01/04/08
Tanggal 28 Maret 2008 The Jakarta Post memuat liputan diskusi tentang homoseksualitas dalam Islam dengan pembicara Siti Musdah Mulia dengan judul Islam Recognizes Homosexuality. Hasil dari diskusi itu menyimpulkan bahwa homoseksual dan homoseksualitas adalah hal yang alami dan diciptakan oleh Allah SWT, sehingga permissible (diijinkan) dalam Islam. Di luar konteks seksual. Hebat juga pemikiran mereka yang disebut-sebut sebagai muslim moderat. Baiklah. Tetapi tidak dapat disangkal bahwa sesuatu yang alamiah juga bagi mereka untuk jatuh cinta. Lalu timbul keinginan untuk selalu berdampingan dengan kekasih hati, hidup bersama dan menikah. Lalu kelanjutannya bagaimana? Apakah ada hukum dan peraturan tentang pernikahan homoseksual dalam Islam? Lalu apakah pernikahan sesama jenis ini juga akan disahkan negara? Bagaiman dengan maksud penciptaan perempuan dan laki-laki dan tujuan diadakannya pernikahan?

Surah Al-A’raf 80-81: Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya. “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian? Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampui batas”.

Lalu bagaimana dengan kebutuhan alamiah untuk menyalurkan hasrat seksual? Padahal kita tahu benar bahwa seks anal dilarang dalam Islam (Al-Qur’an: surah Al-Araf 80-81, surah Al-Mukminun 5-7; Hadist: HR. At-Tirmidzi no. 1166 Kitab ar-Radha’, Ibnu Hibban no. 1302, Shahiih at-Tirmidzi no. 930 and Al-Misykah no. 3195). Kita tentu juga tidak lupa bahwa Allah SWT melaknat kaum Luth yang homoseks dan gemar sodomi (surah Hud 82-83). Sebuah artikel di situs al.manhaj.or.id berjudul “Gay, Lesbian dan Homoseksual” oleh Syaikh Nabil Muhammad Mahmud malah berkesimpulan bahwa jika hal itu (seks) dilakukan antara laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan, maka sama sekali tidak ada hubungannya dengan fitrah. Islam tidak menghalalkannya sama sekali karena pada insting dan fitrah manusia tidak terdapat kecenderungan seks laki-laki kepada laki-laki atau perempuan kepada perempuan. Sehingga jika hal itu terjadi, berarti telah keluar dari batas-batas fitrah dan tabiat manusia, yang selanjutnya melanggar hukum-hukum Allah.

Namun hasil dari diskusi itu juga menyebutkan bahwa pemurkaan atas kaum homoseksual dan homoseksualitas adalah berdasarkan pemikiran sempit dari ajaran agama Islam semata. Wow sekali lagi. Apa mereka melewatkan surah Hud ketika membaca Qur’an, ya? Bukankah Al-Qur’an adalah ayat-ayat Allah yang diturunkan pada manusia sebagai manual dalam berkehidupan—termasuk surah Hud juga. Lalu apakah Allah juga dianggap ‘berpikiran sempit’ karena menurunkan ayat tersebut?

Saya setuju bahwa kita harus saling menghormati sesama manusia, terlepas apakah sesorang itu homoseksual atau bukan. Tetapi atas pernyataan bahwa homoseksualitas itu diijinkan dalam Islam, membuat saya bingung. Apakah kami membaca Al-Qur’an yang sama? Atau Jakpost yang tidak memuat keseluruhan diskusi ya? Saya lebih suka jika judul di atas diartikan secara harafiah beneran.. Recognizes dan permisibble adalah dua kata yang berbeda sangat..

also read: comments on my letter!
Gay, Lesbian dan Homoseksual