17/08/10

Ada yang bilang, iman itu tidak terlihat. Ia ada di dalam hati manusia yang paling dalam dan hanya Tuhan yang tahu. Tetapi menurut saya, iman itu bisa jadi terlihat. Iman terlihat karena mewujud dalam perilaku manusia sehari-hari, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun kepada sesama manusia dan juga lingkungan. Sederhananya, hal itu dikarenakan manusia beriman (percaya) dengan apa yang diajarkan agamanya. Ia beriman (percaya) dengan apa yang diperintahkan Tuhannya, dengan begitu ia akan mengerjakan apa yang diwajibkan (bahkan juga yang disunnahkan) dan menjauhi apa yang diharamkan. Ia akan beribadah dan menuruti agamanya karena ia percaya (iman) pada Tuhannya. Hal-hal semacam itu bisa terlihat, bukan? Contoh paling nyata adalah Nabi Muhammad SAW. Ibadahnya juara, perilakunya juga juara. Siapa yang meragukan kesantunan dan kebaikan Nabi pada sesamanya, bahkan setiap pagi Beliau tetap merawat dan menyuapi pengemis buta yang selalu menghina dan meludahinya! Selain akhlak Beliau, tentu ibadahnya pun tidak diragukan lagi. Oleh karena itu saya bisa bilang, bahwa iman itu terlihat! Hati-hati ya.. 🙂

Iman adalah keyakinan dengan hati, pengikraran dengan lisan serta pengamalan dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan perbuatan maksiat (http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=64)

Berikut adalah penjelasannya…

Beberapa dalil-dalil Al-Qur’an:
1. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perk.ataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orangorang yang akan mewarisi, (ya’ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya,” (QS. al-Mu’minun : 11). Mereka berhak menyandang nama iman ini, manakala mereka mengerjakan amal perbuatan ini.
2. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayatayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,” (QS. al-Anfal (8): 2) Allah mengambarkan kepada mereka sifat-sifat keimanan. Demikian pula terhadap amal perbuatan ini yang Allah sebutkan dalam ayat ini. Dan ayat ini menjadi dalil, bahwa iman itu dapat bertambah.
3. “Dan Allah tidak akan menyianyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia,” (QS. al-Bagarah : 143). Tafsir ” imanukum” pada ayat ini tidak diperselisihkan, yaitu shalatukum (sholat kalian), maka shalat dinamakan iman. Hal ini menunjukkan, bahwa amal perbuatan termasuk dari makna iman.
4. “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kernbali yang baik,” (QS. ar-Ra’d : 29). Demikian pula ayat-ayat semisalnya, yang di dalamnya terdapat penggabungan antara iman dan amal shaleh. Iman itu tidak disebutkan kecuali disertai dengan amal shaleh, karena amal merupakan bagian dari iman dan merupakan bagian dari makna iman.

Beberapa dalil-dalil dari Sunnah an-Nabawiyyah. Sabda Rasulullah:
“Iman itu memiliki tujuh puluh cabang lebih (atau enam puluh lebih cabang), yang paling tinggi adalah perkataan “laa ilaha illallahu” dan yang paling rendah adalah menyingkarkan duri dari tengah jalan. Malu itu merupakan bagian dari cabang keimanan”
1. Nabi Muhammad menjelaskan bahwa iman itu bercabang-cabang dan beliau menjelaskan cabang iman yang tertinggi maupun yang terendah. Cabang-cabang ini merupakan amalan anggota badan. Maka, hal ini menunjukkan, bahwa amal perbuatan termasuk bagian dari makna iman.
2. Sabda Rasulullah kepada utusan ‘Abdul Qais, ” Saya perintahkan kalian untuk beriman kepada Allah saja. Tahukah kamu, apakah yang dimaksud dengan beriman kepada Allah saja? Mereka berkata, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Rasulullah saw bersabda, “Kamu bersaksi, bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang hak selain Allah; dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan; dan kamu berikan kepada orang yang menang dalam peperangan seperlima dari harta rampasan . . . ..”. (HR Bukhari (1/67/no: 9) tentang Iman bab: Perkara-perkara iman, Muslim (1/63/no: 35) tentang Iman bab: Penjelasan jumlah cabang keimanan. Lafaz hadits ini adalah lafaz hadits Muslim. Keduanya meriwayatkan dari hadits Abu Shalih dari Abu Hurairah secara marfu’. )
Nabi menjadikan semua amal perbuatan ini merupakan bagian dari iman. Amalan-amalan ini merupakan amalan anggota badan. Dalil-dalil yang senada dengan dalil-dalil diatas sangat banyak jumlahnya.

Beberapa dalil-dalil dari perkataan para Salaf as-Shalih:
1. Imam Bukhari berkata di dalam shahihnya pada masalah Iman, “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang…hingga beliau mengemukakan perkataan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimakumullah, “Sesungguhnya iman memiliki kewajiban-kewajiban dan syariat-syariat; hukum-hukum dan sunnat-sunnat. Barangsiapa yang menyempurnakannya, maka ia telah menyempurnakan keimanannya; dan barangsiapa yang tidak menyempurnakannya, maka ia belum menyempurnakan keimanannya…” .(Hadits ini dikeluarkan oleh al-Bukhari (11/67/no: 9) tentang Iman bab: Memberikan seperlima dari harta rampasan merupakan bagian dari iman. Lafaz hadits ini adalah lafaz Bukhari. Muslim (1/46/no: 17) tentang iman bab: Perintah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Keduanya meriwayatkan dari hadits Abu Jumrah dari Ibnu Abbas secara marfu’)
2. Imam ash-Shabuni berkata di dalam kitabnya ‘Aqidah as-Salaf, “Yang merupakan Mazhab Ahlul Hadits adalah, bahwa iman merupakan perkataan, perbuatan dan pengenalan. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan”.( Fathul bari (1/60) pada awal kitab al-lman. ) Dinukilkan dari beberapa ‘Ulama, bahwa amal perbuatan merupakan bagian dari iman. Di antara mereka adalah ats-Tsatiri, Ibnu ‘Uyainah, al-Auza’i, Ibnu Juraij, Malik dan selain mereka.
3. Imam Abu Bakar al-Isma’ili berkata dalam kitabnya I’tiqad Aimmatil Hadits, “Mereka berkata, “Sesungguhnya iman itu meliputi perkataan, perbuatan dan pengenalan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kernaksiatan. Barangsiapa yang banyak ketaatannya, imannya lebih bertambah dari pada orang yang kurang kataatannya”. (Aqidah as-Salaf Ashabul Hadits hal: 67.)
4. Imam al-Laalakai dalam kitabnya Syarhu Ushul I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau menukil perkataan dari Sufyan ats-Tsauri, Ibnu ‘Uyainah, Ibnu Juraij, Malik dan selain mereka, bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan. Kemudian beliau banyak menukilkan perkataan dari para ulama tentang penetapan bahwa amal perbuatan merupakan bagian dari iman. (l’tiqad Aimmatil Hadits hal: 63.)
5. Imam ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam as-Sunnah menukil perkataan dari ayahnya bahwa ia berkata, “Kami berkata, “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Apabila seseorang berzina dan minum khamar, maka berkurang keimanannya”. (Syarhu Ushul l’tiqadcAhlussunnah wal Jama’aah (4/847/no: 1584))
6. Imam al-khallal dalam as-Sunnah menukil dari Imam Ahmad bin Hanbal bahwa merupakan suatu sunnah, kamu katakan, “Bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Kemudian beliau juga menukil perkataan yang sama dari Imam Ibnul Mubarak. (As-Sunnah/ Abdullah bin Ahmad bin Hambal hal: 81 no: 417) Ini adalah perkataan Jumhur Ulama Salaf.
Perkataan Abu Hanifah dan orang yang sepakat dengan perkataan beliau menyelisihi perkataan Jumhur Ulama Salaf, yang mana mereka menjadikan iman hanya pembenaran dengan hati dan perkataan dengan lisan. Mereka tidak memasukkan amal perbuatan ke dalam makna iman. Akan tetapi mereka mengatakan, bahwa kemuliaan orang-orang yang beriman bertingkat-tingkat tergantung amal shaleh yang mereka kerjakan.
Ref : Syarah Aqidah as shahihah dan Pembatalnya, Abdul Aziz bin fathi bin As Sayyid Nada (http://rumahislam.com/aqidah/34-ttg-aqidah/523-iman-adalah-perkataan-dan-perbuatan.html)

Wallahu’alam.

Iklan