Berjilbab, Menutup Aurat dan Batasan Aurat


Banyak ribut-ribut soal “wajib berjilbab”, bahwa jilbab itu tidak wajib, dst. Dipikir-pikir, iya sih, yang betul itu adalah “kewajiban menutup aurat” bukan “kewajiban berjilbab”. Nah selanjutnya, caranya menutup aurat mau pakai jilbab atau pakai karung itu terserah si empunya saja. Tapi kemudian muncul lagi pertanyaan, batasan aurat itu sampai di mana?

IMG_1988.JPG

Pada buku Fatwa-fatwa tentang Wanita (Al-Wazan, 2001) dijelaskan tentang firman Allah Swt dalam surat An-Nur: 31 oleh Lajnah Daimah lil Ifta’ sbb (cek ayatnya Qur’annya ya) :

Firman-Nya الا ماظهر منها ditafsirkan oleh Ibnu Mas’ud dan para jamaah dengan “pakaian luar”. Sebagian yang lain menafsirkannya dengan wajah dan kedua telapak tangan. Pendapat pertama lebih shahih karena lebih sesuai dengan dalil-dalil syar’i dan kedua ayat tsb di atas (Al-Ahzab: 53, 59). Sementara pendapat yang mengatakan bahwa artinya adalah wajah dan kedua telapak tangan, ada sebagian ilmu yang menyebutkan bahwa pendapat ini berlaku sebelum turun kewajiban hijab, karena pada mulanya para wanita menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya di hadapan para lelaki, kemudian turun ayat hijab yang melarang mereka menampakkannya dan yang mewajibkan menutup wajah dan telapak tangannya di segala kondisi.

Lanjutan ayat tersebut و لىضر بن بخمرهم علي جىو هن (dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka) lafadz khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang artinya adalah penutup kepala dan sekitarnya. Disebut khimar karena fungsinya adalah menutupi apa yang ada di bawahnya, sebagaimana minuman keras disebut khamr karena menutupi akal dan merubahnya.

Sementara, arti جيب adalah lubang pakaian–tempat kepala masuk–jika khimar dipakaikan ke atas kepala dan wajah, maka lubang tersebut tertutupi. Demikian semua yang ada di sekitar dada.

Ayat selanjutnya و لا يبد ين زينتهن الالبعولتهن hingga akhir ayat, yang dimaksud dengan zinah, mencakup wajah dan anggota tubuh. Dengan demikian artinya wanita diwajibkan menutupi seluruh zinahnya, sehingga tidak terkena gangguan atau menyebarkan (bencana).

Gimana, cukup jelas nggak?

Teringat dengan komentar beberapa waktu lalu tentang ulama besar yang menurutnya tidak mewajibkan penggunaan jilbab. Nah, beberapa waktu lalu saya sempat baca tentang kewajiban bercadar.. Referensinya bisa dibaca di sini. Saya copas sedikit:

Terjadinya ijma’ tentang kewajiban wanita untuk selalu menetap di rumah dan tidak keluar kecuali jika ada keperluan, dan tentang wanita tidak keluar rumah dan lewat di hadapan laki-laki kecuali dengan berhijab (menutupi diri) dan menutup wajah. Ijma’ ini dinukilkan oleh Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, Imam Nawawi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan lainnya. [Hirasah Al-Fadhilah, hal 38, Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah]

Sayang, saya nggak ada ilmu sama sekali soal Ibnu Taimiyah. Cuma dengan demikian, saya kira jika beliau saja berpendapat bahwa cadar itu wajib, masa berjilbab nggak wajib? Sepertinya harus baca-baca lagi nih…

Sekilas Negeri Jiran


11/02/14

Wah udah lama nggak nulis.. Niatnya mau share tentang hidup di negeri tetangga ini, tetapi lagi-lagi daku gagal memanajemen waktu akhirnya keteteran dan nggak sempat nulis deh.. *alesan 😀

Sepertinya nggak ada yang terlalu istimewa buat diceritakan, tahu kan Malaysia ini mirip-mirip sama tanah air tercinta. Hanya saja, fasum dan transportasi lebih baik. “Hanya” yang bedanya sangat jauh jika mengingat kemacetan dan transportasi di Jakarta 😦 Kuala Lumpur punya monorail dan LRT, bis pun bagus-bagus, besar dan ber-AC, nggak ada kondekturnya, bayar langsung di boks dekat supir atau pakai kartu langganan. Jalanan relatif lancar, macet paling di jam tertentu dan lokasi tertentu, dekat sekolah atau kantor, misalnya. Jalanan luar kota mulus-mulus, jarak 300an kilometer bisa ditempuh dalam waktu 4 jam tanpa stop. Yang lebih menyenangkan lagi, SIM Indonesia masih laku di sini, nggak perlu test drive lagi buat dapat SIM lokal. Cihuuuy!

Soal budaya, cuaca, makanan, hampir nggak ada bedanya. Jadi tinggal di sini nggak berasa ngekspatnya. Dekat pulak dengan tanah air, mau mudik pun gampang. Nggak heran, ekspatriat di sini betah-betah banget. Kalau ditanya sudah berapa lama, jawabannya bisa tahunan dan belasan tahun. Bandingkan dengan di Abu Dhabi, paling hanya beberapa saja.

Soal apartemen, cenderung lebih murah dari Abu Dhabi. Tergantung apartemennya siyh, kelas mewah tentu mahal, di atas 10rb RM. Sekelas 3-4rb RM bisa dapat 2 kamar, itu pun juga sudah lumayan dan bisa dibayar bulanan.

Soal sekolah, kalau ini sama saja atau malah lebih mahal. Sebab nilai tukar 1RM lebih tinggi ke rupiah (Rp. 3600) dibandingkan dengan 1DHS (Rp. 3200). American school jarang, setahu saya hanya ada 2 dan itupun luar biasa mahal. Termahal adalah Mont Kiara International School, annual fee-nya saja 79rb RM! Untuk elementary school saja loh. High school cukup bayar 98rb RM. ISKL, ditambah uang gedung, uang pendaftaran, dll (tentu saja sifatnya non-refundable) totalnya di tahun pertama jumlah yang harus dibayarkan untuk elementary school adalah 130rb.an RM. Wow.. Kalikan ke rupiah. Bandingkan dengan ACS atau GAA di Abu Dhabi yang paling “hanya” 70rb.an DHS per-tahun, uang pendaftaran paling 300DHS saja. Tapi jangan kuatir, kalau mau sekolah yang biayanya sesuai allowance dari kantor juga ada. Di bawahnya pun juga ada. Bahkan ada Sekolah Indonesia pun di sini. Sekolah lokal internasional pun sebenarnya banyak yang bagus, tapi sayangnya tahun ajaran baru dimulai di bulan Januari 😦 Kebayang kalau pindah lagi atau balik ke Indonesia yang tahun ajarannya dimulai pada pertengahan tahun, kalau nggak mau mengulang kelas ya harus lompat kelas. Ribet ya. Namun semua kembali lagi ke pilihan masing-masing. Intinya, what you pay is what you get

Apalagi yah.. To be continue, masak dulu ah 😀

Abu Dhabi, After One Year


13/09/13

Ternyata Abu Dhabi nganenin juga.

Apa sih yang dikangenin?
• Dapurku yang luas *sekarang dapurnya kecil sih 😀
• Jalanan yang luas, lalu lintas lancar dan tidak becek *karena langka hujan
• Sekolah internasional yang ada pelajaran agama dan bahasa Arab *di sini langka, kecuali sekolah internasional lokal
• AD kota kecil, kemana-mana dekat saja
• Tax free! Barang branded lebih murah *utensils dapur, elektronik, mending beli di AD
• Di middle-east nggak ada serangga
• Internet cepat 100Mbps unlimited
• Homecenter! Thinkkitchen! Lakeland! Tavola! *kecuali Ikea, di sini ga ada store selengkap Homecenter yang jual “isi rumah” dengan lengkap, mulai dari furnitur, lampu, bantal, handuk sampai sendok
• Taksi yang bagus, tinggal tunjuk mau Camry terbaru atau Altima *taksi di KL mobilnya butut-butut, yang bagusan dikit jadi taksi eksekutif + mehil
• Winter yang sebentar lagi menjelang *kangen pake coat dan boots *halah
• Belum puas belanja abaya! *super lebay
• Teman-temanku yang baik hati… Miss you, gals :3

Jelas-jelas tidak dikangenin:
• Temperatur super duper hot 47˚C dan semriwing angin panas bak di oven
• Sayur-mayur dan buah-buahan yang kurang bervariasi
• Kurang tempat wisata, jadi kadang bosenin.. *bandingkan sama tanah air tertjinta; wisata gunung, laut, sungai, danau, hutan semua adaa..
• Foodcourt yang isinya junkfood *bandingkan sama Food Republic-nya Pavilion
• Susah cari bahan masakan Indonesia *ada tokonya tapi langka barangnya, berhubung yang beli rebutan

Verdict: Yay for living in Emirates.

Nanti lanjut lagi..

Life: Restart 2.0


Rasanya baru kemarin bongkar kardus lalu menata rumah, eh kok sekarang masukin kardus lagi, pindahan lagi, menata rumah lagi 😀 bener deh, setahun itu terlalu cepat buat ekspatriat untuk pindah lagi. Belum puas menjelajahi seluruh daya tarik negara yang ditempati, belum menikmati. Persahabatan dengan teman-teman baru masih masa bulan madu yang seumur jagung, sudah harus berpisah. Jieee…

Dan komentar yang selalu sukses membuat saya nyengir adalah, “Kenapa pindah? Duitnya lebih gede ya di sana?” Duh, plis deh.. Apa nggak ada komentar lain selain masalah duit untuk dilontarkan, ya 😀 Perasaan teman-teman lain pindah, dari dulu saya nggak pernah tanya soal gaji atau komentar duitnya bakal lebih banyak atau lebih sedikit. Rejeki kan sendiri-sendiri ya. Apa pengaruhnya duit orang ke kita sih. Tapi orang tuh memang macam-macam ya 😀 Soal duit bisa jadi kepo. Padahal pindah bukan selalu karena duit loh. Beberapa teman saya tahu mereka pindah dan digaji lebih kecil dari perusahaan sebelumnya, semata karena ingin lebih tenang atau lebih menikmati hidup karena di perusahaan sebelumnya terlalu sibuk.

Jadi kenapa kami pindah? Kami betah banget kok di UAE, tapi tawaran bekerja dan tinggal di negara yang lebih dekat ke tanah air begitu menggoda 😀 belum move on ceritanya. And here we are now! Restarting life season 2. Semua mulai dari awal lagi, mulai dari 0 lagi. Ribet sekaligus exciting.

Nanti lanjut lagi dengan cerita tentang apartemen, sekolah dan living cost. See you on the next post!

School: What You Should Know


IB vs A’Level
Apa sih bedanya sekolah dengan spesifikasi iB dan A’Level?

IB vs A’Level
http://whichschooladvisor.com/guides/ib-vs-a-level-a-wsa-faq/

British vs American Curriculum
Mau pilih sekolah dengan kurikulum Amerika atau British?

http://www.thebritishschool.pl/essentials/the-british-and-american-curricula

http://www.dubaiexpat.com/schools/british-vs-american-curriculum-the-differences/

http://britishexpats.com/wiki/What_do_I_need_to_enroll_the_kids_in_school%3F

The Right Age to Go to School
Umur berapa sebaiknya anak mulai bersekolah?

Delay School Entry until Six, Researchers Urge
http://www.bbc.co.uk/news/education-18084204

Is Five to Soon to Start School?
http://news.bbc.co.uk/2/hi/7234578.stm

When Should a Kid Start Kindergarten?
http://query.nytimes.com/gst/fullpage.html?res=9902E2DC1430F930A35755C0A9619C8B63&pagewanted=1

Toko Bahan Makanan Asia/Indonesia di Abu Dhabi


17/04/13

Jangan khawatir, di sini bahan makanan atau bumbu-bumbu banyak tersedia baik di supermarket besar maupun di toko-toko kecil yang banyak berada di sekitar blok apartemen. Untuk beberapa barang khas kampung halaman atau bahan makanan Asia lainnya bisa dicari di beberapa tempat berikut:

*note: beberapa foto diambil dari kaskus thread UAE ijin copas ya gan 😀 panoramio.com dan forum abudhabiwoman.

1. KBRI
Ada kantin kecil di samping KBRI, jual tempe, peyek, seharga 6 dhs, kadang-kadang ada kemiri, beberapa cemilan seperti siomay, batagor, tape ketan; harganya 12 dhs. Hanya buka saat hari kerja.

2. Alfamart (CLOSED)
Katanyaaa banyak produk-produk Indo di situ, terutama si most-wanted spice yaitu kemiri, tapi nyatanya saat saya ke sana nggak banyak ketemu macam-macam barang. Ada pete, kluwak, cabe rawit, tempe, beberapa barang seperti sapu ijuk, panci pengukus, saringan cendol, daster, balsem, dan lain-lain. Kecap Bango yang katanya ada juga none. Mungkin saat stok baru datang isinya akan lengkap.

20130417-144110.jpg

Lokasinya tidak jauh dari Abu Dhabi Mall dan Restauran Sari Rasa.

20130417-144815.jpg

3. South Asia Foodstuff Est
Lokasinya pas ada di sebelah restoran Bandung. Sekilas lewat, kayaknya ada blueband. Kata yang sudah pernah belanja di sana, ada teri-terian segala tuh. Boleh dimampiri pas makan di Bandung 🙂

20130806-151647.jpg

4. Baqala Green House
Lokasinya di Airport Road sederetan dengan KFC, toko yang mengimpor produk-produk Filipina ini lumayan sering saya kunjungi. Ada daun pandan, jeruk pecel, kangkung, tahu, mie basah, bunga sedap malam, jamur kuping kering, tepung tapioka, pasta terasi (tapi nggak tahu status kehalalannya ya), wonton wrappers alias kulit pangsit.

20130417-144235.jpg

5. Abela
Berada di sebelah gedung Paris Gallery Khalidiya, supermarket ini punya section khusus bahan-bahan masakan Jepang. Ada kulit gyoza, frozen edamame, frozen tempura, nori, penggulung sushi, segala macam shoyu dan lain sebagainya.

20130417-232403.jpg

6. Chinesse Groceries
Cukup banyak Chinesse Grocery di sini, di antaranya:

– Toko di sebelah gedung Ajman Bank seberang Abu Dhabi Mall, stok mereka cukup lengkap.

– Toko di area Madinat Zayed seberang outlet besar “Shoe City”. Arahnya sedikit south-southwest dari MZ shopping center/gold souk. Barang-barang mereka pun cukup bagus.

– Toko di seberang outlet Red Tag di Hamdan Street tapi saya sendiri belum pernah ke sana. Menjual bahan-bahan masakan Asia dan cakuwe-nya katanya enak…

– Toko di sebelah HSBC di Salam street. Tersedia barang-barang impor dari Jepang, kadang mereka juga menyediakan barang-barang “aneh” yang tidak ada di supermarket.

– Toko dengan lokasi GPS: 24.491337,54.369793

7. Korean Grocery K-Mart
Berada di Musaffah, dekat Cambridge High School dan Safeer Centre. Di sini tersedia ramyun, kimchi, udon instan, frozen dumpling, saus cabai, pasta kacang kedelai, dan lain-lain.

8. Thailand Groceries
Sayur-mayur buah segar dari Thailand datang setiap Selasa sore. Ada 2 toko penyedia bahan makanan Thailand di sini, yaitu:

– Toko yang terbesar berada di belakang Al Salama Hospital, dekat Mister Baker bakery, nomor telepon 02 6777 626. Lokasi GPS: 24.500222,54.376348

– Mimi Grocery, lokasi GPS: 24.49639,54.369873

9. Baqala Queen Saba
Berada di belakang Dominos Pizza di daerah Khalidiya (8th Street). Daun pisangnya lebar-lebar (tidak seperti di Lulu yang daunnya pendek) dan kangkungnya juga cantik-cantik. Sayur mayur dan bumbu dapur Asia datang setiap Selasa siang.

10. Tropical Trading Est
– Berada di Hamdan Street dekat Ruby Stationery. Nomor telepon: 02 6742223. Tersedia balachan, daun pandan, lesser galangal, dan sebagainya. Stok datang tiap Rabu.

– Satu lagi berada di pertokoan seberang Capital Plaza Tower belakang Sofitel Hotel. Kadang ada kemangi lho!

11. Choitram
Tahu, bawang goreng, tersedia di Choitram, lokasinya berada di seberang Sheraton Hotel Khalidiya, tepat di perempatan.

12. Spinneys
Salah satu retailer terbesar di Abu Dhabi, berada di 1st Street. Nomor telepon: +97126770577. Bisa googling ke http://www.spinneysonline.com

13. Lulu dan Carrefour
Mereka punya lorong “Ethnic Food” dengan berbagai macam bahan makanan impor dari Jepang, Filipina, Indonesia. Di Lulu Khalidiya Mall ada kecap manis dan asin ABC. Kecap Indofood terlalu cair dan kecap asin merk Kikkoman tidak halal lho, ya! Sedangkan di Carrefour ada matcha alias green tea powder.

Yeap, Anything Can Happen Here: After Fire, Sandstrom, now Earthquake!


11/4/13

Serius, hidup di negara orang (dan negara sendiri) memang harus selalu siap dan waspada. Setelah tanggal 7 April lalu Abu Dhabi dilanda sandstrom alias badai pasir, 2 hari kemudian UAE dilanda gempa. Memang sih cuma beberapa detik saja, tapi hal ini cukup membuat panik warga yang berhamburan menyelamatkan diri bahkan beberapa gedung tingkat tinggi sempat mengevakuasi penghuninya.

Saya sendiri nggak merasakan apa-apa, maklum setiap hari anak-anak berlarian dan lompat-lompat, saking hebohnya di rumah jadi nggak sadar kalau ada gempa 😀 Gempa tersebut adalah di Iran yang berkekuatan 6.3 skala Richter pada pukul 3.42pm. Beritanya ada di sini.

Oleh karena itu, waspadalah, waspadalah.. Siapkan emergency bag selalu ya..

20130411-224145.jpg

*Abu Dhabi pas sandstorm jadi keliatan sephia gini… keren, tapi nggak berani ambil foto dari luar*

What Could Possibly Happen in a such Peaceful Country? Anything!


28/03/13

Sejak awal saya mewanti-wanti suami, jangan pindah ke negara yang sedang bergejolak. Dan ketika pindah ke sini, memang rasanya semua adem ayem sih. Penduduk lokal hidupnya sudah enak dan berkecukupan, nggak ada yang kurang. Ekspat Arab juga sudah dilarang masuk sini. Jadi sepertinya aman dari gejolak Arab Spring yang sedang marak di jazirah Arab.

Maka ketika semalam terdengar bunyi seperti ledakan keras, di tengah kantuk sempat terpikir, “Waduh, jangan-jangan UAE di-bom nih” 😀 Tapi berhubung yakin di negara ini nggak bakal terjadi apa-apa, jadi saya pun berniat tidur kembali. Nggak lama, ramai terdengar berbagai macam sirine mobil polisi, ambulans dan pemadam kebakaran, serta suara helikopter terbang rendah di atas sekitar gedung kami. Penasaran dan deg-degan, dari jendela kamar saya pun melihat ke luar. Kebetulan gedung apartemen berada di tepi jalan raya. Ternyata mobil-mobil tadi berkumpul di sekitar bawah gedung kami! Bersamaan dengan itu, alarm kebakaran gedung berbunyi kencang. Wah alarm yang berbunyi jam 2.30am nggak mungkin cuma latihan dong, serius ini! Jadi apa yang mungkin terjadi di negeri yang aman ini? Kebakaran!

Rupanya bakal gedung yang sedang dibangun di sebelah apartemen kami kebakaran. Jadi penghuni gedung-gedung di sebelahnya pun turut dievakuasi. Kami pun harus turun melalui tangga darurat. Ketika kami turun, penghuni lain sudah banyak yang berkumpul di luar. Polisi bahkan tentara berjaga di sekitar lokasi. Pemadam kebakaran sudah berderet-berderet siap menyemprotan air. Belasan mobil polisi sudah siap di sekitar lokasi. Ambulans sebesar bis sudah siap di tepi gedung. Belum lagi helikopter patroli yang terbang rendah berputar-putar di sekitar gedung. Heboh sekali penanganan kebakaran di sini. Bandingkan dengan di Indonesia, biasanya jika ada kebakaran, rumah sudah rata dengan tanah baru deh pemadam kebakaran tiba. Kena macet ;(

Akhirnya setelah dirasa cukup aman, jam 4am kami pun diperbolehkan masuk kembali. Ketika evakuasi itu kami sempat sedikit panik juga sih, karena nggak ada persiapan jadi terburu-buru mengumpulkan segala paspor, dokumen dan surat berharga untuk dibawa turun plus harus bawa anak-anak lewat tangga darurat. Lumayan juga turun belasan lantai di tengah kondisi evakuasi. Senam jantung 😉

Pelajaran yang didapat hari ini:
~ Apapun mungkin terjadi! Jadi selalu waspada.
~ Selalu siapkan emergency bag di tempat yang gampang diambil. Kalau perlu simpan sekalian paspor, dokumen dan surat berharga dalam tas itu beserta beberapa perlengkapan lain.
~ Jangan pilih apartemen di lantai atas, nanti repot kalau harus turun lewat tangga darurat… Hehehe…

20130411-224337.jpg

Living in Emirates: Yay or Nay?


01/03/13

Untuk bisa tinggal di luar negeri syaratnya adalah bisa meningggalkan kemanjaan selama tinggal di negara asal. Maklum, di Jakarta kita (saya maksudnya) biasa dimanja dengan adanya asisten rumah tangga, baby sitter, keluarga yang siap membantu kapan pun kita butuhkan, juga tetangga yang ramah dan baik. Belum lagi mereka yang masih tinggal bersama orang tua atau mertua. Kemanjaan tiada tara, karena semua sudah tersedia. Di sini? Siap-siap semua dikerjakan sendiri. Bahkan kalau kepingin Mie Aceh pun harus siap cari resep dan bikin sendiri karena di sini tidak ada yang jual 😀

Ya sebenarnya nggak terlalu horor begitu juga sih, asalkan siap modalnya. Bisa ambil asisten rumah tangga, jika ambil ke PJKI total jenderal biayanya berkisar antara 17,000 hingga 20,000 DHS. Atau lebih sederhana, panggi asisten paruh waktu, biaya lebih murah 25 DHS per-jam. Biasanya kita pakai jasa mereka minimal 4 jam. Jadi 250ribu rupiah sekali dibantu 4 jam saja. Oya, jangan terlalu sering mengkurskan pengeluaran di sini atau nanti keder sendiri.

Bagaimana dengan hidup UAE? Secara keseluruhan buat saya cukup menyenangkan dan tidak ada masalah. Tiap minggu ada pengajian fiqih untuk ibu-ibu Indonesia, kelas tahsin Qur’an dan katering menu Indonesia. KBRI sendiri sering mengadakan kegiatan, seperti kelas gamelan, arisan, pengajian rutin tiap minggu, kelas masak atau kelas hijab. Pokoknya kalau mau sibuk terus atau shopping terus, bisa. Teman-teman pun semuanya baik-baik, banyak yang iseng dan serius berjualan barang-barang asal tanah air, jadi jangan khawatir bakal kangen keripik sanjay atau kecap Bango, nanti ada saja yang balik mudik membawa berbagai macam barang yang boleh kita beli. Beberapa kelebihan tinggal di UAE di antaranya:

1. Tidak macet.
Sesuatu banget! Rasanya mau balik ke Jakarta lagi jadi stres. Beneran.

2. Tingkat kriminalitas rendah
Bukan berarti tidak ada ya, tapi di sini lumayan aman. Walaupun demikian, tinggal di negara orang jangan terlalu nekat lah. Tetap pertimbangkan keamanan. Waktu itu pernah saya gendong anak dengan posisi tas terbuka dan disampir ke belakang, berdiri di kerumunan padat selama 10 menitan alhamdulillaaah barang nggak ada yang hilang. Makanya jangan heran di sini jika pergi ke supermarket melihat pemandangan ibu-ibu meninggalkan tasnya terbuka di troli sementara orangnya sibuk memilih belanjaan itu sudah biasa.

3. Tidak seketat tinggal di KSA
Wanita bisa berpergian sendiri dan nyetir mobil sendiri. Penting ini, terutama jika rumahnya di luar kota.

4. Situs porno diblokir
Tenaaang rasanya membiarkan anak-anak surfing internet tanpa pengawasan. Nggak bakal kepleset lihat situs porno karena diblokir pemerintah.

5. Big City Factor
Kotanya lumayan teratur, jalanan besar, bersih, teratur.

5. Dubai Factor
Kalau sedang musim sale… Jangan ditanya.

6. Mau umrah dekat dan murah
Ada agen umrah Indonesia yang mengadakan perjalanan ibadah ke tanah suci selama seminggu, biayanya sekitar 3000 DHS. Berangkat sendiri juga bisa, booking hotel dan pesawat sendiri, sedang visa umrah diurus sendiri (lupa nama tempatnya) biayana sekitar 200 DHS klo tidak salah.

7. Tax-free Factor
This factor make the UAE as one of the top expat’s destination. Tau sendiri besaran pajak yang minta ampun jumlah persennya. Siapa yang bisa menolak kalau penghasilannya dibebaskan dari pajak?

8. Traveling Factor
Wisata ke negara-negara jazirah Arab lebih dekat (yaiyalaaah) sebut saja Blue Mosque di Turki, Petra di Jordania, piramid di Mesir, Maroko, Oman dan lain-lain.

Kekurangannya:

1. Double up!
Semua di sini mahal. Kalau pulang ke Indonesia lalu harga-harga kita kurskan ke dalam dirham, berasa deh kalau di tanah air itu semua muraaah 🙂

2. Jauh dari keluarga

3. Cuaca saat musim panas yang sangat tidak bersahabat

4. Aneka kuliner Indonesia yang selalu ngangenin

5. Sakit hati karena dikira TKW 😀
Serius. Belum pernah sih ngalamin, tapi teman-teman lain pernah.. So dandan keren, jangan kucel dan belagu aja..

Demi Spring Rolls: Mencari Tauge di Abu Dhabi


29/08/12

Gara-gara melihat rice paper di Lulu Al-Raha Mall, jadi kepingin bikin spring rolls. Maka dimulailah perburuan tauge yang merupakan salah satu bahan isi spring rolls. Karena pernah beli tauge di Lulu Al-Falah Plaza, kirain sayuran ini gampang dicari. Tapi ternyata sudah cari ke Carrefour Marina Mall, Carrefour Airport Road, Lulu di Al-Wahda Mall, Lulu di Khalidiya Mall juga tidak ada. Ada ding tauge di Al-Wahda Mall, tapi bentuknya masih berupa kecambah. Serius. Rupanya kita disuruh ‘bertani’ tauge dulu 😀

Berikut cara bikin Vietnamese spring rolls ala r3nar3s:

Bahan:

  • rice paper, seduh air panas beberapa detik hingga lembut, tapi jangan terlalu lama
  • udang, tumis dengan bawang putih
  • telor, potong secukupnya
  • tauge!
  • vermicelli alias soun
  • wortel, potong korek api
  • timun, potong korek api
  • coriander/cilantro alias daun ketumbar
  • daun mint
  • basil, karena tidak punya yang segar maka pakai taburan basil kering

*note: isi spring rolls bisa divariasikan sendiri, misalnya dengan daging ayam, selada, dan lain-lain sesukamu

Cara bikin:

pada selembar rice paper yang telah lembut, atur udang, telur, soun, wortel, timun, daun ketumbar, daun mint, taburi basil, lalu gulung. voila! sudah jadiii.. sajikan bersama spring roll dipping sauce (bisa dibeli di Lulu) atau bikin sendiri resepnya nyontek di sini. *pic copied from here*