Posts from the ‘Di Negeri Jiran’ Category

Almost a Year in KL: What I Dislike


Nggak terasa sudah hampir setahun!
Berikut hal-hal yang nggak banget dari tinggal di KL:

| Deposit
Segala hal butuh deposit, dari rumah hingga sekolah, bahkan sampai hal kecil semacam galon air minum dan langganan paket data untuk tablet 😦

| Susahnya cari masjid
Kalau dalam perjalanan sih nggak masalah, di pom bensin atau rest area selalu ada surau. Tapi kalau mau sholat jamaah atau sholat tarawih, harus naik kendaraan untuk pergi ke masjid. Idealnya ya cari tempat tinggal dekat masjid.

| Susah air
Serius, ini masalah kok sama kayak kampung halaman. Bagi yang tinggal di KLCC sih nggak masalah, tapi di luar itu, jika sedang musim susah air bisa dipastikan dapat pemadaman aliran air bergilir. Minimal satu hari dalam sebulan nggak ada aliran air. Pinggir kota lebih parah, bisa dua hari dalam seminggu nggak ada air. Siap-siap menampung air hujan deh.

| Kabut asap
Bisa karena kiriman dari Indonesia (disebabkan kebakaran hutan atau buka hutan yang dilakukan perusahaan yang dimiliki warga Malaysia juga) atau kebakaran hutan/ladang yang terjadi di Malaysia sendiri. Kota jadi gelap dan seperti berkabut, bernafas jadi terasa berat. Senangnya sih sekolah bisa diliburkan, tapi nggak bisa kemana-mana juga jadi ya sama aja dong. Jika parah kadang penutupan airport bisa terjadi juga. Kalau di Abud ada sandstorm, di sini ada kabut asap.

| Kriminalitas
Lebih kurang mirip sama Indonesia. Jambret motor yang mengincar tas yang diletakkan di sisi pengemudi mobil yang sendirian, terutama lady driver. Dua orang rekan sudah jadi korban. Ekstra hati-hati bagi yang nyetir sendiri kemana-mana.

| Barang-barang mahal
Nggak seperti di negara-negara GCC yang tax free, harga barang di sini mahal, 11/12 sama Indonesia deh. Maklum, kena pajak. Furnitur, elektronik, mobil misalnya, jauh lebih murah di GCC. Malah harga mobil lebih murah di Indonesia daripada di Malaysia. Mereka menetapkan pajak tinggi untuk mobil impor dengan harapan meningkatkan pasaran mobil lokal. Berhasil sih, mobil dengan merek-merek lokal yang murah menjadi favorit pengguna kendaraan di sini.

Sekilas Negeri Jiran


11/02/14

Wah udah lama nggak nulis.. Niatnya mau share tentang hidup di negeri tetangga ini, tetapi lagi-lagi daku gagal memanajemen waktu akhirnya keteteran dan nggak sempat nulis deh.. *alesan 😀

Sepertinya nggak ada yang terlalu istimewa buat diceritakan, tahu kan Malaysia ini mirip-mirip sama tanah air tercinta. Hanya saja, fasum dan transportasi lebih baik. “Hanya” yang bedanya sangat jauh jika mengingat kemacetan dan transportasi di Jakarta 😦 Kuala Lumpur punya monorail dan LRT, bis pun bagus-bagus, besar dan ber-AC, nggak ada kondekturnya, bayar langsung di boks dekat supir atau pakai kartu langganan. Jalanan relatif lancar, macet paling di jam tertentu dan lokasi tertentu, dekat sekolah atau kantor, misalnya. Jalanan luar kota mulus-mulus, jarak 300an kilometer bisa ditempuh dalam waktu 4 jam tanpa stop. Yang lebih menyenangkan lagi, SIM Indonesia masih laku di sini, nggak perlu test drive lagi buat dapat SIM lokal. Cihuuuy!

Soal budaya, cuaca, makanan, hampir nggak ada bedanya. Jadi tinggal di sini nggak berasa ngekspatnya. Dekat pulak dengan tanah air, mau mudik pun gampang. Nggak heran, ekspatriat di sini betah-betah banget. Kalau ditanya sudah berapa lama, jawabannya bisa tahunan dan belasan tahun. Bandingkan dengan di Abu Dhabi, paling hanya beberapa saja.

Soal apartemen, cenderung lebih murah dari Abu Dhabi. Tergantung apartemennya siyh, kelas mewah tentu mahal, di atas 10rb RM. Sekelas 3-4rb RM bisa dapat 2 kamar, itu pun juga sudah lumayan dan bisa dibayar bulanan.

Soal sekolah, kalau ini sama saja atau malah lebih mahal. Sebab nilai tukar 1RM lebih tinggi ke rupiah (Rp. 3600) dibandingkan dengan 1DHS (Rp. 3200). American school jarang, setahu saya hanya ada 2 dan itupun luar biasa mahal. Termahal adalah Mont Kiara International School, annual fee-nya saja 79rb RM! Untuk elementary school saja loh. High school cukup bayar 98rb RM. ISKL, ditambah uang gedung, uang pendaftaran, dll (tentu saja sifatnya non-refundable) totalnya di tahun pertama jumlah yang harus dibayarkan untuk elementary school adalah 130rb.an RM. Wow.. Kalikan ke rupiah. Bandingkan dengan ACS atau GAA di Abu Dhabi yang paling “hanya” 70rb.an DHS per-tahun, uang pendaftaran paling 300DHS saja. Tapi jangan kuatir, kalau mau sekolah yang biayanya sesuai allowance dari kantor juga ada. Di bawahnya pun juga ada. Bahkan ada Sekolah Indonesia pun di sini. Sekolah lokal internasional pun sebenarnya banyak yang bagus, tapi sayangnya tahun ajaran baru dimulai di bulan Januari 😦 Kebayang kalau pindah lagi atau balik ke Indonesia yang tahun ajarannya dimulai pada pertengahan tahun, kalau nggak mau mengulang kelas ya harus lompat kelas. Ribet ya. Namun semua kembali lagi ke pilihan masing-masing. Intinya, what you pay is what you get

Apalagi yah.. To be continue, masak dulu ah 😀

Life: Restart 2.0


Rasanya baru kemarin bongkar kardus lalu menata rumah, eh kok sekarang masukin kardus lagi, pindahan lagi, menata rumah lagi 😀 bener deh, setahun itu terlalu cepat buat ekspatriat untuk pindah lagi. Belum puas menjelajahi seluruh daya tarik negara yang ditempati, belum menikmati. Persahabatan dengan teman-teman baru masih masa bulan madu yang seumur jagung, sudah harus berpisah. Jieee…

Dan komentar yang selalu sukses membuat saya nyengir adalah, “Kenapa pindah? Duitnya lebih gede ya di sana?” Duh, plis deh.. Apa nggak ada komentar lain selain masalah duit untuk dilontarkan, ya 😀 Perasaan teman-teman lain pindah, dari dulu saya nggak pernah tanya soal gaji atau komentar duitnya bakal lebih banyak atau lebih sedikit. Rejeki kan sendiri-sendiri ya. Apa pengaruhnya duit orang ke kita sih. Tapi orang tuh memang macam-macam ya 😀 Soal duit bisa jadi kepo. Padahal pindah bukan selalu karena duit loh. Beberapa teman saya tahu mereka pindah dan digaji lebih kecil dari perusahaan sebelumnya, semata karena ingin lebih tenang atau lebih menikmati hidup karena di perusahaan sebelumnya terlalu sibuk.

Jadi kenapa kami pindah? Kami betah banget kok di UAE, tapi tawaran bekerja dan tinggal di negara yang lebih dekat ke tanah air begitu menggoda 😀 belum move on ceritanya. And here we are now! Restarting life season 2. Semua mulai dari awal lagi, mulai dari 0 lagi. Ribet sekaligus exciting.

Nanti lanjut lagi dengan cerita tentang apartemen, sekolah dan living cost. See you on the next post!