dengan anak yang disebut sebagai titipan Tuhan itu? Sanggupkah kita mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak?

Vis

PEREMPUAN DAN PENGABAIAN HAK ANAK ATAS ASI

Senin, 21 Desember 2009 | 10:20 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com – Masih banyak anak Indonesia yang tidak mendapatkan air susu ibu (ASI) eksklusif karena berbagai alasan. Cakupan ASI eksklusif diperkirakan baru sekitar 30 persen. Padahal, kita tahu dampak kurang gizi bagi generasi mendatang dan bagaimana seharusnya mengatasinya.

Kurang gizi mengakibatkan potensi IQ loss jutaan poin, kecerdasan anak terkendala, dan anak tidak dapat berkembang sesuai fitrah genetiknya.

Selama ini instansi pemerintah maupun swasta memberi cuti melahirkan kepada perempuan selama tiga bulan. Kebijakan cuti ini sesungguhnya tidak mendukung upaya perbaikan kualitas hidup bangsa.

Pakar gizi dan kesehatan menyepakati, bayi harus diberi ASI eksklusif selama enam bulan pada awal kehidupannya. Hal ini akan menjamin asupan gizi berkualitas dalam periode sangat penting ini. Anak memasuki fase usia keemasan sampai usia dua tahun. Pada periode inilah perkembangan otak sangat optimal dan karena itu menyusui sampai dua tahun menjadi penting.

Pemberian cuti melahirkan yang hanya tiga bulan akan menyulitkan penerapan ASI eksklusif sehingga bayi tidak mendapatkan haknya, yakni makanan alami terbaik yang melekat pada tubuh ibunya. Sebagai gantinya, bayi terpaksa mengonsumsi susu formula yang harganya mahal dan kadang-kadang tidak terjangkau oleh daya beli rumah tangga.

Sangat penting disadari produksi ASI ditentukan oleh frekuensi menyusui dan stres seorang ibu. Apabila ibu harus bekerja dengan meninggalkan bayi berusia dua atau tiga bulan di rumah, maka selama di kantor ibu tidak dapat atau kurang optimal mengeluarkan air susunya. Akhirnya, jumlah ASI akan semakin sedikit dan atau kering sebelum masa penyusuan dua tahun terpenuhi.

Orang modern kini menghadapi sumber stres yang beraneka ragam karena tantangan hidup yang semakin berat. Ketika industrialisasi berkembang sebagai tanda kemajuan zaman, maka masyarakat harus menghadapi stres akibat polusi dan stres emosional akibat pekerjaan. Bagi perempuan pekerja rendahan, stres semakin bertambah karena penghasilan tidak memadai untuk menunjang kehidupan keluarganya sehari-hari.

Ubah Aturan Cuti

Agar kaum perempuan dapat menyusui anaknya dengan tenang dan mendayagunakan ASI-nya secara maksimal, maka sudah saatnya peraturan cuti bagi kaum perempuan diubah dari hanya 3 bulan menjadi 6 bulan. Perempuan perlu diberi kesempatan membesarkan anaknya dengan baik. Maternal bonding dalam enam bulan awal kehidupan seorang anak sangat penting. Seorang bayi akan merasa aman dan nyaman dalam dekapan ibunya ketika dia disusui.

Kita memang merasa bangga kalau ada 3-5 siswa mendapatkan medali emas dalam olimpiade fisika atau matematika berkelas internasional. Namun, kemenangan ini bukan cermin semakin membaiknya kualitas sumber daya manusia bangsa. Kurang gizi masih mendera anak-anak kita akibat defisit energi protein, kurang yodium, dan anemia. Abad ke-20 telah berlalu dan dunia gagal menyelamatkan anak-anak dari masalah kekurangan gizi.

Di Finlandia, ibu yang mau menyusui bayinya mendapatkan imbalan dari pemerintah. Ini menunjukkan besarnya perhatian negara terhadap tumbuh kembang seorang anak.

Indonesia tidak akan mampu memberi imbalan bagi perempuan menyusui, tetapi paling tidak kaum perempuan harus diberi kesempatan dapat secara leluasa memberikan ASI bagi anaknya.

Sebab itu, perlu ada komitmen dari pemerintah untuk memberikan cuti melahirkan sesuai kaidah ASI eksklusif, yaitu enam bulan pascamelahirkan. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Departemen Kesehatan adalah dua institusi negara yang harusnya paling risau dengan kenyataan rendahnya pemberian ASI eksklusif yang akan berdampak pada kualitas hidup anak.

Mengapa kita mengabaikan sumber daya nutrisi yang murah dan selalu tersedia, yaitu ASI? Mengapa kita membiarkan seorang ibu untuk tidak menyusui anaknya karena pekerjaan di kantor tidak bisa ditinggalkan?

Perempuan yang tidak menyusui secara eksklusif selama enam bulan mengalami kerugian karena memikul biaya pembelian susu formula. Ditambah lagi, perkembangan intelektualitas anak mungkin kurang optimal karena tidak mendapatkan ASI secara semestinya.

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk miskin sangat banyak. Penduduk miskin ini tidak seyogianya membelanjakan penghasilannya yang pas-pasan untuk membeli susu formula. Tuhan telah membekali kaum perempuan dengan ASI sebagai makanan bayi yang telah dilahirkannya.

Kalau perempuan harus menyusui anaknya secara eksklusif selama enam bulan, maka kantor atau instansi tempatnya bekerja harus mendukung hal ini. Sebab itu, diperlukan terobosan perubahan kebijakan cuti bagi perempuan (dari 3 bulan menjadi 6 bulan) agar tercapai perbaikan kualitas hidup anak-anak Indonesia.

Istilah breastfeeding father perlu disosialisasikan bukan sebagai bentuk kekenesan perempuan, tetapi lebih untuk menyadarkan para suami agar selalu memberi dukungan kepada istrinya sehingga tidak gampang menyerah dalam memberi makanan alamiah terbaik (ASI) bagi bayinya.

Ali Khomsan Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, FEMA IPB

sumber: Kompas Cetak

Baca yang ini yuk:
Susu Formula dan Angka Kematian Bayi
Tricks of the Infant Food Industry

Comments to My Letter at The Jakarta Post (Do We Read the Same Qur’an?)


Hooo… Ternyata suratku ke Jakarta Post ada yang kasih komentar! Selama ini yang kuikutin korannya aja, ternyata ada perkembangan di webnya. Berikut komentar-komentarnya:

Abdullah (not verified) — Sun, 04/13/2008 – 9:47pm
Everything is from Allah as stated in the Al-Quran. Homosexuality is from Allah, even iblis is from Allah. Just because it is from Allah, it does not mean that it can be adopted by mankind as “natural” when God has made it very clear it is forbidden. But why does Allah provides everything but then forbids some? Why does Allah create iblis and kafirs and then warn mankind not to embrace, succumb and follow their ways? Again Allah made it very clear in the Al-Quran that those are subjects of test for mankind. But how can the non-Muslim understand that? Lakum dinukum, waliyadin.

Anita (Bandung) (not verified) — Mon, 04/07/2008 – 11:44am
Just trust that Allah always gives the best for its creations.

The Reader (not verified) — Sat, 04/05/2008 – 6:58am
Who decides who does and who does not fully understand Islam? Who decides what is and is not a correct or incorrect interpretation of Islam- the MUI, JIL or the Taliban?? Surely they cannot all be right?? Or is it Viska Wibowo, Gus Dur or Osama Bin Laden who have the answers?? These 3 people all seem to think they do! What exactly is required to fully understand it? In Indonesia,one minute the Bali Bombers are denounced as having nothing to do with the ‘real’ Islam, and then they are having lunch with the authorities because they are their Muslim brothers!! Amrozi cs were convinced, and still are, that they were defending Islam, according to their understanding, which is obviously very real to them. The Wahid Institute tells us Islam is plural, tolerant and inclusive. Tolerant and inclusive of who, and what? Some say the Al-Qu’ran cannot be translated from the original Arabic, so can only native speakers of Arabic fully understand Islam? What is the ‘real’ Islam: Muslims and non-muslims are constantly telling each other they have no idea what this is, if they happen to disagree on something…so, Viska, what is the real Islam, who fully understands it, and how do you know? Why is one person’s interpretation or understanding ‘better’ or more ‘correct’ than anothers??

Source: Jakpost

My Respond:

I totally agree with Abdullah and Anita.

To: “Reader”

I guess You think it too hard or I just put the wrong word to the sentence “didn’t fully understand Islam”. Please forgive my Inglish (Indonesian-English).

I meant it to those who e.g; didn’t know Islam, didn’t read Qur’an completely, didn’t have the knowledge about Islam; even she/he is a moslem. For example, my maid is a moslem, but what she knows about Islam is all about shalat (daily pray), puasa (fasting at Ramadhan) and Lebaran (Ied Fitr Holy-day). She can’t read Al-Qur’an, she never read one, even its translation. She didn’t know about zakat, one of moslem’s obligations. She didn’t know much about sunnah, things that ‘recommended’ to do. I can’t guarantee that she’s able to explain about polygamy, hijab, jihad, or else matters in Islam.

So I think it’s clear about those who “didn’t fully understand Islam”. I also think that no one can fully understand Islam 100%. That’s why moslems are obliged to learn Islam as long as they live. If a person takes Islam as his/her religion and understand it, he/she must apply Islam in his/her relation to Allah (ibadahhablumminnallah) and to human and environment as well (hablumminnanas). Take our Rasullullah, Muhammad SAW as a perfect example. We can’t say that someone that good in his/her ibadah but corrupt either is a good moslem, can we?

If the matter is about what is sin/not, halal/haram, wajib/sunnah/makruh/mubah etc, that is a clear fact, I’d say that possibly one understanding is better/more correct than others. Example; A knows that adultery in Islam is a sin, so he didn’t do it. B doesn’t know, so he did it anyway. I’d say that A’s understanding is better than B. Off course, it’s about adultery.

Other things such as khitan (circumcision), jihad or polygamy, we can’t say that someone’s understanding is better-or-less. I’ll say it as: “different”, depend on which kilafiyah that she/he believes. Example; there’s ulama believes that circumcision is a must to women, but others think the contrary, depends on certain condition. A believes first opinion, B believes the second one. It’s not better or correct, but just different. But if A knows the ‘knowledge’ about khitan while B doesn’t, can we say that A is better than B?

Aah.. I know. I forget to mention the “about” thing on my letter!

Kenapa Tuhan, Surga dan Neraka Harus Ada?


23/09/08
Selain situs-situs ‘alim’, ternyata banyak juga situs dan blog yang memuat ketidakpercayaan terhadap Tuhan (Islam). Bahwa menurut pemahaman mereka, baik dan buruk serta konsekuensinya itu terjadi secara alamiah. Saya sendiri kalau ditanya apakah Tuhan itu ada, belum tentu bisa menjawab dengan baik dan benar. Kira-kira apa jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut ya, pikir saya. Kalau anak saya bertanya apakah Tuhan itu ada, jawaban saya selalu standar, “Rumah aja ada yang bikin, kambing aja ada ibunya, apa mobil bisa ada sendiri kalau tidak ada yang menciptakan? Kalau gitu, masa alam semesta raya ini nggak ada yang menciptakan? Kalau ada, siapa yang mampu, siapa yang sedemikian hebatnya bisa menciptakan alam ini? Manusia bisa bikin pohon? Nggak. Nah itulah yang namanya Tuhan, Allah SWT.”

Kebetulan sekali, dalam salah satu episode “Para Pencari Tuhan 2” yang selalu saya tonton saat sahur ternyata ada cerita semacam itu! Jawaban bang Jack kira-kira begini, “Kalau Allah (juga surga dan neraka) itu tidak ada, berarti hilanglah keadilan.” Benar juga! Bukankah dosa yang tidak terbalas di dunia akan dibalas di akhirat, walaupun hanya sebesar zarrah? Kalau surga dan neraka tidak ada, enak betul dong. Bagaimana dengan orang yang berbuat dosa di dunia tapi luput dari hukuman? Para koruptor yang hidup senang, foya-foya dengan harta catutan, mewariskan harta tujuh turunan, kemudian mati saja dengan tenang, begitu? Lalu penjahat-penjahat lain yang belum sempat dihukum, bisa hidup tenang tanpa menghiraukan orang-orang yang menderita karena sudah didzaliminya? Haduh, dengan reputasi peradilan di Indonesia yang dinilai terburuk di antara 10 negara Asia (Kompas, 23 September 2003), bisa-bisa semua orang berbuat curang saja agar bisa hidup enak. Wong tidak ada hukumannya ini. Hukuman di dunia kan bisa dikadalin? Yang menderita, susah dan teraniaya tetap saja tidak berubah hidupnya. Yang ngemplang uang negara malah tambah makmur. Lalu dimana letaknya keadilan? Bagaimana, masuk akal tidak jika Tuhan, surga dan neraka itu HARUS ada?

Pelajaran dari Imam Ghazali


dicuplik dari milis tetangga. it’s good to read and learn.

Imam Ghazali = ” Apa yang paling ringan di dunia ini ?”

Murid 1 = ” Kapas”
Murid 2 = ” Angin ”
Murid 3 = ” Debu ”
Murid 4 = ” Daun-daun”
Imam Ghazali = ” Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat. ”

Imam Ghazali = ” Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?

Murid 1 = ” Orang tua ”
Murid 2 = ” Guru ”
Murid 3 = ” Teman ”
Murid 4 = ” Kaum kerabat ”
Imam Ghazali = ” Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran :185). ”

Imam Ghazali = ” Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ? “

Murid 1 = ” Negeri Cina ”
Murid 2 = ” Bulan ”
Murid 3 = ” Matahari ”
Murid 4 = ” Bintang-bintang ”
Iman Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama. ”

Iman Ghazali = ” Apa yang paling besar di dunia ini ? “

Murid 1 = ” Gunung ”
Murid 2 = ” Matahari ”
Murid 3 = ” Bumi ”
Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka. ”

IMAM GHAZALI = ” Apa yang paling berat di dunia? “

Murid 1 = ” Baja ”
Murid 2 = ” Besi ”
Murid 3 = ” Gajah ”
Imam Ghazali = ” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah. ”

Imam Ghazali = ” Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? “

Murid- Murid dengan serentak menjawab = ” Pedang ”
Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. ”

“sampaikanlah walau satu ayat”