Kenapa Berjilbab (1)
30/04/08
Ini cerita sewaktu saya belum berjilbab. Dulu, saya pikir masuk surga itu mudah. Kerjakan yang wajib (shalat, puasa, zakat, naik haji jika mampu), hidup di ‘jalan yang benar’ (tidak berbuat jahat, tidak narkoba dan minum-minuman keras, tidak berzina, dkk) dan berbuat baik; sudah bisa berbalas surga. Saya tahu, yang diperintahkan dalam Al-Qur’an adalah wajib dan yang dilarang adalah haram. Tapi entah kenapa, waktu itu saya merasa sudah melakukan semuanya. Mungkin dulu saya kira yang ada dalam Qur’an cuma hal itu-itu saja. Makanya saya merasa tenang, saya pikir jika mati pasti akan masuk surga. Kemudian seorang teman mengirimi saya buku. Judulnya “Wanita Shalihah”. Saya sedikit terusik. Apa-apaan nih, pikir saya. Memangnya saya bukan wanita shalihah? Saya kan, rajin shalat dan mengaji. Puasa juga tidak pernah absen. Saya merasa sudah cukup alim, kok. Jadi saya tidak punya minat untuk membaca buku itu. Buku itu pun berakhir manis di rak buku.
Tapi lalu datang lagi sebuah kiriman buku dari teman saya yang lain. Bukunya berjudul “Wahai Putriku, Tutuplah Auratmu”. Kali ini saya tersinggung bukan main. Memangnya saya membuka aurat, apa ya? Jangankan dibaca, saya sentuh saja tidak. Saya pikir teman-teman ini sok tahu benar. Tidak tahu bagaimana saya, tapi menasihati saya macam-macam! Saya ini kan, sudah hidup baik-baik. Tanpa dinasihati juga pasti akan berjalan di arah yang ‘benar’. Walaupun tidak berjilbab, tapi juga tidak membuka aurat yang ‘banget-banget’. Buku kiriman kali ini lebih tidak saya urus lagi. Saya biarkan teronggok berdebu di rak belakang tempat penyimpanan barang-barang bekas. Sengaja saya taruh di situ karena melihatnya saja saya sudah malas. Hingga suatu saat, untuk kepentingan skripsi saya mulai banyak membaca-baca buku tentang agama, tafsir dan hadis. Skripsi saya memang mengenai religiusitas. Kemudian di antara kegiatan baca-membaca itu sebuah hadis menarik perhatian saya…
Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul orang lain dan para wanita yang berpakaian tapi auratnya terlihat, yang berjalan melenggak-lenggok, sedangkan kepala mereka bagaikan punuk unta yang miring. Mereka itu tidak akan masuk ke dalam surga dan juga tidak akan mencium bau surga. Padahal, harum semerbak surga itu dapat dirasakan dari jarak yang begini dan begini.” [Muslim 6/168]
Walah! Hampir-hampir saya tidak percaya saat membacanya. Perintah berjilbab itu bukan hanya tersebut pada hadis (shahih), tetapi juga tersebut dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab: 59, surah An-Nuur:31, dst (lihat Kenapa Berjilbab 2). Jangankan apa yang ada dalam Qur’an, wong hadis saja harus ditaati. Seperti yang tersebut dalam surah Al-Hasyr: 7, Allah SWT telah berfirman bahwa apa yang disampaikan Rasul kita harus menerimanya dan apa yang dilarang, harus ditinggalkan. Padahal seperti yang saya tahu, yang diperintahkan dalam Al-Qur’an adalah wajib dan yang dilarang adalah haram. Namun sudah berapakah kewajiban yang saya laksanakan dan hal haram yang saya tinggalkan? Saat itu saya tidak lagi yakin bakal bisa masuk surga dengan mudah. Ternyata saya belum melakukan semua yang wajib (apalagi meninggalkan semua yang haram). Walaupun ada yang bilang bahwa kita bisa mengumpulkan pahala dari kebajikan-kebajikan lain. Tetapi darimana saya tahu bahwa pahala saya cukup untuk mengimbangi dosa-dosa saya? Apakah perhitungan pahala dan dosa saya sama dengan perhitungan Allah di akhirat kelak? Apakah semua kebajikan saya diterima Allah? Apakan ibadah saya semua menghasilkan pahala? Adakalanya sholat saya tidak khusyuk. Puasa saya hanya menang menahan makan dan minum, tapi kalah melawan hawa nafsu. Sedekah yang mungkin kurang ikhlas. Belum lagi hal-hal yang saya kira sepele tapi ternyata ‘dosa’; seperti bergosip, riba, bid’ah-bid’ah dan masih banyak lagi. Dulu sempat pula saya berpikir; sewaktu muda pakai baju suka-suka, nanti setelah tua baru berjilbab. Sungguh pemikiran yang bodoh sekali. Darimana juga saya tahu bahwa umur saya akan sampai ‘tua’? Bagaimana jika saya mati muda dan belum sempat bertobat? Apalagi dalam hadis (shahih pulak) Muslim (8/88.) disebutkan tentang sabda Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya penghuni surga yang lebih sedikit itu adalah kaum perempuan. Waduh, cilaka 12! Sudah dari 1000 orang yang masuk surga cuma 1 (), eh, jumlah perempuannya paling sedikit pulak. Bagaimana ini? Ternyata masuk surga itu tidak lah semudah yang saya bayangkan…
Setelah akhirnya memutuskan untuk menutup aurat, saya jadi geli sendiri. Skripsinya tentang religiusitas tapi orangnya kok tidak religius. Ilmu agama saya mungkin cukup tapi imannya tidak cukup banyak untuk membuat saya mengaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Jika orang bertanya apakah saya percaya pada Islam dan apa yang diajarkannya, pasti saya jawab percaya. Tapi apa buktinya percaya kalau tidak dikerjakan. Apakah saya bisa disebut cukup percaya (iman=percaya) bila perilaku saya tidak menunjukkan keimanan itu. Benar sekali jika ada yang menyebutkan bahwa berjilbab atau tidak adalah bukan indikasi keimanan seseorang. Tetapi paling tidak, yang berjilbab sudah melaksanakan kepatuhan dan satu kewajiban atas perintah Allah, daripada yang tidak (belum) berjilbab. Yang demikian itu tentu sudah membedakan dia dengan yang bukan Islam. Tentu ingat bahwa jilbab sebagai identitas perempuan muslimah. Maksudnya tentu berjilbab yang bener loh, yaa… Bukan yang berjilbab tapi auratnya masih keliahatan karena bajunya tipis (bahkan transparan), baju lengannya ½ atau ¾ sehingga lengannya terlihat, kerahnya tidak menutup leher, pakaian yang ketat menonjolkan lekuk tubuh dan sederet ‘kesalahan-kesalahan dalam berjilbab’ lainnya.
Memang rasanya berat sekali untuk meninggalkan tren gaya berpakaian barat (bukan Islam), terutama karena kita lebih dekat dengan budaya barat daripada Islam. Saya sendiri mengalaminya sampai sekarang. Bahkan yang membuat berat untuk beralih dari tidak-berjilbab menjadi berjilbab mungkin lebih banyak karena faktor ini juga. Rasanya gimanaaa gitu, kalau tidak lagi menjadi bagian dari komunitas umum, bagian dari ‘tren dan gaya’. Berada di luar main stream rasanya seperti terkucil, tersendirikan, berbeda, yaa…gitu deeeh. Saya juga masih belum 100% berjilbab yang benar, kadang masih bandel pakai celana panjang. Meski sudah berkomitmen untuk lebih ‘bener’ dengan tidak lagi membeli celana panjang dan membuang celana-celana lama, tetapi celana yang masih baru rasanya dibuang sayang. Jadi tetap disimpan deh. Inilah yang membuat kadang-kadang masih saja bandel. Ternyata iman saya masih tipis, belum tawaqqal. Duh, gimana mau masuk surga nih
Semoga setiap hari bisa menjadi lebih baik, amin…
Bersambung: Kenapa Berjilbab (2)
Baca juga donk:
Kenapa Tidak Berjilbab?
Ikhlas untuk Berjilbab
Jilbab dalam “My Name is Khan”
Manfaat Berjilbab
Jilbab BUKAN Masalah Khilafiah






24 tanggapan kepada “Kenapa Berjilbab (1)”
An_nisa
Agustus 31st, 2009 pukul 23:47
so inspiring…jazakillah yaaaa ukh… n_n
Viska
September 1st, 2009 pukul 09:52
hahaha.. benarkah?
alhamdulillah..
trims sudah mampir dan baca yaa ^____*
ruang angan
Oktober 12th, 2009 pukul 20:29
wah, pengalaman yg menarik….
saya sebagai cowok jg sangat prihatin dengan wanita sekarang yg lebih bangga jika bagian tubuhnya keliatan… masyaAllah.. diingatkan malah bilang yo biar toh, wong anugrah kok ditutup2i… hahaha…
mbak, mbok bagi2 pengalamannya lewat fb saya, ruang_angan@yahoo.com
terimakasih
Viska
Oktober 16th, 2009 pukul 15:29
hahaha.. saya dulu juga merasa gitu, rasanya bangga kalo ‘anugerah’ itu dikagumi orang ^^ semoga temennya mas segera tergerak hatinya untuk mencari dan mendapatkan hidayah-Nya, amin.. eh, coba disuruh baca artikelku yang “Kenapa Tidak Berjilbab?” aja mas.. barangkali aja.. hummm.. ^^
dhika
Februari 15th, 2010 pukul 14:26
Assalamualaikum ukhti.
afwan, mau ijin buat copas crita ini.
biar tmen2 ana jga bsa terinspirasi.
syukron.
Viska
Februari 15th, 2010 pukul 20:21
wa’alaikumsalam..
monggo, silakan..
tapi apa pantes yah cerita saya dijadikan inspirasi.. hahaha
yah, semoga bermanfaat buat yang baca.
terima kasih sudah mampir ya..
wassalam
Desy
April 20th, 2010 pukul 10:46
Assalamualaikum.. Wr Wb.
Salam kenal Mba Viska.
Kebetulan saya juga baru berjilbab oleh krn itu saya ingin agar temen saya yg sdh berjilbab tdk menanggalkan jilbabnya hanya krn terpengaruh dgn pembicaraan org yg ada di sekitar kami yg tdk suka melihat kami berjilbab. Dan saya juga ingin mengcopy dan membagikan cerita mba Viska yg sangat bagus ini,Insya Allah agar org yg blm berjilbab dpt tergerak hatinya untuk berjilbab pula..
Kalau ada cerita yg bagus lg bisa share ke saya ya…
Terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamualaikum Wr Wb..
Viska
April 21st, 2010 pukul 13:12
wa’alaikumsalam wr wb..
salam kenal juga, des
bagaimana rasanya setelah berjilbab? boleh juga ceritanya di-share di sini lokh.. apakah lebih berat untuk bertahan (memakai jilbab) daripada ketika pertama kali memulai memakainya?
jangan ragu juga untuk copy dan share kepada yang lain.. semoga ada manfaatnya, amin..
untuk lihat cerita saya yang lain, boleh dibuka-buka arsip lama.. judul-judulnya ada di page berdasarkan tema.. selamat membaca ya.. terimakasih sudah mampir ke sini..
wassalamu’alaikum wr wb
Fariz
Juli 18th, 2010 pukul 18:50
Assalamu’alaikum ukhti, ana juga minta ijin buat ng-copy.
Syukron sebelumnya.
Viska
Juli 21st, 2010 pukul 18:01
wa’alaikumsalam..
boleh,silakan.. semoga bermanfaat
“kenapa tidak berjilbab” juga bagus lokh buat di-share
estiaraellizar
Agustus 18th, 2010 pukul 21:39
assalammualaikum, izin copas kk, buat menginspirasi yg lain..thanks
Viska
Agustus 19th, 2010 pukul 11:24
wa’aikumsalam wr wb..
wah hebat betul kalau sampai bisa menginspirasi yang lain
inspirasinya dari saya, hidayahnya dari Allah.. hehehe.. amin..
semoga kita menjadi orang-orang yang selalu diberi barokah dan hidayah-Nya.. amin ya rabbal’alamin..
yeni
Agustus 28th, 2010 pukul 04:50
Assalamualaikum wr wb
Waaa mbk crtanya bgs bgt,.saat ini sy sedang ragu pengen berjilbab,eh bc artikel mbak sy jadi ‘ngeh’,.jadi makin yakin dan pengen cpt2 berjlbab..mohon doanya ya mbak,ga ada keraguan sdkitpun dalam melaksanakan niat saya..
Terima kasi bwt artikelnya…
Viska
Agustus 29th, 2010 pukul 21:18
wa’alaikumsalam wr wb..
wow.. alhamdulillah! senang sekali kita menjadi salah satu dari orang-orang yang mendapat hidayah-Nya
supaya tambah info dan kemudian tambah yakin, coba dibaca juga artikel-artikel ttg berjilbab yang lain.. hehe.. *promosi.com
saya doakan semoga Allah tidak menjadikan Yeni orang yg disesatkan-Nya, amin..
genggam erat hidayah yg sudah mengalir padamu dan laksanakan ya.. *siap laksanakan! emang tentara.. hehehe..
dengan demikian akan makin banyak hidayah lain dan barokah yang datang padamu..
dan semua itu terjadi karena percaya (iman) pada-Nya.. amiiin..
kalau sudah jadi pakai jilbab, share lagi ke sini ya..
wassalam wr wb
Rini
September 21st, 2010 pukul 16:09
Ass,
Terima kasih sudah menjadi inspirasi saya.Semoga hati saya semakin mantap untuk berjilbab
Viska
September 22nd, 2010 pukul 19:31
alhamdulillah..
ditambah lagi mbak bacaannya, biar inspirasinya tambah banyak trus hati juga tambah mantabb..
semoga hidayah itu bisa digenggam erat-erat, amin..
salam manis,
wass wr wb
Anis
September 28th, 2010 pukul 05:41
Jazzakillah mbak atas tlisannya,
ternyata benar saya masih blum bnyak mengerti ttg islam,,hehe…
Viska
September 28th, 2010 pukul 21:09
hahaha..
sama kok, anis, saya juga belum banyak mengerti islam..
masih harus banyak belajar..
jangan cepat puas dengan pengetahuan yg kita punya sekarang, karena ilmu agama itu nggak ada habisnya kalau mau dipelajari..
ff
Oktober 2nd, 2010 pukul 08:28
ijin copy,
Viska
Oktober 2nd, 2010 pukul 15:26
silakan, semoga manfaat
Mila Raisa
Desember 1st, 2010 pukul 23:55
Ukhti….cerita yang bagus sekali… nyata dan apa adanya…. dan pasti banyak yg pernah atau sedang mengalami keraguan berjilbab ini, termasuk saya… Hati saya jadi lebih mantap untuk mulai berjilbab….doakan ya ukhti… tidak ada keraguan lagi dalam diri saya…dan bisa menjadi wanita shalikhah seutuhnya….seperti ukhti
Amin…
Viska
Desember 2nd, 2010 pukul 12:10
masa ada keraguan untuk menutup aurat dan memenuhi kewajiban wanita muslimah.. hehehe..
tidak dong, ya?
coba deh baca Manfaat Berjilbab..
tambah lagi bacaannya ya, mila, supaya hati tambah mantab lagi..
insyaallah niat yang ikhlas untuk memenuhi perintah-Nya akan disupport oleh-Nya juga dengan melimpahkan hidayah yang buanyaaak untuk mila, amin..
saya hanya bisa kirim doa dan support dari jauh..
ayo sama-sama kita belajar supaya jadi wanita shalehah
dean_sun23
Januari 27th, 2011 pukul 18:50
alhamdulillah, saya juga mendapkan hidaya-Nya untuk mengenakan jilbab
Viska
Januari 28th, 2011 pukul 10:04
woww.. alhamdulillah!
semoga hidayah itu dapat dipertahankan seterusnya ya, aminn..