Archive for Maret, 2013

What Could Possibly Happen in a such Peaceful Country? Anything!


28/03/13

Sejak awal saya mewanti-wanti suami, jangan pindah ke negara yang sedang bergejolak. Dan ketika pindah ke sini, memang rasanya semua adem ayem sih. Penduduk lokal hidupnya sudah enak dan berkecukupan, nggak ada yang kurang. Ekspat Arab juga sudah dilarang masuk sini. Jadi sepertinya aman dari gejolak Arab Spring yang sedang marak di jazirah Arab.

Maka ketika semalam terdengar bunyi seperti ledakan keras, di tengah kantuk sempat terpikir, “Waduh, jangan-jangan UAE di-bom nih” 😀 Tapi berhubung yakin di negara ini nggak bakal terjadi apa-apa, jadi saya pun berniat tidur kembali. Nggak lama, ramai terdengar berbagai macam sirine mobil polisi, ambulans dan pemadam kebakaran, serta suara helikopter terbang rendah di atas sekitar gedung kami. Penasaran dan deg-degan, dari jendela kamar saya pun melihat ke luar. Kebetulan gedung apartemen berada di tepi jalan raya. Ternyata mobil-mobil tadi berkumpul di sekitar bawah gedung kami! Bersamaan dengan itu, alarm kebakaran gedung berbunyi kencang. Wah alarm yang berbunyi jam 2.30am nggak mungkin cuma latihan dong, serius ini! Jadi apa yang mungkin terjadi di negeri yang aman ini? Kebakaran!

Rupanya bakal gedung yang sedang dibangun di sebelah apartemen kami kebakaran. Jadi penghuni gedung-gedung di sebelahnya pun turut dievakuasi. Kami pun harus turun melalui tangga darurat. Ketika kami turun, penghuni lain sudah banyak yang berkumpul di luar. Polisi bahkan tentara berjaga di sekitar lokasi. Pemadam kebakaran sudah berderet-berderet siap menyemprotan air. Belasan mobil polisi sudah siap di sekitar lokasi. Ambulans sebesar bis sudah siap di tepi gedung. Belum lagi helikopter patroli yang terbang rendah berputar-putar di sekitar gedung. Heboh sekali penanganan kebakaran di sini. Bandingkan dengan di Indonesia, biasanya jika ada kebakaran, rumah sudah rata dengan tanah baru deh pemadam kebakaran tiba. Kena macet ;(

Akhirnya setelah dirasa cukup aman, jam 4am kami pun diperbolehkan masuk kembali. Ketika evakuasi itu kami sempat sedikit panik juga sih, karena nggak ada persiapan jadi terburu-buru mengumpulkan segala paspor, dokumen dan surat berharga untuk dibawa turun plus harus bawa anak-anak lewat tangga darurat. Lumayan juga turun belasan lantai di tengah kondisi evakuasi. Senam jantung 😉

Pelajaran yang didapat hari ini:
~ Apapun mungkin terjadi! Jadi selalu waspada.
~ Selalu siapkan emergency bag di tempat yang gampang diambil. Kalau perlu simpan sekalian paspor, dokumen dan surat berharga dalam tas itu beserta beberapa perlengkapan lain.
~ Jangan pilih apartemen di lantai atas, nanti repot kalau harus turun lewat tangga darurat… Hehehe…

20130411-224337.jpg

Living in Emirates: Yay or Nay?


01/03/13

Untuk bisa tinggal di luar negeri syaratnya adalah bisa meningggalkan kemanjaan selama tinggal di negara asal. Maklum, di Jakarta kita (saya maksudnya) biasa dimanja dengan adanya asisten rumah tangga, baby sitter, keluarga yang siap membantu kapan pun kita butuhkan, juga tetangga yang ramah dan baik. Belum lagi mereka yang masih tinggal bersama orang tua atau mertua. Kemanjaan tiada tara, karena semua sudah tersedia. Di sini? Siap-siap semua dikerjakan sendiri. Bahkan kalau kepingin Mie Aceh pun harus siap cari resep dan bikin sendiri karena di sini tidak ada yang jual 😀

Ya sebenarnya nggak terlalu horor begitu juga sih, asalkan siap modalnya. Bisa ambil asisten rumah tangga, jika ambil ke PJKI total jenderal biayanya berkisar antara 17,000 hingga 20,000 DHS. Atau lebih sederhana, panggi asisten paruh waktu, biaya lebih murah 25 DHS per-jam. Biasanya kita pakai jasa mereka minimal 4 jam. Jadi 250ribu rupiah sekali dibantu 4 jam saja. Oya, jangan terlalu sering mengkurskan pengeluaran di sini atau nanti keder sendiri.

Bagaimana dengan hidup UAE? Secara keseluruhan buat saya cukup menyenangkan dan tidak ada masalah. Tiap minggu ada pengajian fiqih untuk ibu-ibu Indonesia, kelas tahsin Qur’an dan katering menu Indonesia. KBRI sendiri sering mengadakan kegiatan, seperti kelas gamelan, arisan, pengajian rutin tiap minggu, kelas masak atau kelas hijab. Pokoknya kalau mau sibuk terus atau shopping terus, bisa. Teman-teman pun semuanya baik-baik, banyak yang iseng dan serius berjualan barang-barang asal tanah air, jadi jangan khawatir bakal kangen keripik sanjay atau kecap Bango, nanti ada saja yang balik mudik membawa berbagai macam barang yang boleh kita beli. Beberapa kelebihan tinggal di UAE di antaranya:

1. Tidak macet.
Sesuatu banget! Rasanya mau balik ke Jakarta lagi jadi stres. Beneran.

2. Tingkat kriminalitas rendah
Bukan berarti tidak ada ya, tapi di sini lumayan aman. Walaupun demikian, tinggal di negara orang jangan terlalu nekat lah. Tetap pertimbangkan keamanan. Waktu itu pernah saya gendong anak dengan posisi tas terbuka dan disampir ke belakang, berdiri di kerumunan padat selama 10 menitan alhamdulillaaah barang nggak ada yang hilang. Makanya jangan heran di sini jika pergi ke supermarket melihat pemandangan ibu-ibu meninggalkan tasnya terbuka di troli sementara orangnya sibuk memilih belanjaan itu sudah biasa.

3. Tidak seketat tinggal di KSA
Wanita bisa berpergian sendiri dan nyetir mobil sendiri. Penting ini, terutama jika rumahnya di luar kota.

4. Situs porno diblokir
Tenaaang rasanya membiarkan anak-anak surfing internet tanpa pengawasan. Nggak bakal kepleset lihat situs porno karena diblokir pemerintah.

5. Big City Factor
Kotanya lumayan teratur, jalanan besar, bersih, teratur.

5. Dubai Factor
Kalau sedang musim sale… Jangan ditanya.

6. Mau umrah dekat dan murah
Ada agen umrah Indonesia yang mengadakan perjalanan ibadah ke tanah suci selama seminggu, biayanya sekitar 3000 DHS. Berangkat sendiri juga bisa, booking hotel dan pesawat sendiri, sedang visa umrah diurus sendiri (lupa nama tempatnya) biayana sekitar 200 DHS klo tidak salah.

7. Tax-free Factor
This factor make the UAE as one of the top expat’s destination. Tau sendiri besaran pajak yang minta ampun jumlah persennya. Siapa yang bisa menolak kalau penghasilannya dibebaskan dari pajak?

8. Traveling Factor
Wisata ke negara-negara jazirah Arab lebih dekat (yaiyalaaah) sebut saja Blue Mosque di Turki, Petra di Jordania, piramid di Mesir, Maroko, Oman dan lain-lain.

Kekurangannya:

1. Double up!
Semua di sini mahal. Kalau pulang ke Indonesia lalu harga-harga kita kurskan ke dalam dirham, berasa deh kalau di tanah air itu semua muraaah 🙂

2. Jauh dari keluarga

3. Cuaca saat musim panas yang sangat tidak bersahabat

4. Aneka kuliner Indonesia yang selalu ngangenin

5. Sakit hati karena dikira TKW 😀
Serius. Belum pernah sih ngalamin, tapi teman-teman lain pernah.. So dandan keren, jangan kucel dan belagu aja..