05/09/11

saya menemukan jawaban yg cemerlang ini di sebuah blog milik pemerhati pendidikan Bpk. Gene Netto.. saya edit sedikit supaya lebih mantap dibacanya. supaya tidak dikira menjiplak, tulisan saya dalam huruf italic ya. sayang tidak tertera jelas siapa pengirimnya.. hanya tertulis namanya “irma”. sangat menjawab sejumlah sanggahan tentang kengganan berjilbab! salut buat irma! ayo ladies, tidak perlu banyak “tapi” untuk berjilbab!

irma said…

Kutipan : Apakah dengan demikian berjilbab itu parameter & indikator seorang perempuan disebut muslimah taat?

Jadi maksudnya, tidak perlu menutup aurat juga tidak perlu berjilbab/berkerudung? Karena toh banyak juga muslimah yang bertebaran di muka bumi ini yang sangat taat padahal tidak menutup aurat, begitu ya?

Aku jadi penasaran.. Ini maksudnya yang memberi penilaian “taat”, “sangat taat”, “kurang taat”, “tidak taat”, adalah siapa? Manusiakah yang memberi penilaian itu atau penilaian Allah SWT sang Khalik? Kalo itu penilaian Allah, memangnya Allah udah kasih tau ya hasil penilaiannya? Kapan? Hehehe.

Sudah jelas banget lah, menutup aurat dengan berjilbab dan berkerudung itu hanyalah salah satu dari sekian banyak perintah Allah SWT. Jadi bukan satu-satunya parameter ketaatan kepada Allah, hanya salah satunya saja. Tapi tetap aja akan Allah SWT perhitungkan nantinya.

Kenapa?
Lah wong yang seperti atom saja akan Allah perhitungkan. Kebaikan dan keburukan sebesar dzarrah aja balasannya. Apalagi ketaatan yang nampak kasat mata seperti itu. Sekarang kalo dipikir dengan pemikiran yg paling gampang saja. Ada seorang muslimah yang menaati perintah yang sudah ditetapkan oleh Dzat Maha Kuasa yang menciptakannya dengan menutup aurat dengan ikhlas dan istiqomah. Maka apakah kira2 di hadapan Allah SWT, dia akan dinilai sebagai muslimah yang memiliki ketaatan yang sama dengan muslimah lain yang mengumbar auratnya di mana-mana? Coba pikirkan jawabannya sendiri.

Kutipan : Bila tidak mengenakan jilbab, amalan-amalan seorang muslimah tidak bakal diterima?

Hmmm… Soal diterima atau tidaknya amalan seseorang, itu hak Allah semata. Banyak faktor yang akan menentukannya. Allah itu Maha Adil, tidak usah mengkhawatirkan dan meragukan bagaimana perhitungan amalan2 kita, apakah akan diterima ataukah tidak. Ingat, kebaikan dan keburukan sebesar dzarrah pun nanti akan ada balasannya. Patuh, taat, istiqomah dan ikhlas aja semaksimal mungkin.

Kutipan : Tapi ‘kan tidak ada yang mengatakan, “Kalau berjilbab, maka bagus pula amalan-amalannya.”

Hehehe. Komentar saya : cape deeeh… 🙂
Perasaan dari kemarin, argumentasi dan upaya mencari pembenaran soal tidak perlu berjilbab kok begini terus deh. Maaf kalo tidak berkenan. Menurut saya, alasan dan upaya pembenaran untuk tidak berjilbab yang dikemukakan di atas ini adalah hal yang sangat tidak relevan, tidak logis dan tidak berdasar. Setiap manusia, WAJIB untuk beribadah dan beramal baik. Hal ini sesuai dengan fitrah manusia di dunia adalah untuk beribadah pada Allah dan menjadi khalifah di muka bumi. Kalau wanita “biasa” saja amalannya bagus, apalagi yang berjilbab, harusnya lebih bagus lagi dong.. Malu lah sama mereka yang tidak (belum) berjilbab tapi amalannya bagus! Benar sekali bahwa bagus atau tidaknya amalan wanita tidak tergantung dari jilbabnya. TAPI hijab itu akan menyempurnakan amalan seorang wanita yang sholehah. Apakah kita mau dicintai setengah-setengah? Tentu tidak. Jika begitu, taatlah pada-Nya secara utuh. Maka cinta-Nya pada kita juga akan SEMAKIN besar. Demikian.

Iklan