Arsip

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Comments to My Letter at The Jakarta Post (Do We Read the Same Qur’an?)

Februari 10, 2009 Viska Tinggalkan komentar

Hooo… Ternyata suratku ke Jakarta Post ada yang kasih komentar! Selama ini yang kuikutin korannya aja, ternyata ada perkembangan di webnya. Berikut komentar-komentarnya:

Abdullah (not verified) — Sun, 04/13/2008 – 9:47pm
Everything is from Allah as stated in the Al-Quran. Homosexuality is from Allah, even iblis is from Allah. Just because it is from Allah, it does not mean that it can be adopted by mankind as “natural” when God has made it very clear it is forbidden. But why does Allah provides everything but then forbids some? Why does Allah create iblis and kafirs and then warn mankind not to embrace, succumb and follow their ways? Again Allah made it very clear in the Al-Quran that those are subjects of test for mankind. But how can the non-Muslim understand that? Lakum dinukum, waliyadin.

Anita (Bandung) (not verified) — Mon, 04/07/2008 – 11:44am
Just trust that Allah always gives the best for its creations.

The Reader (not verified) — Sat, 04/05/2008 – 6:58am
Who decides who does and who does not fully understand Islam? Who decides what is and is not a correct or incorrect interpretation of Islam- the MUI, JIL or the Taliban?? Surely they cannot all be right?? Or is it Viska Wibowo, Gus Dur or Osama Bin Laden who have the answers?? These 3 people all seem to think they do! What exactly is required to fully understand it? In Indonesia,one minute the Bali Bombers are denounced as having nothing to do with the ‘real’ Islam, and then they are having lunch with the authorities because they are their Muslim brothers!! Amrozi cs were convinced, and still are, that they were defending Islam, according to their understanding, which is obviously very real to them. The Wahid Institute tells us Islam is plural, tolerant and inclusive. Tolerant and inclusive of who, and what? Some say the Al-Qu’ran cannot be translated from the original Arabic, so can only native speakers of Arabic fully understand Islam? What is the ‘real’ Islam: Muslims and non-muslims are constantly telling each other they have no idea what this is, if they happen to disagree on something…so, Viska, what is the real Islam, who fully understands it, and how do you know? Why is one person’s interpretation or understanding ‘better’ or more ‘correct’ than anothers??

Source: Jakpost

My Respond:

I totally agree with Abdullah and Anita.

To: “Reader”

I guess You think it too hard or I just put the wrong word to the sentence “didn’t fully understand Islam”. Please forgive my Inglish (Indonesian-English).

I meant it to those who e.g; didn’t know Islam, didn’t read Qur’an completely, didn’t have the knowledge about Islam; even she/he is a moslem. For example, my maid is a moslem, but what she knows about Islam is all about shalat (daily pray), puasa (fasting at Ramadhan) and Lebaran (Ied Fitr Holy-day). She can’t read Al-Qur’an, she never read one, even its translation. She didn’t know about zakat, one of moslem’s obligations. She didn’t know much about sunnah, things that ‘recommended’ to do. I can’t guarantee that she’s able to explain about polygamy, hijab, jihad, or else matters in Islam.

So I think it’s clear about those who “didn’t fully understand Islam”. I also think that no one can fully understand Islam 100%. That’s why moslems are obliged to learn Islam as long as they live. If a person takes Islam as his/her religion and understand it, he/she must apply Islam in his/her relation to Allah (ibadahhablumminnallah) and to human and environment as well (hablumminnanas). Take our Rasullullah, Muhammad SAW as a perfect example. We can’t say that someone that good in his/her ibadah but corrupt either is a good moslem, can we?

If the matter is about what is sin/not, halal/haram, wajib/sunnah/makruh/mubah etc, that is a clear fact, I’d say that possibly one understanding is better/more correct than others. Example; A knows that adultery in Islam is a sin, so he didn’t do it. B doesn’t know, so he did it anyway. I’d say that A’s understanding is better than B. Off course, it’s about adultery.

Other things such as khitan (circumcision), jihad or polygamy, we can’t say that someone’s understanding is better-or-less. I’ll say it as: “different”, depend on which kilafiyah that she/he believes. Example; there’s ulama believes that circumcision is a must to women, but others think the contrary, depends on certain condition. A believes first opinion, B believes the second one. It’s not better or correct, but just different. But if A knows the ‘knowledge’ about khitan while B doesn’t, can we say that A is better than B?

Aah.. I know. I forget to mention the “about” thing on my letter!

Categories: Uncategorized

Kenapa Tuhan, Surga dan Neraka Harus Ada?

September 23, 2008 Viska Tinggalkan komentar

23/09/08
Selain situs-situs ‘alim’, ternyata banyak juga situs dan blog yang memuat ketidakpercayaan terhadap Tuhan (Islam). Bahwa menurut pemahaman mereka, baik dan buruk serta konsekuensinya itu terjadi secara alamiah. Saya sendiri kalau ditanya apakah Tuhan itu ada, belum tentu bisa menjawab dengan baik dan benar. Kira-kira apa jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut ya, pikir saya. Nah kebetulan sekali, dalam salah satu episode “Para Pencari Tuhan 2” yang selalu saya tonton saat sahur ternyata ada cerita semacam itu! Jawaban bang Jack kira-kira begini, “Kalau Allah (juga surga dan neraka) itu tidak ada, berarti hilanglah keadilan.” Benar juga! Bukankah dosa yang tidak terbalas di dunia akan dibalas di akhirat, walaupun hanya sebesar zarrah? Kalau surga dan neraka tidak ada, enak betul dong. Bagaimana dengan orang yang berbuat dosa di dunia tapi luput dari hukuman? Para koruptor yang hidup senang, foya-foya dengan harta catutan, mewariskan harta tujuh turunan, kemudian mati saja dengan tenang, begitu? Lalu penjahat-penjahat lain yang belum sempat dihukum, bisa hidup tenang tanpa menghiraukan orang-orang yang menderita karena sudah didzaliminya? Haduh, dengan reputasi peradilan di Indonesia yang dinilai terburuk di antara 10 negara Asia (Kompas, 23 September 2003), bisa-bisa semua orang berbuat curang saja agar bisa hidup enak. Wong tidak ada hukumannya ini. Hukuman di dunia kan bisa dikadalin? Yang menderita, susah dan teraniaya tetap saja tidak berubah hidupnya. Yang ngemplang uang negara malah tambah makmur. Lalu dimana letaknya keadilan? Bagaimana, masuk akal tidak jika Tuhan, surga dan neraka itu HARUS ada?

Pelajaran dari Imam Ghazali

Juni 3, 2008 Viska Tinggalkan komentar

dicuplik dari milis tetangga. it’s good to read and learn.

Imam Ghazali = ” Apa yang paling ringan di dunia ini ?”

Murid 1 = ” Kapas”
Murid 2 = ” Angin “
Murid 3 = ” Debu “
Murid 4 = ” Daun-daun”
Imam Ghazali = ” Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat. “

Imam Ghazali = ” Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?

Murid 1 = ” Orang tua “
Murid 2 = ” Guru “
Murid 3 = ” Teman “
Murid 4 = ” Kaum kerabat “
Imam Ghazali = ” Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran :185). “

Imam Ghazali = ” Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ? “

Murid 1 = ” Negeri Cina “
Murid 2 = ” Bulan “
Murid 3 = ” Matahari “
Murid 4 = ” Bintang-bintang “
Iman Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama. “

Iman Ghazali = ” Apa yang paling besar di dunia ini ? “

Murid 1 = ” Gunung “
Murid 2 = ” Matahari “
Murid 3 = ” Bumi “
Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka. “

IMAM GHAZALI = ” Apa yang paling berat di dunia? “

Murid 1 = ” Baja “
Murid 2 = ” Besi “
Murid 3 = ” Gajah “
Imam Ghazali = ” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah. “

Imam Ghazali = ” Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? “

Murid- Murid dengan serentak menjawab = ” Pedang “
Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. “

“sampaikanlah walau satu ayat”

Bercermin lewat Foto

Maret 28, 2008 Viska Tinggalkan komentar

17/03/08
Saya paling senang membuka album lama dan melihat foto-foto kenangan di masa lalu. Buat saya, kamera itu huebat sekali karena dapat mengabadikan sebuah momen ke dalam selembar kertas (foto). Melalui foto-foto lama, saya dapat mengenang kembali kejadian-kejadian di masa dulu. Bukan saja ingat hal-hal indah dan menyenangkan tapi juga kisah di balik kejadian, lalu merembet terus—pada kejadian-kejadian di bulan yang sama, tahun yang sama dan semua cerita yang berkaitan. Ternyata bukan hal yang indah saja, tetapi teringat juga hal-hal sedih dan perbuatan bodoh yang saya lakukan. Kesalahan orang pada saya, tapi banyak juga kesalahan saya pada mereka. Hal-hal baik yang harusnya dapat saya lakukan dari dulu. Kata-kata memalukan yang saya ucapkan. Hal-hal norak yang saya perbuat. Kegiatan coba-coba tak berguna yang cuma ikut-ikutan semata. Mengingatnya kadang jadi malu sendiri. Kenapa tidak dari dulu melakukan hal-hal yang lebih baik. Mungkin ada yang bilang bahwa kesalahan itu justru membuat diri jadi lebih baik. Benar juga sih. Manusia itu tempatnya salah dan dosa. Tapi pasti akan lebih baik kalau kesalahannya sedikit dan kebaikannya saja yang diperbanyak. Jadi kan tidak rugi, karena setiap kesalahan ada ’dosa’-nya. Semakin banyak salah, semakin banyak dosa. Semakin banyak berbuat baik, makin banyak pula tabungan pahala untuk di akhirat kelak.

Kebodohan dan kesalahan saya dulu pasti karena impulsif. Ada aksi, langsung bereaksi ikut emosi. Tidak dipikir dulu baik-buruknya, bagaimana akibatnya di kemudian hari. Merasa puas menjadi ’the real me’—apapun, pokoknya itulah aku apa adanya—padahal belum tentu ada kebaikan padanya. Kesalahan yang paling banyak, mungkin berasal dari kata-kata. Kata pepatah, lidah tak bertulang atau mulutmu harimaumu. Seringkali kata asal terucap tanpa pemikiran dan pertimbangan dulu. Manusia bisa jadi celaka atau beruntung karena ucapannya. Orang yang paling sering kena getahnya, tentu orang yang dekat dan sering bergaul dengan kita. Keluarga, teman-teman atau rekan kerja. Kepada mereka pasti ada kata yang asal ’ceplos’, tidak berpikir bahwa itu mungkin menyakitkan dan di kemudian hari hubungan jadi memburuk. Padahal ’reaksi’ ceplos-nya bisa jadi hanya berasal dari ’aksi’ perkataan orang lain yang tidak berdasar. Kadang juga celaan-celaan, yang kita kira tidak akan membuat tersinggung karena berteman dekat.

Friends are like ballons.
Once you let go, you never get them back. (Anonymous)

Hampir sama seperti ’Kesempatan Kedua’, renungan saya kali ini adalah jangan bertindak impulsif. Jangan menuruti emosi. Misalnya jika sedang marah, rasanya pasti puas langsung berkonfront dan mengutuki si pembuat marah. Padahal jangan-jangan hanya salah paham atau ribut masalah yang sepele. Siapa yang tahu akibatnya ternyata tidak sebanding dengan kepuasan itu. Saya coba praktekkan untuk menahan emosi dan mengambil waktu sejenak *walau rasanya mangkel sekali* ketika sedang marah. Ternyata tidak ada ruginya karena keesokan harinya masalah yang kemarin nampaknya besar menjadi tidak sebesar yang saya kira. Lalu kenapa kemarin saya bisa emosi sekali? Saya sendiri heran. Jika saya menuruti emosi, masalah kecil-remeh-sepele pun bisa jadi besar bagaikan krisis ekonomi. Padahal dengan pikiran yang tenang, solusi dapat ditemukan dengan mudah dan tindakan dapat lebih bijak. Meminimalkan kesalahan, memaksimalkan kebaikan. Memang benar kata petuah, perang terbesar adalah perang melawan diri sendiri.

Categories: Thoughts, Uncategorized