05/07/09
Waah.. Ada artikel buat melengkapi punyaku.. Copas dari mbak Arie Widowati (thanks!). Aku menambahkan sedikit —kenapa tidak berjilbab versi aku– ..
Please girls, stop questioning dan making excuses, have a little faith on Islam!

Vis

beribadah yoo.. jangan banyak alasaan.. (GIGI)

Faith is Blind. When I Believe, I don’t question, I surrender.
@mrshananto

Wednesday, June 10, 2009 at 8:04am
Bismillahirrohmanirrohim,

Seorang muslimah, diperintahkan untuk menutup auratnya ketika keluar rumah, yaitu dengan mengenakan pakaian syar’i yang dikenal dengan jilbab atau hijab. Namun dalam kenyataan masih banyak di antara para muslimah yang belum mau memakainya. Ada yang dilarang oleh orang tuanya, ada yang beralasan belum waktunya atau nanti setelah pergi haji dan segudang alasan yang lain. Nah apa jawaban untuk mereka?

—KENAPA TIDAK BERJILBAB VERSI AKU—

*10. Takut Susah Mendapat Pekerjaan

Memangnya ketika kita berdoa untuk meminta rezeki (pekerjaan) itu mintanya sama siapa, yaa? Kan sama Allah. Kok maunya saja minta-minta, tapi giliran disuruh sama Yang Disembah kok nggak mau nurut.. Yang kasih kerjaan itu Allah atau Departemen/Perusahaan? Kalau Allah tidak izinkan, sekuat apapun usaha juga tidak bakal tembus.. Tapi kalau Allah sudah berkehendak, kun-fa-yakun! Wah, ibarat daunpun bisa jadi emas..

*11. Jilbab Budaya Arab

Ada juga yang bilang begitu. Jilbab itu bukan budaya di Indonesia. Tapi non, jilbab itu bukan masalah budaya. jilbab adalah kewajiban (perempuan muslimah) dalam beragama. Bukankah Islam itu rahmatan lil’alamin? Tidak ada hubungan sama Arab atau negara manapun, asal dia muslimah, wajib ya wajib aja.. Hayo, mau bantah apa lagi..

*12. Nanti Saja Kalau Sudah Tua, Sudah Hajjah..

Hahaha.. Itu mah aku bangetd, dulu 🙂 Yaa.. itulaah.. Siapa yang tau umur manusia? Siapa yang menyangka ajal akan menjemput ketika sedang sarapan pagi di restoran mewah di hotel bintang lima? Jangan-jangan sebelum tobat sudah dipanggil YME.. Oh, nooo.. Jadi? Pakai sekarang! Tidak usah menunggu ‘hidayah’.. Hidayah bisa dicari.. Sip?

*13. Cukup dengan Pakaian yang Terhormat

Seperti yang diceritakan Quraish Shihab di Metrotv kemarin, ada perbedaan pendapat di antara ulama sendiri. Ada yang mengatakan bahwa jilbab itu tidak wajib, yang penting adalah pakaian yang terhormat. Namun dalam pemikiran aku pribadi, kalau boleh bertanya pada ulama tersebut; jika memang boleh hanya dengan pakaian terhormat, tanpa jilbab; bagaimana dengan surah Al-Ahzab 59 dan An-Nur 31, yang menurut aku jelas menyebutkan tentang perintah agar mengulurkan jilbab menutupi tubuh dan menutupkan kain kudung ke dada? Bagaimana dengan kisah wanita kaum Anshar yang langsung merobek kain wol mereka untuk menutupi kepala begitu mendengar turunnya ayat tentang perintah berjilbab? Mereka tidak pakai mikir dan debat lagi, langsung menutup rambut kepala mereka. Kira-kira bagaimana interpretasi ayat-ayat tersebut sehingga bisa dimaknai menjadi cukup dengan pakaian terhormat saja, ya? Sayang aku tidak di sana buat nanyain itu. Lagipula definisi pakaian terhormat akan sangat berbeda satu dan lain budaya, negara, ras, suku, dll. Bagaimana dengan suku yang wanitanya berpakaian hanya menutup kelaminnya saja, sementara bagian lain tidak tertutup sehelai benang-pun? Tentu menurut mereka pakaian itu sudah terhormat bagi wanita. Jadi.. Silakan menyimpulkan dengan keyakinan masing-masing 🙂

Lebih jelasnya, silahkan klik dan baca artikel “Jilbab BUKAN Masalah Khilafiah”. Highly Recommended!

*14. Yang Penting Hatinya Dikerudungi

Rasanya sering aku denger alasan ini.. Cuma kalo dipikir-pikir.. Perempuan yang cantik, rajin sholat, puasa, zakat, sodakoh, udah haji, sering umroh, selalu berbuat baik, bagus ilmu agamanya, dll.. Tapi bajunya terbuka? Shortpants and tanktop? Bikini at the beach? Backless at the party? Kayaknya tidak match deh.. Karena kalo dia baca Qur’an juga, pasti tau ada perintah Allah untuk menutup aurat.. Pasti tau juga hadis Nabi tentang perempuan yang berpakaian tapi telanjang tidak akan mencium baunya surga.. Jadi, buat apa hati dikerudungi kalau auratnya terbuka? Jika dia sholat, pasti tiap sholat pakai mukena yang menutup seluruh tubuh. Tapi lepas sholat, lepas juga penutup auratnya. Apa dikira Allah hanya melihat ketika sholat saja? Apa setelah sholat Allah melepas pandangan-Nya dari kita? Padahal muslim/muslimah yang baik harus senantiasa merasa seperti selalu melihat dan dilihat Allah, dengan demikian dirinya selalu berada koridor yang benar. Hati yang dikerudungi siapa yang tahu? Hati kan nggak kelihatan. Perintah yang jelas adalah menutup aurat yang nampak, yang dilihat orang lain selain mahram. Ibadah-ibadah seperti sholat, puasa, dll, hanya Tuhan dan dia yang tahu. Apa yang membedakan perempuan muslimah dan yang bukan, kalau bukan jilbab? Jadi.. Rasanya belum sempurna seorang muslimah kalau belum berjilbab 🙂 Kira-kira begitu menurut saya.. Idem dengan PPT 3 episode Aya ‘mengingatkan’ kak Mira agar berjilbab.. Episode yang jempolan banget.. Hidayah itu bisa datang lewat jalan apa aja.. Bisa lewat sinteron, bacaan, atau nasihat orang lain.. Kalau hati sudah membenarkan tapi nggak dilaksanakan juga, hilanglah hidayah itu.. Jika dengan cara yang halus kita masih menolak, apa harus denngan cara yang keras dan kasar kita baru setuju? Demikian kata bang Asrul menasehati istrinya.. 😉

*15. Tidak Berjilbab adalah Hak Asasi Saya

Naah.. Alasan ini baru hits sekarang.. Aku juga baru tau setelah baca koran… Hehehe… Menurut aku, hak asasi itu berlaku untuk masalah kemanusiaan.. Tapi kalau masalah syar’i, apalagi judulnya wajib, ya harus ditaati, itu kalau memang percaya (iman) sama agamanya. Apa dikira perintah Allah itu buruk sekali sehingga melanggar hak asasi perempuan? Akal manusia yang terbatas ini memang sukanya ‘memikirkan’ ajaran-ajaran Allah itu bagaimana-bagaimana, ya jelas tidak sampai lah… Contoh sederhana, manfaat khitan… Kalau dipikir, orang jaman dulu pasti mengira gila, ‘memotong’ alat kelamin!!! Belum ada bius pulak! Tapi beratus tahun setelahnya terbukti manfaat khitan…
Lain halnya jika yang dimaksud adalah hak asasi dia untuk taat atau tidak, percaya (iman) sama Islam dan ajaran-Nya atau tidak. Jika itu ceritanya, maka lain masalahnya.

Bagi aku yang percaya, jawabannya begini;
Sang Nona berkata bahwa beragama itu keyakinan dan harus mengerti. Meyakini dengan perilaku Islami. Tidak berjilbab tapi kan menjalani keagamaannya dengan sunguh-sungguh.
Kata aku: Kalau memang menjalani agama dengan sungguh-sungguh, yakin dan mengerti, berperilaku Islami; kenapa jugaaa—tidak berjilbab? Apa tidak mengerti tentang perintah berjilbab? Tidak yakin sama ajaran Allah? Tidak menutup aurat itu perilaku Islami? Bingung kan..

“Walaupun tidak berjilbab tapi sudah khatam membaca Qur’an..”
Kata aku: Membaca sih biasa.. Tapi memahami dan melaksanakannya ituuu… Yang jelas tidak baca artinya kali yah..

“Kalau ke tempat yang mengharuskan pemakaian jilbab, saya akan pakai untuk menghormati aturan di sana”
Kata aku: Kalau aturan manusia, dihormati, ditaati. Aturan Allah, dilanggar? Jadi lebih takut aturan manusia daripada Tuhan? Aneh sekali.. Memang yang menciptakan manusia itu siapa? Kok lebih takut sama ciptaan-Nya, daripada Sang Pencipta sendiri..

“Saya Akan Berjilbab, Kalau Saya Yakin Berjilbab Akan Membuat Saya Lebih Baik.”
Kata aku: Kalau jadi lebih buruk, ya bukan salah jilbabnya dong… Pasti salah manusia yang menjalankannya tidak dengan ilmu… Namanya juga Allah yang buat aturan, pastinya sudah dibuat sedemikian rupa demi kemashalatan umat-Nya, mendatangkan kebaikan bagi yang mereka PERCAYA (iman) dan mau yang menjalankan.. Betul?

“Untuk berjilbab, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui.”
Kata aku: Apa tidak kelamaan.. Kalau belum sampai ke tahapan itu keburu mati gimana? Tidak sempet tobat dong..

*16. Apakah dengan demikian berjibab itu parameter & indikator seorang perempuan disebut muslimah taat?

Irma: Jadi maksudnya, tidak perlu menutup aurat juga tidak perlu berjilbab/berkerudung? Karena toh banyak juga muslimah yang bertebaran di muka bumi ini yang sangat taat padahal tidak menutup aurat, begitu ya?

Aku jadi penasaran.. Ini maksudnya yang memberi penilaian “taat”, “sangat taat”, “kurang taat”, “tidak taat”, adalah siapa? Manusiakah yang memberi penilaian itu atau penilaian Allah SWT sang Khalik? Kalo itu penilaian Allah, memangnya Allah udah kasih tau ya hasil penilaiannya? Kapan? Hehehe.

Sudah jelas banget lah, menutup aurat dengan berjilbab dan berkerudung itu hanyalah salah satu dari sekian banyak perintah Allah SWT. Jadi bukan satu-satunya parameter ketaatan kepada Allah, hanya salah satunya saja. Tapi tetap aja akan Allah SWT perhitungkan nantinya.

Kenapa?
Lah wong yang seperti atom saja akan Allah perhitungkan. Kebaikan dan keburukan sebesar dzarrah aja balasannya. Apalagi ketaatan yang nampak kasat mata seperti itu. Sekarang kalo dipikir dengan pemikiran yg paling gampang aja. Ada seorang muslimah yang menaati perintah yang sudah ditetapkan oleh Dzat Maha Kuasa yang menciptakannya dengan menutup aurat dengan ikhlas dan istiqomah. Maka apakah kira2 di hadapan Allah SWT, dia akan dinilai sebagai muslimah yang memiliki ketaatan yang sama dengan muslimah lain yang mengumbar auratnya di mana-mana? Coba pikirkan jawabannya sendiri.

*17. Tidak mesti jika tidak mengenakan jilbab, maka amalan-amalan seorang muslimah tidak bakal diterima pula.

Irma: Hmmm… Soal diterima atau tidaknya amalan seseorang, itu hak Allah semata. Banyak faktor yang akan menentukannya. Allah itu Maha Adil, tidak usah mengkhawatirkan dan meragukan bagaimana perhitungan amalan2 kita, apakah akan diterima ataukah tidak. Ingat, kebaikan dan keburukan sebesar dzarrah pun nanti akan ada balasannya. Justru karena tidak pasti, maka patuh, taat, istiqomah dan ikhlas aja semaksimal mungkin.

*18. Tapi ‘kan tidak ada yang mengatakan, “Kalau berjilbab, maka bagus pula amalan-amalannya.”

Irma: Hehehe. Komentar saya, cape deeeh… 🙂
Perasaan dari kemarin, argumentasi dan upaya mencari pembenaran soal tidak perlu berjilbab kok begini terus deh. Maaf kalo tidak berkenan. Menurut saya, alasan dan upaya pembenaran untuk tidak berjilbab yang dikemukakan di atas ini adalah hal yang sangat tidak relevan, tidak logis dan tidak berdasar. Setiap manusia, WAJIB untuk beribadah dan beramal baik. Hal ini sesuai dengan fitrah manusia di dunia adalah untuk beribadah pada Allah dan menjadi khalifah di muka bumi. Kalau wanita “biasa” saja amalannya bagus, apalagi yang berjilbab, harusnya lebih bagus lagi dong.. Malu lah sama mereka yang tidak (belum) berjilbab tapi amalannya bagus! Benar sekali bahwa bagus atau tidaknya amalan wanita tidak tergantung dari jilbabnya. TAPI hijab itu akan menyempurnakan amalan seorang wanita yang sholehah. Apakah kita mau dicintai setengah-setengah? Tentu tidak. Jika begitu, taatlah pada-Nya secara utuh. Maka cinta-Nya pada kita juga akan SEMAKIN besar. Demikian.

KENAPA TIDAK BERJILBAB VERSI AWAL

1. Saya Belum Bisa Menerima Hijab

Untuk ukhti yang belum bisa menerima hijab maka perlu kita tanyakan, “Bukankah ukhti sungguh-sungguh dan yakin dalam memeluk Islam, dan bukankah ukhti telah mengucapkan la ilaha illallah Muhammad rasulullah dengan yakin? Yang berarti menerima apa saja yang diperintahkan Allah Subhannahu wa Ta’ala dan Rasulullah? Jika ya maka sesungguhnya hijab adalah salah satu syari’at Islam yang harus dilaksanakan oleh para muslimah. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memerintah kan para mukminah untuk memakai hijab dan demikian pula Rassulullah Shalallaahu alaihi wasalam memerintahkan itu. Jika anda beriman kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, maka anda tentu akan dengan senang hati memakai hijab itu.

2. Saya Menerima Hijab, Namun Orang Tua Melarang.

Kalau saya tidak taat kepada orang tua, saya bisa masuk neraka. Kepada saudariku kita beritahukan bahwa memang benar orang tua memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia, dan kita diperintahkan untuk berbakti kepada mereka. Namun taat kepada orang tua dibolehkan dalam hal yang tidak mengandung maksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala , sebagaimana dalam firman-Nya, artinya,

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya,” (QS. Luqman:15)

Meskipun demikian kita tetap harus berbuat baik kepada kedua orang tua kita selama di dunia ini.

Inti permasalahannya adalah, bagaimana saudari taat kepada orang tua namun bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, padahal Allah Subhannahu wa Ta’ala adalah yang menciptakan anda, memberi nikmat, rizki, menghidupkan dan juga yang menciptakan kedua orang tua saudari?

3. Saya Tidak Punya Uang untuk Membeli Jilbab

Ada dua kemungkinan wanita muslimah yang mengucapkan seperti ini, yaitu mungkin dia berdusta dan mungkin juga dia jujur. Jika dalam kesehariannya dia mampu membeli berbagai macam pakaian dengan model yang beraneka ragam, mampu membeli perlengkapan ini dan itu, maka berarti dia telah bohong. Dia sebenarnya memang tidak berniat untuk membeli pakaian yang sesuai tuntunan syari’at. Padahal pakaian syar،¦i biasanya tidak semahal pakaian-pakaian model baru yang bertabarruj.

Maka apakah saudari tidak memilih pakaian yang seharusnya dikenakan oleh seorang wanita muslimah. Apakah anda tidak memilih sesuatu yang dapat menyelamatkan anda dari adzab Allah Subhannahu wa Ta’ala dan kemurkaan-Nya? Ketahuilah pula bahwa kemuliaan seseorang bukan pada model pakaiannya, namun pada takwanya kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala . Dia telah berfirman, artinya,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” (QS. al-Hujurat:13)

Adapun jika memang anda seorang yang jujur, jika benar-benar saudari berniat untuk memakai jilbab maka Allah Subhannahu wa Ta’ala akan memberikan jalan keluar. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah mengatakan, artinya,

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. ath-Thalaq 2-3)

Kesimpulannya adalah bahwa untuk mencapai keridhaan Allah dan untuk mendapatkan surga, maka segala sesuatu akan menjadi terasa ringan dan mudah.

4. Cuaca Sangat Panas

Jika saudari beralasan bahwa cuaca sangat panas, kalau memakai jilbab rasanya gerah, maka saudari hendaklah selalu mengingat firman Allah Subhannahu wa Ta’ala , artinya,

“Katakanlah, “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jikalau mereka mengetahui.”(QS. 9:81)

Apakah anda menginginkan sesuatu yang lebih panas lagi daripada panasnya dunia ini, dan bagaimana saudari menyejajarkan antara panasnya dunia dengan panasnya neraka? Yang dikatakan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala , artinya,

“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah.” (QS. 78:24-25)

Wahai saudariku, ketahuilah bahwa surga itu diliputi dengan berbagai kesusahan dan segala hal yang dibenci nafsu, sedangkan neraka dihiasi dengan segala yang disenangi hawa nafsu.

5. Khawatir Nanti Aku Lepas Jilbab Lagi

Ada seorang muslimah yang mengatakan, “Kalau aku pakai jilbab, aku khawatir nanti suatu saat melepasnya lagi.” Saudariku, kalau seseorang berpikiran seperti anda, maka bisa-bisa dia meninggalkan seluruh atau sebagian ajaran agama ini. Bisa-bisa dia tidak mau shalat, tidak mau berpuasa karena khawatir nanti tidak bisa terus melakukannya.

Itu semua tidak lain merupakan godaan dan bisikan setan, maka hendaklah suadari mencari sebab-sebab yang dapat menjadikan anda selalu beristiqamah. Di antaranya dengan banyak berdo’a agar diberikan ketetapan hati di atas agama, bersabar dan melakukan shalat dengan khusyu’. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, artinya,

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. 2:45)

Jika saudari telah memegang teguh sebab-sebab hidayah dan telah merasakan manisnya iman maka saudari pasti tidak akan meninggalkan perintah Allah Subhannahu wa Ta’ala , karena dengan melaksanakan itu anda akan merasa tentram dan nikmat.

6. Aku Takut Tidak Ada Yang Menikahiku

Saudariku! Sesungguhnya laki-laki yang mencari istri seorang wanita yang bertabarruj, membuka aurat dan senang melakukan berbagai kemaksiatan maka dia adalah laki-laki yang tidak memiliki rasa cemburu. Dia tidak cemburu terhadap yang diharamkan Allah Subhannahu wa Ta’ala, tidak cemburu terhadapmu, dan tidak akan membantumu dalam ketaatan, menuju surga serta menyelamatkanmu dari neraka.

Jadilah engkau wanita yang baik, insya Allah Subhannahu wa Ta’ala engkau mendapatkan suami yang baik pula. Engkau lihat berapa banyak wanita yang tidak berhijab, namun dia tidak menikah, dan engkau lihat berapa banyak wanita berjilbab yang telah menjadi seorang istri.

7. Kita Harus Bersyukur

“Oleh karena kecantikan merupakan nikmat dari Allah Subhannahu wa Ta’ala, maka kita harus bersyukur kepada-Nya, dengan memperlihatkan keindahan tubuh, rambut dan kecantikan kita.” Mungkin ada di antara muslimah yang beralasan demikian.

Suadariku! Itu bukanlah bersyukur, karena bersyukur kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala bukan dengan cara melakukan kemaksiatan. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka.” (QS. an-Nur:31)

Dalam firman-Nya yang lain,
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (QS.al-Ahzab:59)

Nikmat terbesar yang Allah Subhannahu wa Ta’ala berikan kepada kita adalah iman dan Islam, jika anda ingin bersyukur kepada Allah maka perlihatkanlah kesyukuran itu dengan sesuatu yang disenangi dan diperintahkan Allah Subhannahu wa Ta’ala, di antaranya adalah dengan mememakai hijab atau jilbab. Inilah syukur yang sebenarnya.

8. Belum Mendapatkan Hidayah

Ada sebagian muslimah yang mengatakan, “Saya tahu bahwa jilbab itu wajib, namun saya belum mendapatkan hidayah untuk memakainya.” Kepada saudariku yang yang beralasan demikian kami katakan, “Bahwa hidayah itu ada sebabnya sebagaimana sakit itu akan sembuh dengan sebab pula. Orang akan kenyang juga dengan sebab, yakni makan. Kalau anda setiap hari meminta kepada Allah agar ditunjukkan ke jalan yang lurus, maka anda harus berusaha meraihnya.Di antaranya, hendaklah anda bergaul dengan wanita yang baik-baik, ini merupakan sarana yang sangat efektif, sehingga hidayah dapat anda raih dan terus-menerus terlimpah kepada ukhti.

9. Aku Takut Dikira Golongan Sesat

Ketahuilah saudariku! Bahwa dalam hidup ini hanya ada dua kelompok, hizbullah (kelompok Allah) dan hizbusy syaithan (kelompok syetan). Golongan Allah adalah mereka yang senantiasa menolong agama Allah Subhannahu wa Ta’ala, melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Sedangkan golongan setan sebaliknya selalu bermaksiat kepada Allah dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan ketika ukhti melakukan ketaatan, salah satunya adalah memakai hijab maka berarti ukhti telah menjadi golongan Allah, bukan kelompok sesat.

Sebaliknya mereka yang mengumbar aurat, bertabarruj, berpakaian mini dan yang semisal itu, merekalah yang sesat. Mereka telah terbius godaan syetan atau menjadi pengekor orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Maka berbahagialah anda sebagai kelompok Allah Subhannahu wa Ta’ala yang pasti menang.

Jilbab atau hijab adalah bentuk ibadah yang mulia, jangan sejajarkan itu dengan ocehan manusia rendahan. Dia disyari’atkan oleh Penciptamu, kalau engkau taat kepada manusia dalam rangka bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala maka sungguh engkau akan binasa dan merugi. Mengapa engkau mau diperbudak oleh mereka dan meninggalkan ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala Yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikanmu?

Wallohu A’lam Bissowab,

Artikel Terkait:
Jilbab Nggak Pakai Tapi
Kenapa Berjilbab 1
Kenapa Berjilbab 2
Ikhlas untuk Berjilbab
Jilbab dalam “My Name is Khan”
Manfaat Berjilbab

Iklan