Prioritas Sang Ibu
08/04/08
Tentang pendapat saya mengenai prioritas ketika seorang ibu harus menentukan antara pilihan bekerja (di luar rumah) atau menjadi ibu-penuh-waktu, seorang kawan sewot berat mendengarnya. Dia melancarkan protes dan akhirnya terjadi perdebatan seru (atau perdebatan kusir, ya) diantara kami. “Memangnya kalau gue milih kerja, berarti tidak memprioritaskan anak?” sanggahnya keras. Lha, bagaimana bisa dibilang prioritas kalo most of your time dihabiskan di luar rumah, di kantor yang notabene jauh dari rumah, jauh dari anak? Pada ‘jam sibuk’-nya anak, ia ditemani siapa? Ibunya dimana dan ‘menemani’ siapa? Seperti kisah seorang ibu dalam rubrik konsultasi psikologi Kompas (06/04/08), dirinya berangkat bekerja dini hari ketika anak masih terlelap. Saya tebak, sekali waktu pasti ada suatu kesempatan dimana ia harus lembur, sehingga ketika ia pulang ke rumah anak-anaknya sudah tidur. Mungkin juga lebih sering pulang di sore hari, tapi pasti badan sudah lelah dan tidak bisa penuh 100% ‘melayani’ anak. Begitupula pengalaman seorang teman yang belum pukul 8 malam sudah tidak sanggup membuka mata untuk menemani anaknya menggosok gigi.
“Halah, anak yang ibunya di rumah juga belum tentu bener,” sanggah kawan saya. Betul sekali. Anak yang ibunya tidak bekerja di luar rumah pun belum tentu anaknya tumbuh on the right track. Tidak juga berarti anak yang tidak diasuh orangtuanya akan menjadi anak yang salah jalan. Selalu ada anomali. Tetapi itulah yang seharusnya menjadi perhatian kita. Apakah kita mau berjudi dengan masa depan anak? Melepaskan pengawasan atas tumbuh kembang anak dan berharap-harap anak akan menjadi benar di bawah asuhan orang lain? Syukur alhamdulillah kalau benar, kalau tidak apakah kemudian kita tidak akan menyesal? Ini baru masalah anak, belum lagi dengan ‘kewajiban’ seorang ibu.
Dewasa ini semua ramai membicarakan kesetaraan gender; bahwa perempuan setara dengan laki-laki, sama pintarnya (tentu), punya kemampuan yang sama dengan laki-laki, bisa bekerja pada pekerjaan yang biasanya didominasi oleh laki-laki (saya jadi ingat sebuah iklan tentang perempuan diceritakan cantik dan pintar, bekerja di rig—sumur pengeboran minyak), pokoknya tidak kalah dengan laki-laki. Menjadi fokus orangtua adalah untuk memberikan yang terbaik bagi anak. Dokter anak harus yang RUD (rational use of drugs) dan EBM (evidance based medicine), supaya tidak salah men-treatment anak. Makanan yang bergizi, cemilan harus sehat. Pendidikan yang terbaik, kalau perlu sedari kecil sekolahnya bilingual. Tetapi adakah yang berbicara mengenai masalah psikologis anak? Bagaimana peran ibu terhadap tumbuh kembang anak? Kewajiban ibu terhadap anak; dari sisi agama?
“Kan sekarang jaman udah canggih, nek. Mau kontak dengan anak tinggal video-call, keliatan juga orangnya. Sms, mms juga bisa,” debat kawan itu. Ah, jaman kita masih pacaran dengan ayahnya saja semua itu rasanya belum cukup kalau belum bertemu. Inginnya bertemu terus, bersama-sama terus. Rasanya pasti sama juga dengan kita ke anak—malah mungkin jauh lebih cinta anak, bertemu secara virtual saja tidak cukup, keberadaan kita secara nyata tentu juga dibutuhkan anak. Sama seperti yang kita rasakan dulu. Apalagi jika sedang sedih atau mengalami kesulitan, tentu ingin dihibur oleh orang yang dicintai. Bukan hanya kata-kata, tetapi juga belaian sayang dan pelukan hangat yang menentramkan hati. Orang dewasa saja bisa menjadi manja karena cinta, apalagi anak-anak?
Rasanya alamiah jika kita menomorsatukan yang kita cintai. Keluarga, kekasih, Tuhan. Tetapi ketika tiba gilirannya pada anak, kenapa jadi tidak bisa mendahulukan kepentingannya dibandingkan pekerjaan? Kadang seperti tidak sadar bahwa yang sering dikorbankan adalah orang yang paling dicintai, anak.
“Aaah, pokoknya kalo gue sih, tidak bisa kalau di rumah saja. Menderita sekali terkungkung dalam rumah,” curhat seorang tetangga. “Mengurus anak itu melelahkan sekali, nggak tahan deh. Mending ngantor saja,” tambahnya. Kalau jawabannya adalah demikian, berarti yang jadi prioritas adalah ‘penderitaan dan kebebasan’ ibu dong, bukan perkembangan anak. Sang ibu mungkin tidak sadar bahwa korban dari kebebasannya adalah anak. Padahal bekerja tidak harus di kantoran, di rumah pun bisa bekerja sehingga waktu untuk anak tidak banyak terbuang. Mengembangkan usaha yang menyerap tenaga kerja atau pekerjaan yang tidak banyak menyita waktu, seperti guru misalnya. Tetapi untuk mejalankan ini, berarti perempuan sedari awal sudah harus diingatkan tentang kewajiban dan fitrahnya sebagai seorang ibu, sehingga kelak bisa memilih pendidikan yang menunjang pekerjaannya sebagai ibu kelak. Memangnya menjadi ibu itu bekerja? Tentu saja. Wong menjadi pengasuh anak (yang notabene melakukan pekerjaan seorang ibu) saja dibayar…
Seorang kawan lain malah berkata, “Buat apa sekolah tinggi kalau cuma di rumah saja?” Walah! Apa menjadi seorang ibu tidak perlu pintar? Memang menjadi pintar dan cerdas tidak hanya didapat dari bangku sekolah, tapi kita semua setuju bahwa pendidikan adalah dasar. Buat saya, kalau tidak sekolah mungkin tidak akan bertemu dengan suami saya, belum tentu memiliki keluarga yang saya idam-idamkan seperti sekarang ini. Apa bekerja itu cuma di kantor saja? Padahal jika membaca rubrik ‘Somah’ di Kompas Minggu, isinya selalu menampilkan kaum perempuan kreatif dan inovatif yang tidak bekerja di kantor (di rumah) tetapi sanggup memiliki usaha yang produknya mampu bersaing di dunia internasional, bahkan sanggup memberdayakan masyarakat (termasuk kaum perempuan) di sekitarnya juga. Padahal pekerjaannya adalah ‘pekerjaan perempuan sekali’; seperti memasak (katering), membuat kue kering (bakery), menenun, menjahit, membuat kerajinan tangan, dan masih banyak lagi. Terkadang bahan yang digunakan adalah bahan-bahan yang tidak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya, seperti serat nanas, serat pisang, kepompong ulat, kertas daur ulang, daun-bunga kering dan sebagainya. Apa yang begitu itu tidak hebat? (lihat Pekerjaan Muslimah dan “Perempuan Bekerja, Asalkan…”)
“Maksudnya, semua perempuan harus sependapat sama lo?” tanya seorang kawan. Hei, yang bilang bahwa perempuan ‘lebih baik’ di rumah juga bukan saya, tapi Allah bo (surat Al-Ahzab 33-34)! Masa iya, saya yang ngarang-ngarang sendiri. “Tapi hari gini, sekolah mahal, jaman sudah maju, kalau nggak ngikutin bisa ketinggalan dong,” jawab dia. Tapi juga, bukankah sebagai seorang muslim kita harus berbicara dalam perpekstif Islam? Menurut saya sih… Islam itu way of life, jadi menjadi muslim berarti way of life kita juga harus secara Islami. Bukankah Islam itu satu paket; tidak bisa kita mau beragama Islam saja tapi tidak mau solat? Atau mau solat tapi tidak puasa?
Tapi, bagaimana lagi. Setiap orang punya prioritas sendiri juga dalam menentukan perpektif hidupnya. Berarti setiap perdebatan saya bakalan menjadi debat kusir jika bukan dengan orang yang ber-perspektif sama…
Menurut Ponijan Liaw (pelatih dan penulis buku-buku komunikasi), saat ini bukan hanya soal tempat dan waktu yang terasa semakin fleksibel, melainkan juga teknologi yang digunakan semakin menipiskan jarak ruang yang ada. Pekerjaan bisa dilakukan di mana saja tanpa harus ngantor. Artinya, job desk dan job list bisa juga dituntaskan di rumah. Model kerja seperti ini keliahatannya lebih pas untuk kaum hawa. Peran ganda pun bisa dilakoni sang perempuan pada waktu bersamaan di rumah: ibu rumah tangga dan pengusaha. Inilah kemajuan kaum hawa yang pantas diacungi jempol (Kontan, 19/04/08).
Artikel Terkait:
>> Haruskah Berhenti Bekerja (It’s Baby Time)
>> Memilih Anak atau Karir



