Posts from the ‘Thoughts’ Category

Mencari Hidayah


21/08/10

Suatu ketika saya mengingatkan seorang yang sayangi tentang salah satu kewajiban agama yang belum ia jalankan. Bagi saya, ia sudah banyak melakukan ibadah dan kebaikan, hanya tinggal satu hal untuk menyempurnakan segalanya. Dengan nada bercanda saya menyinggung tentang hal itu, tetapi di luar dugaan ia malah marah besar. Ia menganggap saya terlalu ‘reseh’ dengan turut campur kehidupan beragamanya. Hal itu adalah urusan dirinya dan Tuhan. Kalaupun suatu saat ia melaksanakannya, yang pasti bukan karena ‘kata orang’.

Betapa sedihnya saya. Bukan karena ia marah pada saya, tapi karena memikirkan bahwa ia sebenarnya tahu tentang kewajiban itu tapi mengapa menunda menjalankannya. Padahal menunda suatu amalan/ibadah saja merupakan salah satu maksiat hati. Bahwa dengan ilmu dan pengetahuan tentang agama yang didapat sejak sekolah, belum cukup untuk menyempurnakan kewajibannya. Memikirkan bahwa sebenarnya ada juga orang-orang yang seperti dia, yang mengerti tapi menunda keridhoan Allah yang mengalir padanya… Apalagi yang dicari dalam hidup, apalagi yang ditunggu?

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).

“Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)

“Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemberi petunjuk.” (QS. Az-zumar:23).

Naudzubillahimindzalik.. Semoga kita tidak menjadi orang-orang yang disesatkan oleh Allah, ya.. Bila demikian, apakah hidup kita dunia dan akhirat akan barokah? Sesungguhnya jika kita percaya pada Allah dan menuruti agama, maka Allah akan membimbing kita ke jalan-Nya. Bila kita menuruti dunia, maka dunia pula yang akan membimbing kita, makin jauh dari-Nya (PPT 4). Benar juga nasehat itu, kalau dipikir-pikir kesenangan dunia dan akhirat itu kan berbeda jalan? Dugem, minum alkohol, seks (bebas); semua juga tahu itu menyenangkan.. Kalau tidak dosa saja mungkin semua orang mau juga melakukannya 😉 Tetapi apakah itu akan menjadi amalan dan tabungan kita di akhirat kelak? Tentu tidaaak 😉 Jalan dunia dan jalan akhirat itu jelas berbeda. Saat orang lain nongkrong di café, kita sedang puasa Senin-Kamis.. Saat orang lain tidur lelap, kita tahajud.. Saat orang lain menikmati wine</em>, kita hanya minum orange-juice.. Saat perempuan lain pakai baju seksi, kita menutup aurat rapat-rapat.. Mau berenang harus ke kolam khusus wanita, tidak bisa ikut nyemplung di waterboom.. Saat orang lain sudah bercinta dengan kekasihnya saat pacaran, kita harus menunggu halal dulu.. Hahaha..

Kembali lagi soal hidayah.. Ada juga yang berkata bahwa dirinya menunggu hidayah dulu untuk melaukan suatu kewajiban. Benarkah hidayah itu hanya bisa ditunggu? Tidak bisakah kita mencari dan berusaha mendapatkannya? Berikut penjelasannya saya copas dari artikel “Masihkah Menunggu Hidayah” oleh Okky Rahardjo:
(menarik sekali untuk dibaca lokh)

Salah seorang kawan penulis bertanya dengan sedikit “menggoda”. Pertanyaannya adalah, mengapa Allah tidak memberikan hidayah yang sama kepada semua orang, sehingga semua orang beriman kepada Allah? Dan kalau memang Allah memilih hanya bebrapa hamba-Nya saja untuk menerima hidayah, bukankah orang-orang kafir itu bisa “protes” kelak di hari perhitungan, karena mereka kafir disebabkan Allah yang tidak memberi mereka hidayah?

Benarkah demikian keadaannya? Benarkah Allah hanya memberi hidayah kepada orang-orang tertentu saja?
Kata Hidayah, menurut Prof. Quraisy Shihab secara maknawi berarti “memberi petunjuk kepada sesuatu” atau “memberi hadiah”. Sedangkan secara makna qurany sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran, hidayah setidaknya memiliki dua makna:
1. Ad-dilalah wal-irsyad (menunjuki dan membimbing) (QS Fushshilat: 17)
2. Idkhalul iman ilal qalb (memasukkan iman ke dalam hati, atau menjadikan seseorang beriman). (QS Al Qashash: 56)
Kalau begitu, maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana wujud hidayah Allah itu? Bagaimana wujud bimbingan dan petunjuk Allah itu? Kenapa kita harus “menunggu” datangnya hidayah Allah untuk berubah ke arah kebajikan?

Sesungguhnya hidayah Allah itu banyak mengitari kita. Para ulama merumuskan ada 4 jalur hidayah yang diberikan Allah kepada kita. Dan untuk hal itu, kita tidak harus menunggu agar mendapatkannya. Empat petunjuk dan hadiah yang yang Allah sudah berikan kepada kita, entah itu disadari ataupun tidak adalah:

1. Insting
Insting atau naluri adalah pola perilaku atau reaksi yang Allah berikan kepada kita tanpa perlu kita pelajari sebelumnya. Hidayah berupa rasa lapar yang memaksa kita mencari makanan. Hidayah berupa rasa takut yang melindungi dari bahaya. Hidayah berupa naluri untuk saling mencintai yang membuat manusia berkembang biak. Dan lain sebagainya.

Pernahkah Anda melihat video mengenai inisisasi dini? Yaitu sebuah video yang menggambarkan bagaimana insting seorang anak manusia yang sejenak baru terlahir, kemudian di letakkan di perut ibunya. Lalu secara naluriah dia merangkak berusaha mencari puting susu ibunya dan meminum air susu daripadanya. Padahal ilmu kesehatan menyatakan, bahwa bayi yang baru lahir penglihatannya sama sekali belum sempurna. Subhanallah.
Siapakah yang mengajarkan kepada bayi yang baru lahir itu kalau dia harus minum ASI sebagai makanan pertamanya? Siapakah yang memberi petunjuk padanya bahwa air susu itu terpancar dari payudara ibunya? Siapa juga yang menjelaskan padanya tentang bentuk payudara ibunya itu, sehingga si bayi tidak “tersesat” dengan merangkak ke arah kaki, atau hidung, atau malah mengisap telinga ibunya? Mengapa bayi itu seakan-akan sudah tahu kemana arah yang harus dia tuju untuk mendapatkan ASI?
Itulah Hidayah pertama yang Allah berikan untuk kita hamba-Nya. Sebuah bimbingan dasar yang juga Allah berikan kepada segenap makhluk hidup lain.

2. Hidayatul Khawas (Indera)
Petunjuk kepada keselamatan kedua dari Allah adalah indera kita. Karena sebagai manusia, insting dan naluri saja belumlah cukup adanya. Dengan indera inilah, maka naluri manusia itu diarahkan. Secara naluriah manusia akan mencari makan di saat lapar, tapi lidahlah yang kemudian “memilihkan” makanan yang layak masuk ke dalam tubuh dan yang tidak. Secara naluriah pula, manusia waspada bila mendengar sesuatu yang mengejutkan. Tapi telinga dan hati kitalah yang pada akhirnya membedakan, mana suara panggilan dan mana suara ancaman. Singkatnya, manusia diberikan derajat yang lebih baik lagi dibanding makhluk Allah lainnya dengan diberikannya indera.
Dan sebagai Hidayah dari Allah, Indera kita tidak akan pernah memberi petunjuk kepada sesuatu yang menyesatkan. Coba saja rasakan, bagaimana secara reflek mata kita menyipit ketika melihat cahaya yang berlebihan yang masuk. Bagaimana juga kita lihat tangan kita secara cepat menarik diri ketika memegang sesuatu yang menyakitkan. Bahkan lidah kitapun, ketika pertama kali merasakan alkohol, asap rokok, racun dan sembarang makanan berbahaya lain, akan memberikan respon penolakan pada awalnya. Ini semua karena Indera memang diciptakan Allah sebagai penunjuk jalan. Sebagai pembimbing bagi kita untuk menikmati hidup lebih baik lagi.

3. Hidayatul ‘Aqly (Akal)
Subhanallah, ternyata naluri dan inderapun belum cukup untuk memberi peringatan dan pengajaran kepada manusia. Barangkali memang cukup untuk sekedar bisa hidup dan beranak-pinak di dunia ini. Akan tetapi, bukankah tujuan utama diciptakannya manusia adalah menjadi khalifah di muka bumi? Tentu belum cukup “modal” menjadi khalifah kalau hanya mengandalkan indera dan naluri. Maka Allah memberi kita “software” sekali lagi. Dia lah akal.

Ya, akal itulah hidayah ketiga yang diberikan kepada kita. Akal menyempurnakan apa yang sudah diperoleh dari naluri dan indera kita. Akal menjelaskan tentang sebuah kejadian yang hanya tertangkap sekilas oleh indera. Akal memberikan jawaban dari sebab akibat setiap perilaku yang kita lakukan.
Naluri dan indera kita menuntun untuk menghindari sesuatu yang bersifat panas membakar. Indera kita memberi tahu, seberapa panas barang itu dengan merasakannya. Tapi ternyata indera kitapun “berbohong”. Karena apabila tangan kita-misalnya- menyentuh air panas lalu kemudian ganti menyentuh air dingin, maka air dingin itu ternyata akan terasa hangat, meskipun pada hakekatnya adalah dingin. Maka akallah yang kemudian menuntun tentang berapa derajatkah panas air itu. Jadi sekedar naluri dan indera saja, belum cukup untuk memberi petunjuk kepada manusia.

Berakal berarti bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Berakal berarti mampu memisahkan mana yang hak dan mana yang batil. Berakal berarti mampu memilah mana yang benar dan mana yang salah. Berakal berarti bisa lebih berhati-hati lagi menyikapi sesuatu. Berakal berarti mampu mengembangkan diri untuk hidup lebih baik dan lebih terhormat lagi.

4. Hidayatu Ad-Dien (Hidayah Agama)
Akal sekalipun sesungguhnya juga sangat terbatas kemampuannya. Sering akal buntu menjawab beberapa pertanyaan mendasar mengenai manusia. Seperti awal bagaimana manusia itu ada, hendak kemana kelak manusia akan menuju dan siapa Dzat Maha Cerdas yang mengatur perputaran alam ini dengan sedemikian sempurna?

Manusia dengan naluri, indera dan akalnya berusaha meraba-raba akan jawaban semua pertanyaan itu. Maka terkadang manusiapun terjatuh pada kesimpulan yang salah. Karena keterbatasan akal, banyak manusia yang pada akhirnya menuhankan benda, pepohonan, gunung, lautan, matahari, ataupun roh-roh leluhur yang diyakini menguasai dan mengatur alam semesta ini.

Untuk itulah Allah menurunkan agama sebagai hidayah pamungkas. Aturannya tertulis rapi dalam lembaran mushaf dan hadis Rasulullah. Begitu terperinci dan sempurna memberi jalan dan tauladan. Begitu indah dan tepat memberikan argumen dan jawaban dari setiap pertanyaan. Begitu teratur dan lugas melukiskan harapan sekaligus ancaman dari tiap-tiap perbuatan. Begitu tepat dan meyakinkan menjelaskan fenomena alam yang menakjubkan. Begitu santun dan sejuk mengajak manusia ke jalan kedamaian. Isinya begitu selaras, serasi, dan seimbang dengan fitrah insani. Tidak berlawanan dengan naluri, tidak bertentangan dengan sentuhan indrawi, dan bahkan menjadi pelurus dan pembimbing arah berpikir bagi akal yang terbatas ini.

Jadi ketika kita temui seseorang yang menolak ajakan kita menuju kebaikan misalnya. Lalu beralasan bahwa “Allah belum memberiku Hidayah”. Maka coba anda tanyakan kepadanya, apakah Allah belum memberinya naluri yang memberi petunjuk awal bagaimana hidup dengan baik? Apakah Allah belum memberikan kepadanya lima indera yang menuntunnya mengembangkan diri? Apakah Allah juga tidak memberinya akal untuk berpikir dan membedakan mana yang baik untuk diikuti dan mana yang harus ditinggalkan? Dan yang terakhir, tanyakanlah kepadanya, tidak cukupkah Nabi, Rasul dan Ulama yang membimbing kita untuk mengenal Allah dan segala ketentuannya?

Dan kalau jawabannya adalah “YA”, lalu apa alasannya menunda keridhoan Allah mengalir kepadanya?
Wallhua a’lam bi as-showab.
(Oky Rahardjo, Masihkah Menunggu Hidayah)

Ikhlas untuk Berjilbab


14/05/10

Tulisan ini saya ramu dari tulisan MT di facebook yang berjudul “HIDUPLAH SEBAGAI JIWA YANG IKHLAS”.

Ceritanya setelah membaca supernote MT tersebut, saya jadi terinspirasi untuk menulis tentang keikhlasan dan berjilbab. Ikhlas menurut MT adalah seutuhnya menerima Tuhan dengan segala kebenaran-Nya.

Kebenaran Tuhan adalah untuk kemuliaan kita, dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan setelah kehidupan ini.

Maka,

Jiwa yang menerima Tuhan dengan seutuhnya sebagai pemimpin kehidupannya, akan dibenarkan kehidupannya dengan cara-cara yang indah.

Tetapi jiwa yang pelik dan ketil berhitung dalam keputusan yang tarik-ulur dalam menjadikan Tuhan sebagai pemimpin kehidupannya, dan kadang-kadang mencoba perhitungan akal-akalan untuk menyiasati kewenangan Tuhan mengenai nasibnya,akan tetap dibenarkan kehidupannya – tetapi dengan cara-cara yang tidak akan disukainya (© MT).

Jika demikian, apabila kita ikhlas menerima Tuhan dengan segala kebenaran-Nya, menerima Allah sebagai pemimpin kehidupan kita; maka kita tidak perlu ragu untuk menerima perintah-Nya, menjalankan apa yang diperintahkan kepada kita dan menjauhi larangan-Nya. Termasuk juga perintah berjilbab. Tidak perlu bertanya kenapa kita harus berjilbab (atau ajaran-Nya yang lain). Tidak perlu mengharuskan Tuhan memenuhi syarat keraguan hati kita, sebelum kita ikhlas berupaya. Tidak perlu berargumentasi dengan alasan-alasan dari hasil pemikiran akal manusia untuk menyiasati perintah-Nya, untuk tidak melaksanakan ajaran-Nya atau untuk melanggar apa yang dilarang-Nya. Apakah manusia ciptaan Tuhan ini lebih pintar dari Yang Menciptakannya? Kenapa manusia ini tidak bisa seperti kaum Anshor yang langsung patuh menjalankan perintah-Nya setelah perintah itu turun, tanpa bertanya dan protes sepatah katapun? Kenapa manusia zaman sekarang semakin pintar tapi juga semakin pintar menyiasati kebenaran Tuhan?

Mengapakah ikhlas itu sulit?

Karena engkau memilih mempertahankan kebiasaan dan kesenangan mu yang tak akan memperkuat dan memuliakanmu, daripada memilih pikiran, sikap, dan perilaku yang ditetapkan oleh Tuhan sebagai jalan lurus menuju kedamaian dan kesejahteraanmu (© MT).

Mengapa kita sulit menerima hijab sebagai perintah-Nya? Karena kita terbiasa dan senang dengan keadaan yang tidak beriorientasi ke arah ajaran-Nya. Kita terbiasa dengan pakaian-pakaian dari mode yang tidak sesuai dengan ajaran-Nya. Berubah itu sulit; karena pikiran, sikap dan perilaku yang ditetapkan Allah sebagai jalan lurus menuju kedamaian dan kesejahteraan itu berbeda dan bertentangan dengan kebiasaan dan kesenangan kita. Betul? Olehkarena itu untuk berjilbab-pun dibutuhkan keikhlasan. Demikian pula dengan keikhlasan untuk menerima kebenaran-kebenaran Allah yang lain.

Wahai jiwaku, ikhlaslah.
Engkau dan aku berhak bagi keindahan hidup yang menjadi hak bagi jiwa yang ikhlas.

Maka, marilah kita berhenti hanya bertanya, tanpa bersungguh-sungguh mencoba.

Marilah kita berhenti mengharuskan Tuhan memenuhi syarat keraguan hati kita, sebelum kita ikhlas berupaya.

Marilah kita berhenti mensyaratkan semuanya mudah, sebelum kita bersedia berupaya.

Marilah kita berhenti meminta jaminan bahwa upaya kita akan dihargai oleh Tuhan, karena jaminan itu adalah kepastian bagi yang ikhlas.

Marilah kita berhenti menyalahkan Tuhan atas kelemahan-kelemahan kita, karena banyak orang yang tak sekuat kita – yang berhasil karena keikhlasannya (© MT).

Bagaimana, apakah tulisan MT dapat menginspirasi Anda untuk ikhlas juga?
Semoga.
Amin.

Wallahu’alam Bissawab.

Boleh dibaca juga nih:
Kenapa Tidak Berjilbab?
Kenapa Berjilbab (2)
Kenapa Berjilbab (1)
Jilbab dalam “My Name is Khan”
Manfaat Berjilbab
Jilbab BUKAN Masalah Khilafiah

Jilbab dalam “My Name is Khan”


30/04/10

Habis nonton My Name is Khan (MNK)!
Lumayan laaah.. Sedikit pencerahan tentang Islam.. Walaupun ada beberapa yang tidak sesuai dengan ajaran Islam sepenuhnya, seperti tentang mix-marriage.. Ahemmm.. Tidak bisa didebat bahwa menurut apa yang aku tahu, kalau perkawinan beda agama itu is a BIG NO-NO. Tetapi poin utama dari film MNK bahwa Islam bukanlah agama teroris, Islam adalah agama yang santun dan penuh cinta kasih, patut diacungi jempol. Cuma mengejutkan juga melihat bagaimana perlakuan dunia barat terhadap kaum muslimin setelah 9/11.. Selama ini hanya dengar beritanya, tidak begitu terasa.. Tapi setelah melihat visualnya rasanya sedih juga ya..

Satu lagi yang berkesan adalah ucapan Hasina ketika dia memakai kembali jilbabnya.. Kita-kira begini, “Hijab saya bukan hanya bagian dari identitas agama saya (Islam) tetapi juga bagian dari keberadaan saya. It is me.” WOW.. Begitulah yang seharusnya wanita muslimah rasakan terhadap jilbab.. Kita harus bangga akan jilbabnya sebagai bagian dari identitas diri wanita muslimah. Apakah kita malu beragama Islam? Jika tidak, tentu juga tidak perlu malu berjilbab. Tidak perlu juga merasa keberatan memakai jilbab, karena itu adalah bagian dari agama yang kita yakini ini. Apakah kamu yakin dengan Islam sebagai agamamu? Kalau begitu jangan pernah ragu untuk pakai jilbab ya 🙂

Cuma ada yang disayangkan sedikit.. Kenapa Hasina harus melepas jilbabnya ketika terhadi perlakuan diskriminasi terhadap dirinya.. Mestinya sih.. Dia hijrah saja dari Amerika.. Nabi SAW juga hijrah dari Mekkah ke Madinah karena merasa tidak mungkin ‘menang’ dari kaum Quraisy di Mekkah.. Karena itu, kaum muslim butuh tanah kelahiran baru untuk pengembangan masyarakat muslim sendiri.. Demikianlah Nabi SAW memberi contoh. Dalam pikiranku yang sederhana, buka jilbab berarti buka aurat.. Buka aurat berarti telanjang.. Hadoooh, mending pindah ke tempat aman daripada harus mengorbankan ‘keyakinan’.. Apa demi keamanan diri, kita harus melanggar apa yang diperintahkan Allah? Padahal kalau tidak menutup aurat, kita tidak akan mencium baunya surga.. Awww.. Tidaaaak! Seperti itulah kira-kira yang kubayangkan.. 😉

Apa berarti Allah itu tidak pengertian? Tentu tidak.. Kita sebagai manusia saja yang harus pintar mencari jalan Allah.. Allah tidak akan mengorbankan umatnya yang beriman kok.. Sebagaimana yang dicontohkan dalam kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail.. Allah menguji keimanan-keyakinan-kepercayaan Ibrahim pada-Nya dengan meminta beliau untuk mengurbankan Ismail.. Ibrahim dan Ismail sangat beriman pada-Nya maka sangat dicintai Allah, sehingga Ia mengganti Ismail dengan seekor domba.. Begitulah.. Sama seperti yang diceritakan Rizvan ketika mendebat seorang perekrut teroris di sebuah masjid 🙂

Anyhow..
Film ini layak tonton lah.. Hanya saja, jangan jadikan hatimu seperti spon yang menyerap hal-hal yang syubhat ketika menontonnya.. Jadi jika ada hal yang tidak sesuai, jangan langsung diserap mentah-mentah gituuu.. Tetapi jadikan hatimu seperti kaca yang ketika bertemu hal-hal syubhat, maka ia akan dapat melihat kejernihan dan kebenaran… Amin.. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Miftah Dar as- Sa’adah oleh Imam Ibnul Qayyim, l/443)

Wallahu’alam bissawab

Baca juga dong:

Kenapa Tidak Berjilbab?
Ikhlas untuk Berjilbab
Kenapa Berjilbab (2)
Kenapa Berjilbab (1)
Manfaat Berjilbab
Jilbab BUKAN Masalah Khilafiah

Memilih Anak atau Karir


Pak Mario Teguh bilang…

Kita tidak bisa berharap untuk sukses dalam 2 hal. Karena hal itu ibarat mengejar 2 kelinci. Tidak mungkin kan, kelinci-kelinci itu lari ke arah yang sama?

Benar juga, ya. Kata-kata itu pas betul buat saya. Energi dan perhatian saya akan terpecah menjadi 2 sehingga hasilnya tidak akan maksimal. Salah-salah malah tidak ada satu kelinci-pun yang didapat. Lain halnya jika kita fokus untuk mengejar satu kelinci. Seluruh energi dan konsentrasi kita maksimalkan hanya untuk mengejar kelinci itu. Tentu kemungkinan untuk mendapatkannya lebih besar.

Jadi mau-tidak-mau, saya harus memilih. Pilihan saya adalah hal yang saya prioritaskan. Demikian pula saya sebagai seorang ibu, rasanya tidak mungkin bagi saya untuk berkarir dan mengasuh anak sekaligus. Saya di kantor tetapi pikiran saya mengingat anak-anak. Tidak bisa konsentrasi pada pekerjaan. Saya di rumah teringat pekerjaan besok. Tidak bisa fokus momong anak-anak. Saya mengasuh anak saja belum becus, mau dibagi 2 dengan bekerja. I’m not that SUPER. Apa boleh buat, harus ada kelinci yang dikorbankan. Daripada saya sukses tapi anak-anak terlantar. Atau lebih parah; karir gagal, anak-anak juga terlantar. Kalau anak-anak terurus dan karir gagal? Ya kalau tetap nekat kerja berarti akan banyak korupsi yang saya lakukan. Masuk lebih siang, pulang lebih cepat, bolos untuk keperluan anak, dan sebagainya. Malah jadi banyak dosa, anak-anak menjadi fitnah bagi saya. Maka saya memilih mengorbankan pekerjaan dibanding orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya.

Hanya sementara. Nanti jika mereka sudah besar dan mandiri, saya akan kembali mencari kesibukan lain… 🙂 Soal rezeki yang hilang karena tidak dapat gaji lagi setelah berhenti kerja? Yah, jangan berburuk sangka pada Allah. Rezeki itu datangnya dari Allah dan Allah yang atur dengan sempurna. Rezeki tidak akan salah pintu. Mungkin rezeki saya akan mengalir melalui pintu rezeki suami saya. Mungkin juga saya mendapatkan rezeki jika memulai pekerjaan baru yang dapat saya atur dari rumah. Wallahu’alam. Banyak juga cerita tentang suksesnya ibu-ibu yang bekerja di rumah. Entah dari bisnis handycraft, katering, OLS, freelance, penulis dan sebagainya. Kan Allah juga yang menganjurkan agar wanita sebaiknya “di rumah” (QS. Al-Ahzab: 33). Bukan berarti wanita yang bekerja itu tidak baik. Dokter wanita apalagi dokter kandungan masih sangat diperlukan pasien. Tapi saya bukan dokter, pekerjaan saya pun tidak menyangkut hajat hidup orang banyak, berkarir bukan buat saya. Maka dengan bismillah saya pun berhenti bekerja (kantoran) demi keluarga dan anak-anak saya. Saya percaya jika kita ikhlas menjalani apa-apa yang dianjurkan-Nya, maka Allah pun akan menunjukkan dan memudahkan jalan, aamiin…

Seperti yang pernah saya katakan kepada seorang teman, anak-anak itu cepat besarnya. Hanya sebentar mereka “membutuhkan” saya. Nanti kalau sudah penuh waktu di sekolah, kembali deh waktu saya “seorang diri”. Mau kerjakan apa saja, bisa. Maka demi waktu mereka yang sebentar itu, saya korbankan waktu saya untuk menemani mereka. Melihat mereka tumbuh berkembang. Saya tidak ingin menyesal, melewatkan waktu-waktu emas mereka tumbuh besar, yang hanya terjadi sekali dan tidak bisa diulang. Saya ingin menjadi yang pertama; yang melihat mereka tersenyum, mendengar celoteh pertama, melihat langkah pertama, mendengar cerita mereka sepulang sekolah, dan sebagainya. Saya ingin melihat dan dilihat mereka sepanjang hari, menemani mereka bermain lego dan puzzle, bukan si mbak. Untuk itu, saya harus memilih. Dan saya bersyukur, saya punya “kemewahan” untuk memilih berhenti bekerja dan menemani anak-anak.

Anak adalah investasi dunia-akhirat (Murni Budiadi)

Artikel terkait:
>> Haruskah Berhenti Bekerja (It’s Baby Time)
>> Prioritas Sang Ibu

Tumben… (Heboh ‘SP’)


5/11/08

Yah… Daripada nggak ada yang ditulis nih… 😉

Setelah sekian lama nggak ngecek blog-stat… Eh, tumben ada yg nyasar ke postingTentang Rasulullah Menikahi Aisyah…” Pasti gara-gara kasus SP itu deh, jadi ada yg penasaran… Nggak ngerti deh, tau sendiri Indonesa’ negara yang begenong, eh nekat juga ngawinin perempuan 12 tahun… Ya hueboh laah… Kalo menurut hukum agama, mungkin dia nggak salah; tapi secara kan dia tinggal di Indo, yang bukan negara Islam dan punya hukum pernikahan sendiri… Yaa… Mau nggak mau karena dia tinggal di Indo kudu ngikutin hukum Indo, jadi lah secara hukum dia salah karena si penganten masih di bawah umur… Heran juga sih, apa nggak ada cewek berumur yang bisa dikawinin apa ya, sampai harus nikahin ABG. Apa ABG di sini juga matang secara psikis–siap menikah?

Tapi kalo menurut aku, nggak bijaksana juga sih kalo langsung meng-judge dia pedofil… (pengantennya udah mens kan?) Would you call our prophet like that coz marrying 9-yo girl? (untuk bisa disebut pedofil ada kriterianya menurut DSM) Secara di desa-desa Indo sendiri, begitu anak perempuan baligh langsung dinikahkan… Si bibik pegawai aku juga pas nikah umurnya baru 14 tahun. Kudunya suaminya bisa didakwa melanggar hukum karena menikahi si bibik di bawah umur tuh! Bukan hanya terjadi jaman mbiyen (jadul), bahkan sampai saat ini loh! Contohnya mertua bibik aku yg resah karena anak perempuannya yang baru 15 tahun kelas 1 SMA sampai sekarang belum mau nikah juga (padahal yang melamar banyak). Katanya udah perawan tua! Weleh-weleh… Kebayang nggak sih, kita dulu pas umur 15 tahun disuruh nikah? Menurut bibik aku; kalo di kampung, perempuan umur segitu sih emang biasanya udah nikah… Tuh, kan… Kalo gitu banyak dong yang mesti dipenjara gara-gara menikahi perempuan di bawah umur!Kenapa mesti heboh sama si SP ini sih? “Emang siapa sih dia (sampai menimbulkan kehebohan ini)?!” protes seorang rekan di milis. Embeeerrr…

Above of all; di luar isu kesehatan reproduksi, hak-hak anak, hukum pernikahan di Indo, Nabi SAW dan Aisyah… (Heeiii… Jangan bandingin sama istri Nabi dong! Kalo Nabi memang manusia nggak bener, masa iya beliau dijadikan Nabi dan disuruh jadikan teladan pulak sama Allah–Sang Pencipta kita?!) Kalo si perempuan udah mens (siap secara biologis), siap secara mental (untuk berumah tangga), mau nikah ya silahkan… Wong udah siap ini?! Kalo udah siap nikah dan bisa nikah hukumnya kan jadi wajib untuk nikah. Lihat aja kasus-kasus anak SD yang terlibat perkosaan setelah nonton BF. Kalau dipikir, emang mereka masih SD. Tapi kalo udah baligh dan punya dorongan seksual? Ya jadi’ juga deh…

Lalu… Mungkin (mungkin lho… maaf kalau salah, jangan tersinggung), perempuan desa dan kota beda. Kalau di desa, menurut si bibik memang anak perempuan itu ‘disiapkan’ untuk menjadi istri… Jadi begitu mens… Ya dikawinin… Bukan seperti anak perempuan kota yang dididik untuk sekolah tinggi, menggapai cita-cita, dapat kerjaan bagus, baru menjadi istri… Iya, kan. Jadi kesiapan mentalnya mungkin beda juga. Aku dulu kalo umur 15 tahun disuruh kawin juga pasti bakal stres kalee… Tiap hari nangis bombay. Karena nggak kebayang harus berumah tangga dan punya anak, sementara masih ingin sekolah, main, bergaul dan lain-lain. Sementara si bibik; memang nggak bercita-cita demikian, jadi ya siap aja nikah dan punya anak umur 14 tahun, apalagi karena sejak awal memang sudah disiapkan untuk itu.

Jadi… mestikah kita heboh sama si SP ini?

Kenapa Berjilbab (2)


10/07/08
Simply because Al-Qur’an said so, Allah SWT told you so. Rasulullah SAW told you so. Datang ke pesta ada dresscode-nya, kita nurut, mau pakai sesuai aturan. Kalau belum punya bajunya, dibisa-bisakan beli. Masa dresscode dari Allah kita nggak mau berusaha mengikuti? Aturan manusia, ikut. Aturan dari pencipta manusia, ngeyel? Hayo dipikir coba bener nggak itu.

Beberapa ayat Al-Qur’an tentang perintah berjilbab (menutup aurat) adalah sbb:

QS. Al-A’raf: 26, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

QS. Al-Ahzab: 59, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.”

QS. AL-Ahzab: 33, “Dan hendaklah engkau tetap di rumahmu dan janganlah berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dulu.”

QS. An-Nuur: 31, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Lebih spesifik pada ayat pertama surat An-Nuur (QS. 24: 1) yang mendahului ayat-ayat lain, Allah SWT sudah mengingatkan, “(Ini adalah) satu surat yang kami turunkan dan kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalamnya), dan kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya.” Hal ini berarti hukum-hukum yang berada di surat itu adalah wajib.

Lalu jika ada yang mengatakan bahwa menutup aurat itu tidak wajib, jilbab itu bersifat urgensi, saya tidak tahu tafsirannya bagaimana 😕 .

Tadinya saya juga mau menulis hadis-hadisnya juga. Tapi kok ternyata banyak sekali… Tapi yah, kalau dalam Qur’an saja perintahnya sudah tersebut sebanyak itu (belum lagi hadis-hadis shahih penguatnya) menurut saya sudah lebih dari cukup untuk dikatakan bahwa berjilbab, berhijab (menutup aurat itu wajib). Dalam QS. Al-Ahzab: 36 pun, sudah jelas dikatakan bahwa, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.”

Suka tidak suka, mau tidak mau, ya harus dilaksanakan. Mungkin karena itu sehingga ada yang bilang bahwa Islam itu agama yang suka maksa. Saya pikir kalau manusia itu ikhlas, tawaqqal dan iman, pastinya ya tidak akan merasa dipaksa. Apalagi kalau memahami (walaupun belum sepenuhnya mengerti) bahwa apa yang disyariatkan itu adalah untuk kebaikan manusia juga, maka pasti manusia akan melaksanakan perintahnya dengan senang hati. Seperti halnya kisah para perempuan Anshar dari kaum Muhajirin (ikut hijrah) pertama yang disayangi Allah SWT karena ketaatannya, ketika datang ayat QS. AN-Nur: 31, mereka langsung menyobek kain wolnya untuk dijadikan kerudung (Shahih Bukhari Bisyahril Karmani, Juz XVIII, p.26-27). Hebat betul. Bahkan tidak pakai bertanya lagi kenapa harus melakukan suatu hal yang (pada saat itu) tidak umum. Bandingkan dengan saya yang bahkan (katanya) sudah paham perintah dalam Al-Qur’an dan hadis, tapi masih belum puas dan bertanya untuk mencari pembenarannya dulu sebelum melaksanakan. “Kalau memang wajib, kenapa tidak disebutkan dalam rukun Islam dan iman sekalian sih,” bantah saya dulu. “Lha kalau disebutkan semua rukunnya jadi banyak banget dong,” kata suami saya, “Lagipula rukun-rukun itu kan sudah merangkum dari inti keseluruhannya.” Yaa… Iya juga sih. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, yang namanya IMAN itu berarti percaya dan yakin, dengan segala yang ada dalam Islam. Baik itu ajaran, syariat, perintah, larangan, anjuran dan sebagainya.

Rasulullah SAW sudah pernah bersabda bahwa dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir (HR Muslim 8/210). Kalau tidak mau ‘dipaksa’, tidak mau ‘terpenjara’ dalam sederet aturan dan syariat (Islam)? Ya, jangan memilih Islam… Apalagi perintahnya banyak betul. Tapi seperti yang sudah sering saya tulis, Islam itu agama satu paket. Keseluruhan isi paketnya harus dilaksanakan, tidak bisa pilih-pilih. Namanya juga perintah (dan larangan) dari Yang Menciptakan kita dan hukumnya wajib. Perintah dari bos saja kalau tidak dilaksanakan, kita takut dipecat. Atau paling tidak kena sanksi deh atau pengurangan bonus, penurunan nilai performance, dst. Lah kalau perintah dari Tuhannya manusia dan semua makhluk, pemilik kehidupan, Bos dari segala bos, kok manusia berani mangkir? Manusia itu betul-betul nekat. Tidak takut dengan sanksinya Tuhan. Apa karena surga dan neraka itu tidak nyata ya. Tapi kalau begitu kembali lagi ke masalah iman dong (masih ingat rukun iman: percaya kepada hari akhir?). Tapi itu juga manusia masih bisa berkelit pulak dengan mengatakan bahwa manusia itu memang tempatnya salah dan dosa, kok. Weh-weh-weh… Sudah diberi akal, bahkan ada pula yang sudah diberi kelebihan daripada yang lain, tapi malah menggunakan kepintarannya untuk mempertanyakan dan menyangsikan ayat-ayat Allah. Bingung, kan… Semoga kita tidak menjadi orang-orang yang sesat seperti dalam surat Al-Ahzab itu yaa…

Wallahu’alam bissawab

Baca juga yang ini:

Kenapa Berjilbab (1)

Kenapa Tidak Berjilbab?
Ikhlas untuk Berjilbab
Jilbab dalam “My Name is Khan”
Manfaat Berjilbab
Jilbab BUKAN Masalah Khilafiah

Insight of The Day: Yang Lebih dan Yang Kurang


10/07/08
Saat ngobrol ringan, seorang teman bercanda ‘mencela’ kekurangan saya. Kebetulan pada bagian itu memang menjadi kelebihannya dia. Saya biasanya tak ambil pusing, tapi kali ini disinggung sedemikian rupa membuat saya menyadari sesuatu. Ada seseorang yang menyebutkan kekurangan saya, seperti mengingatkan saya agar tidak sombong. Di atas langit, masih ada langit. Ada orang yang memuji kelebihan saya, juga mengingatkan saya agar tidak lupa bersyukur atas semua yang saya miliki. Alhamdulillahirabbil’alamin

Kesempatan Kedua (Dua Hal yang Harus Dilupakan)


15/02/08
Seorang teman berkabar setelah sekian lama kami putus komunikasi. Kami berteman sudah cukup lama. Sebuah masalah datang dan saya mengira hubungan kami sudah berakhir. Ketika itu saya marah sekali—atau lebih tepatnya kecewa, atas ketidakpercayaannya pada saya yang membuat dia melakukan hal-hal di luar dugaan. Saya sempat berpikir dia mungkin tidak sengaja, tetapi saya tetap tidak menyangka dia bakal ’tega’ melakukannya. Saya merasa hubungan kami bagai cermin retak, yang tidak mungkin utuh kembali walaupun kepingan-kepingannya disatukan. Saya bahkan tidak mau mendengar penjelasan apapun, yang saya anggap sebagai alasan yang dicari-cari untuk justifikasi perbuatannya. Saya memuaskan diri dengan fakta-fakta yang saya temukan sendiri untuk kemudian berduka atas ’musibah’ yang menimpa saya.

Bila ada pepatah yang mengatakan ”time will always heal the pain”, mungkin benar adanya. Masalah di waktu itu menjadi hal kecil buat saya sekarang. Saya pun yakin, dia juga sudah ‘menyesali’ apa yang telah dilakukannya. Sengaja atau tidak, hal itu sudah membuat hubungan baik kami berantakan. Waktu juga yang membuat saya banyak berpikir. Daripada teori ’cermin retak’, saya kini lebih suka menganggap bahwa satu bab dalam hubungan kami telah selesai dan bersiap memulai bab baru bersamanya. Saya ingat-ingat bahwa saya pun pasti punya salah juga pada orang lain. Jika saya berada di pihak yang salah, pasti saya juga ingin diberi kesempatan untuk menjelaskan semua. Juga kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya. Lalu kenapa pada orang lain saya tidak melakukan hal yang sama? Something wrong with my empathy-button, pikir saya. Ego saya begitu besar, emosi tinggi dan pikiran pendek. Rasanya sungguh tidak adil menghakimi sesuatu berdasarkan fakta dari sebelah pihak.


Ada dua hal yang harus kamu lupakan, kebaikan yang pernah kamu berikan kepada orang lain
dan kesalahan yang pernah dilakukan orang padamu. (Anonymous)


Sayangnya, kenapa saya tidak berpikir begitu dari dulu ya? Jika demikian, kan saya dan dia tidak harus berjarak sejauh ini. Saya dan dia, sama-sama telah kehilangan teman baik. Rugi. Saat itu saya lebih menuruti emosi untuk marah daripada mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri dan berpikir jernih. Padahal jika saya bisa menahan emosi, semua pasti dapat terselesaikan dengan baik. Kami kan memang berteman baik, jadi pasti ada itikad dari kedua belah pihak untuk memperbaiki keadaan. Hal ini benar-benar menjadi sebuah pelajaran buat saya. Berikanlah satu kesempatan juga pada diri sendiri untuk berpikir dan bertindak lebih rasional. Kadang-kadang memang saya masih kesal jika ingat kejadian itu. Tapi kapan kita mau maju jika terus mengingat masa lalu? Mungkin, seharusnya saat itu saya mendengarkan penjelasannya. Jika dia atau saya mencoba berkomunikasi kembali, itu akan menjadi awal yang baik untuk memulai hubungan pertemanan kami. Saya pun harus memberi diri sendiri kesempatan kedua untuk belajar menerima kekurangan dan kesalahan orang lain, seperti halnya saya ingin diberi kesempatan atas kesalahan saya pada orang lain.