15/02/08
Seorang teman berkabar setelah sekian lama kami putus komunikasi. Kami berteman sudah cukup lama. Sebuah masalah datang dan saya mengira hubungan kami sudah berakhir. Ketika itu saya marah sekali—atau lebih tepatnya kecewa, atas ketidakpercayaannya pada saya yang membuat dia melakukan hal-hal di luar dugaan. Saya sempat berpikir dia mungkin tidak sengaja, tetapi saya tetap tidak menyangka dia bakal ’tega’ melakukannya. Saya merasa hubungan kami bagai cermin retak, yang tidak mungkin utuh kembali walaupun kepingan-kepingannya disatukan. Saya bahkan tidak mau mendengar penjelasan apapun, yang saya anggap sebagai alasan yang dicari-cari untuk justifikasi perbuatannya. Saya memuaskan diri dengan fakta-fakta yang saya temukan sendiri untuk kemudian berduka atas ’musibah’ yang menimpa saya.

Bila ada pepatah yang mengatakan ”time will always heal the pain”, mungkin benar adanya. Masalah di waktu itu menjadi hal kecil buat saya sekarang. Saya pun yakin, dia juga sudah ‘menyesali’ apa yang telah dilakukannya. Sengaja atau tidak, hal itu sudah membuat hubungan baik kami berantakan. Waktu juga yang membuat saya banyak berpikir. Daripada teori ’cermin retak’, saya kini lebih suka menganggap bahwa satu bab dalam hubungan kami telah selesai dan bersiap memulai bab baru bersamanya. Saya ingat-ingat bahwa saya pun pasti punya salah juga pada orang lain. Jika saya berada di pihak yang salah, pasti saya juga ingin diberi kesempatan untuk menjelaskan semua. Juga kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya. Lalu kenapa pada orang lain saya tidak melakukan hal yang sama? Something wrong with my empathy-button, pikir saya. Ego saya begitu besar, emosi tinggi dan pikiran pendek. Rasanya sungguh tidak adil menghakimi sesuatu berdasarkan fakta dari sebelah pihak.


Ada dua hal yang harus kamu lupakan, kebaikan yang pernah kamu berikan kepada orang lain
dan kesalahan yang pernah dilakukan orang padamu. (Anonymous)


Sayangnya, kenapa saya tidak berpikir begitu dari dulu ya? Jika demikian, kan saya dan dia tidak harus berjarak sejauh ini. Saya dan dia, sama-sama telah kehilangan teman baik. Rugi. Saat itu saya lebih menuruti emosi untuk marah daripada mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri dan berpikir jernih. Padahal jika saya bisa menahan emosi, semua pasti dapat terselesaikan dengan baik. Kami kan memang berteman baik, jadi pasti ada itikad dari kedua belah pihak untuk memperbaiki keadaan. Hal ini benar-benar menjadi sebuah pelajaran buat saya. Berikanlah satu kesempatan juga pada diri sendiri untuk berpikir dan bertindak lebih rasional. Kadang-kadang memang saya masih kesal jika ingat kejadian itu. Tapi kapan kita mau maju jika terus mengingat masa lalu? Mungkin, seharusnya saat itu saya mendengarkan penjelasannya. Jika dia atau saya mencoba berkomunikasi kembali, itu akan menjadi awal yang baik untuk memulai hubungan pertemanan kami. Saya pun harus memberi diri sendiri kesempatan kedua untuk belajar menerima kekurangan dan kesalahan orang lain, seperti halnya saya ingin diberi kesempatan atas kesalahan saya pada orang lain.

Iklan