Arsip

Arsip untuk April, 2008

Prioritas Sang Ibu

08/04/08
Tentang pendapat saya mengenai prioritas ketika seorang ibu harus menentukan antara pilihan bekerja (di luar rumah) atau menjadi ibu-penuh-waktu, seorang kawan sewot berat mendengarnya. Dia melancarkan protes dan akhirnya terjadi perdebatan seru (atau perdebatan kusir, ya) diantara kami. “Memangnya kalau gue milih kerja, berarti tidak memprioritaskan anak?” sanggahnya keras. Lha, bagaimana bisa dibilang prioritas kalo most of your time dihabiskan di luar rumah, di kantor yang notabene jauh dari rumah, jauh dari anak? Pada ‘jam sibuk’-nya anak, ia ditemani siapa? Ibunya dimana dan ‘menemani’ siapa? Seperti kisah seorang ibu dalam rubrik konsultasi psikologi Kompas (06/04/08), dirinya berangkat bekerja dini hari ketika anak masih terlelap. Saya tebak, sekali waktu pasti ada suatu kesempatan dimana ia harus lembur, sehingga ketika ia pulang ke rumah anak-anaknya sudah tidur. Mungkin juga lebih sering pulang di sore hari, tapi pasti badan sudah lelah dan tidak bisa penuh 100% ‘melayani’ anak. Begitupula pengalaman seorang teman yang belum pukul 8 malam sudah tidak sanggup membuka mata untuk menemani anaknya menggosok gigi.

“Halah, anak yang ibunya di rumah juga belum tentu bener,” sanggah kawan saya. Betul sekali. Anak yang ibunya tidak bekerja di luar rumah pun belum tentu anaknya tumbuh on the right track. Tidak juga berarti anak yang tidak diasuh orangtuanya akan menjadi anak yang salah jalan. Selalu ada anomali. Tetapi itulah yang seharusnya menjadi perhatian kita. Apakah kita mau berjudi dengan masa depan anak? Melepaskan pengawasan atas tumbuh kembang anak dan berharap-harap anak akan menjadi benar di bawah asuhan orang lain? Syukur alhamdulillah kalau benar, kalau tidak apakah kemudian kita tidak akan menyesal? Ini baru masalah anak, belum lagi dengan ‘kewajiban’ seorang ibu.

Dewasa ini semua ramai membicarakan kesetaraan gender; bahwa perempuan setara dengan laki-laki, sama pintarnya (tentu), punya kemampuan yang sama dengan laki-laki, bisa bekerja pada pekerjaan yang biasanya didominasi oleh laki-laki (saya jadi ingat sebuah iklan tentang perempuan diceritakan cantik dan pintar, bekerja di rig—sumur pengeboran minyak), pokoknya tidak kalah dengan laki-laki. Menjadi fokus orangtua adalah untuk memberikan yang terbaik bagi anak. Dokter anak harus yang RUD (rational use of drugs) dan EBM (evidance based medicine), supaya tidak salah men-treatment anak. Makanan yang bergizi, cemilan harus sehat. Pendidikan yang terbaik, kalau perlu sedari kecil sekolahnya bilingual. Tetapi adakah yang berbicara mengenai masalah psikologis anak? Bagaimana peran ibu terhadap tumbuh kembang anak? Kewajiban ibu terhadap anak; dari sisi agama?

“Kan sekarang jaman udah canggih, nek. Mau kontak dengan anak tinggal video-call, keliatan juga orangnya. Sms, mms juga bisa,” debat kawan itu. Ah, jaman kita masih pacaran dengan ayahnya saja semua itu rasanya belum cukup kalau belum bertemu. Inginnya bertemu terus, bersama-sama terus. Rasanya pasti sama juga dengan kita ke anak—malah mungkin jauh lebih cinta anak, bertemu secara virtual saja tidak cukup, keberadaan kita secara nyata tentu juga dibutuhkan anak. Sama seperti yang kita rasakan dulu. Apalagi jika sedang sedih atau mengalami kesulitan, tentu ingin dihibur oleh orang yang dicintai. Bukan hanya kata-kata, tetapi juga belaian sayang dan pelukan hangat yang menentramkan hati. Orang dewasa saja bisa menjadi manja karena cinta, apalagi anak-anak?

Rasanya alamiah jika kita menomorsatukan yang kita cintai. Keluarga, kekasih, Tuhan. Tetapi ketika tiba gilirannya pada anak, kenapa jadi tidak bisa mendahulukan kepentingannya dibandingkan pekerjaan? Kadang seperti tidak sadar bahwa yang sering dikorbankan adalah orang yang paling dicintai, anak.

“Aaah, pokoknya kalo gue sih, tidak bisa kalau di rumah saja. Menderita sekali terkungkung dalam rumah,” curhat seorang tetangga. “Mengurus anak itu melelahkan sekali, nggak tahan deh. Mending ngantor saja,” tambahnya. Kalau jawabannya adalah demikian, berarti yang jadi prioritas adalah ‘penderitaan dan kebebasan’ ibu dong, bukan perkembangan anak. Sang ibu mungkin tidak sadar bahwa korban dari kebebasannya adalah anak. Padahal bekerja tidak harus di kantoran, di rumah pun bisa bekerja sehingga waktu untuk anak tidak banyak terbuang. Mengembangkan usaha yang menyerap tenaga kerja atau pekerjaan yang tidak banyak menyita waktu, seperti guru misalnya. Tetapi untuk mejalankan ini, berarti perempuan sedari awal sudah harus diingatkan tentang kewajiban dan fitrahnya sebagai seorang ibu, sehingga kelak bisa memilih pendidikan yang menunjang pekerjaannya sebagai ibu kelak. Memangnya menjadi ibu itu bekerja? Tentu saja. Wong menjadi pengasuh anak (yang notabene melakukan pekerjaan seorang ibu) saja dibayar…

Seorang kawan lain malah berkata, “Buat apa sekolah tinggi kalau cuma di rumah saja?” Walah! Apa menjadi seorang ibu tidak perlu pintar? Memang menjadi pintar dan cerdas tidak hanya didapat dari bangku sekolah, tapi kita semua setuju bahwa pendidikan adalah dasar. Buat saya, kalau tidak sekolah mungkin tidak akan bertemu dengan suami saya, belum tentu memiliki keluarga yang saya idam-idamkan seperti sekarang ini. Apa bekerja itu cuma di kantor saja? Padahal jika membaca rubrik ‘Somah’ di Kompas Minggu, isinya selalu menampilkan kaum perempuan kreatif dan inovatif yang tidak bekerja di kantor (di rumah) tetapi sanggup memiliki usaha yang produknya mampu bersaing di dunia internasional, bahkan sanggup memberdayakan masyarakat (termasuk kaum perempuan) di sekitarnya juga. Padahal pekerjaannya adalah ‘pekerjaan perempuan sekali’; seperti memasak (katering), membuat kue kering (bakery), menenun, menjahit, membuat kerajinan tangan, dan masih banyak lagi. Terkadang bahan yang digunakan adalah bahan-bahan yang tidak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya, seperti serat nanas, serat pisang, kepompong ulat, kertas daur ulang, daun-bunga kering dan sebagainya. Apa yang begitu itu tidak hebat? (lihat Pekerjaan Muslimah dan “Perempuan Bekerja, Asalkan…”)

“Maksudnya, semua perempuan harus sependapat sama lo?” tanya seorang kawan. Hei, yang bilang bahwa perempuan ‘lebih baik’ di rumah juga bukan saya, tapi Allah bo (surat Al-Ahzab 33-34)! Masa iya, saya yang ngarang-ngarang sendiri. “Tapi hari gini, sekolah mahal, jaman sudah maju, kalau nggak ngikutin bisa ketinggalan dong,” jawab dia. Tapi juga, bukankah sebagai seorang muslim kita harus berbicara dalam perpekstif Islam? Menurut saya sih… Islam itu way of life, jadi menjadi muslim berarti way of life kita juga harus secara Islami. Bukankah Islam itu satu paket; tidak bisa kita mau beragama Islam saja tapi tidak mau solat? Atau mau solat tapi tidak puasa?

Tapi, bagaimana lagi. Setiap orang punya prioritas sendiri juga dalam menentukan perpektif hidupnya. Berarti setiap perdebatan saya bakalan menjadi debat kusir jika bukan dengan orang yang ber-perspektif sama… :roll:

Menurut Ponijan Liaw (pelatih dan penulis buku-buku komunikasi), saat ini bukan hanya soal tempat dan waktu yang terasa semakin fleksibel, melainkan juga teknologi yang digunakan semakin menipiskan jarak ruang yang ada. Pekerjaan bisa dilakukan di mana saja tanpa harus ngantor. Artinya, job desk dan job list bisa juga dituntaskan di rumah. Model kerja seperti ini keliahatannya lebih pas untuk kaum hawa. Peran ganda pun bisa dilakoni sang perempuan pada waktu bersamaan di rumah: ibu rumah tangga dan pengusaha. Inilah kemajuan kaum hawa yang pantas diacungi jempol (Kontan, 19/04/08).

Artikel Terkait:
>> Haruskah Berhenti Bekerja (It’s Baby Time)
>> Memilih Anak atau Karir

Gay, Lesbian dan Homoseksual

Gay, Lesbian, Homoseksual
Jumat, 4 Mei 2007 04:02:33 WIB

GAY, LESBIAN (HOMOSEKSUAL)

Oleh
Syaikh Nabil Muhammad Mahmud

DOSA-DOSA HOMOSEKSUAL
Homoseksual adalah sejelek-jelek perbuatan keji yang tidak layak dilakukan oleh manusia normal. Allah telah menciptakan manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan perempuan sebagai tempat laki-laki menyalurkan nafsu bilogisnya, dan demikian sebaliknya. Sedangkan prilaku homoseksual –semoga Allah melindungi kita darinya- keluar dari makna tersebut dan merupakan bentuk perlawanan terhadap tabiat yang telah Allah ciptakan itu. Prilaku homoseksual merupakan kerusakan yang amat parah. Padanya terdapat unsur-unsur kekejian dan dosa perzinaan, bahkan lebih parah dan keji daripada perzinaan.

Aib wanita yang berzina tidaklah seperti aib laki-laki yang melakukan homoseksual. Kebencian dan rasa jijik kita terhadap orang yang berbuat zina tidak lebih berat daripada kebencian dan rasa jijik kita terhadap orang yang melakukan homoseksual. Sebabnya adalah meskipun zina menyelisihi syariat, akan tetapi zina tidak menyelisihi tabiat yang telah Allah ciptakan (di antara laki-laki dan perempuan). Sedangkan homosek menyelisihi syariat dan tabiat sekaligus.

Para alim ulama telah sepakat tentang keharaman homoseksual. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencela dan menghina para pelakunya.

“Artinya : Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya. ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian? ‘Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampui batas” [Al-A’raf : 80-81]

Dalam kisah kaum Nabi Luth ini tampak jelas penyimpangan mereka dari fitrah. Sampai-sampai ketika menjawab perkataan mereka, Nabi Luth mengatakan bahwa perbuatan mereka belum pernah dilakukan oleh kaum sebelumnya.

BESARNYA DOSA HOMOSEKSUAL SERTA KEKEJIAN DAN KEJELEKANNYA
Kekejian dan kejelekan perilaku homoseksual telah mencapai puncak keburukan, sampai-sampai hewan pun menolaknya. Hampir-hampir kita tidak mendapatkan seekor hewan jantan pun yang mengawini hewan jantan lain. Akan tetapi keanehan itu justru terdapat pada manusia yang telah rusak akalnya dan menggunakan akal tersebut untuk berbuat kejelekan.

Dalam Al-Qur’an Allah menyebut zina dengan kata faahisyah (tanpa alif lam), sedangkan homoseksual dengan al-faahisyah (dengan alif lam), (jka ditinjau dari bahsa Arab) tentunya perbedaan dua kta tersebut sangat besar. Kata faahisyah tanpa alif dan lam dalam bentuk nakirah yang dipakai untuk makna perzinaan menunjukkan bahwa zina merupakan salah satu perbuatan keji dari sekian banyak perbuatan keji. Akan tetapi, untuk perbuatan homoseksual dipakai kata al-faahisyah dengan alif dan lam yang menunjukkan bahwa perbuatan itu mencakup kekejian seluruh perbuatan keji. Maka dari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian” [Al-A’raf : 80]

Maknanya, kalian telah mengerjakan perbuatan yang kejelekan dan kekejiannya telah dikukuhkan oleh semua manusia.

Sementara itu, dalam masalah zina, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu faahisyah (perbuatan yang keji) dan suatu jalan yang buruk” [Al-Isra : 32]

Ayat ini menerangkan bahwa zina adalah salah satu perbuatan keji, sedangkan ayat sebelumnya menerangkan bahwa perbuatan homoseksual mencakup kekejian.

Zina dilakukan oleh laki-laki dan perempuan karena secara fitrah di antara laki-laki dan perempuan terdapat kecenderungan antara satu sama lain, yang oleh Islam kecenderungan itu dibimbing dan diberi batasan-batasan syariat serta cara-cara penyaluran yang sebenarnya. Oleh karena itu, Islam menghalalkan nikah dan mengharamkan zina serta memeranginya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” [Al-Mukminun : 5-7]

Jadi, hubungan apapun antara laki-laki dan perempuan di luar batasan syariat dinamakan zina. Maka dari itu hubungan antara laki-laki dan perempuan merupakan panggilan fitrah keduanya, adapun penyalurannya bisa dengan cara yang halal, bisa pula dengan yang haram.

Akan tetapi, jika hal itu dilakukan antara laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan, maka sama sekali tidak ada hubungannya dengna fitrah. Islam tidak menghalalkannya sama sekali karena pada insting dan fitrah manusia tidak terdapat kecenderungan seks laki-laki kepada laki-laki atau perempuan kepada perempuan. Sehingga jika hal itu terjadi, berarti telah keluar dari batas-batas fitrah dan tabiat manusia, yang selanjutnya melanggar hukum-hukum Allah.

“Artinya : Yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian” [Al-A’raf : 80]

Mujtahid berkata : “Orang yang melakukan perbuatan homoseksual meskipun dia mandi dengan setiap tetesan air dari langit dan bumi masih tetap najis”.

Fudhail Ibnu Iyadh berkata : “Andaikan pelaku homoseksual mandi dengan setiap tetesan air langit maka dia akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak suci”.

Artinya, air tersebut tidak bisa menghilangkan dosa homoseksual yang sangat besar yang menjauhkan antara dia dengan Rabbnya. Hal ini menunjukkan betapa mengerikannya dosa perbuatan tersebut.

Amr bin Dinar berkata menafsirkan ayat diatas : “Tidaklah sesama laki-laki saling meniduri melainkan termasuk kaum Nabi Luth”.

Al-Walid bin Abdul Malik berkata : “Seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menceritakan kepada kita berita tentang kaum Nabi luth, maka aku tidak pernah berfikir kalau ada laki-laki yang menggauli laki-laki”.

Maka sungguh menakjubkan manakala kita melihat kebiasaan yang sangat jelek dari kaum Nabi Luth ini –yang telah Allah binasakan- tersebar diantara manusia, padahal kebiasaan itu hampir-hampir tidak terdapat pada hewan. Kita tidak akan mendatapkan seekor hewan jantan pun yang menggauli hewan jantan lainnya kecuali sedikit dan jarang sekali, seperti keledai.

Maka itulah arti dari firman Allah berikut.

“Artinya : Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas” [Al-A’raf :81]

Allah mengatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya perbuatan keji itu belum pernah dilakukan oleh siapapun di muka bumi ini, dan itu mencakup manusia dan hewan.

Apabila seorang manusia cenderung menyalurkan syahwatnya dengan cara yang hewan saja enggan melakukannya, maka kita bisa tahu bagaimana kondisi kejiwaan manusia itu. Bukankah ini merupakan musibah yang paling besar yang menurunkan derajat manusia dibawah derajat hewan?!

Maksud dari penjelasan di atas adalah sebagai berikut.

Pertama : Jika penyakit ini tersebar di tengah umat manusia, maka keturunan manusia itu akan punah karena laki-laki sudah tidak membutuhkan wanita. Populasi manusia akan semakin berkurang secara berangsur.

Kedua :P elaku homoseksual tidak mau menyalurkan nafsu biologisnya kepada perempuan. Jika dia telah beristeri, maka dia akan mengabaikan isterinya dan menjadikannya pemuas orang-orang yang rusak. Dan jika dia masih bujangan, maka dia tidak akan berfikir untuk menikah. Sehingga, apabila homosek ini telah merata dalam sebuah kelompok masyarakat, maka kaum laki-lakinya tidak akan lagi merasa membutuhkan perempuan. Akibatnya, tersia-siakanlah kaum wanita. Mereka tidak mendapatkan tempat berlindung dan tidak mendapatkan orang yang mengasihi kelemahan mereka. Disinilah letak bahaya sosial homoseksual yang berkepanjangan.

Ketiga : Pelaku homoseksual tidak peduli dengan kerusakan akhlak yang ada disekitarnya.

CIRI-CIRI KAUM HOMOSEKS
[1]. Fitrah dan tabiat mereka terbalik dan berubah dari fitrah yang telah Allah ciptakan pada pria, yaitu kehendak kepada wanita bukan kepada laki-laki.

[2]. Mereka mendapatkan kelezatan dan kebahagian apabila mereka dapat melampiaskan syahwat mereka pada tempat-tempat yang najis dan kotor dan melepaskan air kehidupan (mani) di situ.

[3]. Rasa malu, tabiat, dan kejantanan mereka lebih rendah daripada hewan.

[4]. Pikiran dan ambisi mereka setiap saat selalu terfokus kepada perbuatan keji itu karena laki-laki senantiasa ada di hadapan mereka di setiap waktu. Apabila mereka melihat salah seorang di antaranya, baik anak kecil, pemuda atau orang yang sudah berumur, maka mereka akan menginginkannya baik sebagai objek ataupun pelaku.

[5]. Rasa malu mereka kecil. Mereka tidak malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga kepada makhlukNya. Tidak ada kebaikan yang diharapkan dari mereka.

[6]. Mereka tidak tampak kuat dan jantan. Mereka lemah di hadapan setiap laki-laki karena merasa butuh kepadanya.

[7]. Allah mensifati mereka sebagai orang fasik dan pelaku kejelekan ; “Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik” [Al-Anbiya : 74]

[8]. Mereka disebut juga sebagai orang-orang yang melampui batas : “Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melapaui batas” [Al-A’raf : 81]. Artinya, mereka melampaui batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Allah.

[9]. Allah menamakan mereka sebagai kaum perusak dan orang yang zhalim :”Luth berdo’a. ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu’. Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk (Sodom) ini. Sesunguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zhalim” [Al-Ankabut : 30-31]

AZAB DAN SIKSA KAUM NABI LUTH
Disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menhujani mereka dengan batu. Tidak tersisa seorangpun melainkan dia terhujani batu tersebut. Sampai-sampai disebutkan bahwa salah seorang dari pedagang di Mekkah juga terkena hujan batu sekeluarnya dari kota itu. Kerasnya azab tersebut menunjukkan bahwa homoseksual merupakan perbuatan yang paling keji sebagaimana yang disebutkan dalam dalil.

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth” [HR Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 (no. 7337)]

Arti dari laknat Allah adalah kemurkaanNya, dan terjauhkan dari rahmatNya. Allah membalik negeri kaum Luth dan menghujani mereka dengan batu-batu (berasal) dari tanah yang terbakar dari Neraka Jahannam yang susul-menyusul. Tertulis di atas batu-batu itu nama-nama kaum tersebut sebagaimana yang dikatakan Al-Jauhari.

[Disalin dari Majalah Fatawa Vol. 11/Th.1/1424H-2003M. Disarikan dan dialaihbahasakan oleh Yusuf Purwanto dan Abdullah. Alamat Redaksi Islamic Center Bin Baz, Karanggayam, Sitimulyo, Piyungan-Bantul, Yogyakarta]

Categories: Articles

Artikel “Islam Recognizes Homosexuality” (Baca Qur’an yang Mana?)

April 4, 2008 Viska 3 komentar

01/04/08
Tanggal 28 Maret 2008 The Jakarta Post memuat liputan diskusi tentang homoseksualitas dalam Islam dengan pembicara Siti Musdah Mulia dengan judul Islam Recognizes Homosexuality. Hasil dari diskusi itu menyimpulkan bahwa homoseksual dan homoseksualitas adalah hal yang alami dan diciptakan oleh Allah SWT, sehingga permissible (diijinkan) dalam Islam. Di luar konteks seksual. Hebat juga pemikiran mereka yang disebut-sebut sebagai muslim moderat. Baiklah. Tetapi tidak dapat disangkal bahwa sesuatu yang alamiah juga bagi mereka untuk jatuh cinta. Lalu timbul keinginan untuk selalu berdampingan dengan kekasih hati, hidup bersama dan menikah. Lalu kelanjutannya bagaimana? Apakah ada hukum dan peraturan tentang pernikahan homoseksual dalam Islam? Lalu apakah pernikahan sesama jenis ini juga akan disahkan negara? Bagaiman dengan maksud penciptaan perempuan dan laki-laki dan tujuan diadakannya pernikahan?

Surah Al-A’raf 80-81: Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya. “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian? Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampui batas”.

Lalu bagaimana dengan kebutuhan alamiah untuk menyalurkan hasrat seksual? Padahal kita tahu benar bahwa seks anal dilarang dalam Islam (Al-Qur’an: surah Al-Araf 80-81, surah Al-Mukminun 5-7; Hadist: HR. At-Tirmidzi no. 1166 Kitab ar-Radha’, Ibnu Hibban no. 1302, Shahiih at-Tirmidzi no. 930 and Al-Misykah no. 3195). Kita tentu juga tidak lupa bahwa Allah SWT melaknat kaum Luth yang homoseks dan gemar sodomi (surah Hud 82-83). Sebuah artikel di situs al.manhaj.or.id berjudul “Gay, Lesbian dan Homoseksual” oleh Syaikh Nabil Muhammad Mahmud malah berkesimpulan bahwa jika hal itu (seks) dilakukan antara laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan, maka sama sekali tidak ada hubungannya dengan fitrah. Islam tidak menghalalkannya sama sekali karena pada insting dan fitrah manusia tidak terdapat kecenderungan seks laki-laki kepada laki-laki atau perempuan kepada perempuan. Sehingga jika hal itu terjadi, berarti telah keluar dari batas-batas fitrah dan tabiat manusia, yang selanjutnya melanggar hukum-hukum Allah.

Namun hasil dari diskusi itu juga menyebutkan bahwa pemurkaan atas kaum homoseksual dan homoseksualitas adalah berdasarkan pemikiran sempit dari ajaran agama Islam semata. Wow sekali lagi. Apa mereka melewatkan surah Hud ketika membaca Qur’an, ya? Bukankah Al-Qur’an adalah ayat-ayat Allah yang diturunkan pada manusia sebagai manual dalam berkehidupan—termasuk surah Hud juga. Lalu apakah Allah juga dianggap ‘berpikiran sempit’ karena menurunkan ayat tersebut?

Saya setuju bahwa kita harus saling menghormati sesama manusia, terlepas apakah sesorang itu homoseksual atau bukan. Tetapi atas pernyataan bahwa homoseksualitas itu diijinkan dalam Islam, membuat saya bingung. Apakah kami membaca Al-Qur’an yang sama? Atau Jakpost yang tidak memuat keseluruhan diskusi ya?

also read: comments on my letter!

Nares Project

April 2, 2008 Viska 2 komentar

19/03/08
Nggak disangka ternyata mrogram anak cewek itu susaaah! Setelah lepas spiral [09/07] kirain langsung ’jadi’, kayak Naren dulu. Ternyata sampai sekarang belum ’jadi’ juga. Padahal dulu pas Naren—waktu merit lagi ’dapet’, bulan berikutnya langsung telat mens en periksa dokter ternyata udah isi. Pengennya bulan madu dulu, malah langsung hamil. Sekarang pas udah siap punya baby lagi, malah disuruh bulan madu terus… Huahaha! Begitulah yang namanya manusia berencana, Tuhan menentukan.

Padahal persiapan program anak cewek udah cukup mateng. Dari hasil survei en cari-cari resep bikin anak perempuan, segala macem pengkondisiannya dan pelaksanaannya udah mantap. Kok ya masih gagal juga. Jangankan ‘jadi’ anak cewek, hamil aja enggak! Yah…sekali lagi, manusia berencana, Tuhan menentukan… Tapi di luar itu, emang program anak cewek itu susah (buat aku sih). Pertama, dari waktu aja udah susah. Kata dr. Boyke, waktu yang tepat untuk bikin anak cewek itu adalah hari ke-12 (dihitung dari hari pertama menstruasi). Padahal kan nggak bisa dipaksain hari itu harus berbuat. Bisa aja ketiduran, kecapekan atau anaknya ga tidur-tidur *hahaha* padahal kesempatannya cuma sekali dalam sebulan. Susah deh! Kalo gagal, tunggu lagi bulan depan dong.

Penjelasan hari ke-12 adalah karena sperma Y yang larinya cepat lebih dulu sampai di rahim, ia tidak bisa membuahi sel telur karena belum matang. Tetapi ketika sel telur matang di hari ke-14 (ovulasi dimulai) sperma Y udah tewas. Kan umur sperma hanya 48 jam dalam rahim. Jadi tinggallah sperma X (larinya lambat tapi daya tahan kuat) yang sampai belakangan tapi sukses membuahi sel telur. Nah, kalo berbuatnya setelah hari ke-14, perkiraannya yang ’jadi’ bakal anak cowok karena sel telurnya udah matang. Jadi kemungkinan besar si Y yang larinya cepet sampai lebih dulu dan membuahi sel telur. Bisa aja siy ’jadi’ anak cewek juga, tapi kemungkinannya kecil. Jadi bikin anak cowok kesempatannya lebih banyak (lama), dari hari ke-14 sampai sebelum masa menstruasi lagi. Jadi sekitar 2 minggu laaah… Bandingkan dengan waktu bikin anak cewek yang cuma sekali. Pertanyaannya, kalo emang lebih gampang bikin anak cowok kenapa banyakan jumlah perempuan lebih banyak ya? Di luar kekuasaan Tuhan low, ya… Bahkan nantinya jumlah cewek dan cowok perbandingannya bakal 50 : 1, bo!!! Apa besok-besok banyak cewek yang nggak bisa menikmati percintaan ya, sehingga jadinya anak cewek? Tapi ya mungkin ada kuasa Tuhan juga, soalnya itu kan salah satu tanda-tanda kiamat juga…

Kedua tentang orgasme. Kalo mo bikin anak cewek nggak perlu orgasme, karena orgasme bikin kondisi rahim jadi basa sedangkan sperma X nggak tahan sama konsidi basa, dia tahan sama suasana asam. Nah, enakan bikin anak cowok kan? Perempuan itu kan, bisa mengalami multi-orgasme…

Ketiga. Untuk mendukung kondisi (lebih) asam, basuh miss cheerfull dengan segelas air campur cuka 2 sendok.

Keempat, masih berkaitan sama kondisi-kondisi di atas. Jika ingin anak cewek, ibu perbanyak makan daging-dagingan sedang ayah makan sayur-sayuran. Jika ingin anak cowok, sebaliknya.

Kelima, posisi menentukan prestasi. Tapi banyak infonya, jadi mana yang bener ya. Ada yang bilang jika ingin anak cewek pake posisi missionary dan posisi doggy style untuk anak cowok (kalo nggak salah dari IDAI). Versi lain, untuk bikin anak cewek posisi woman on top, sedangkan untuk anak cowok pake posisi missionary (lupa baca darimana). Tapi above off all, maksudnya adalah posisi yang memperlambat atau mempercepat laju sperma Y. Jadi butuhnya bikin anak cewek, yang pake posisi yang memperlambat laju sperma Y.

Keenam… Udah ikhtiar, ya doa yang banyak! Hehehe… Habis itu? Tawaqqal, ihklas bin pasrah… Manusia cuma bisa berusaha, Tuhan yang menentukan hasilnya.

Categories: Personal

Haruskah Berhenti Bekerja? (It’s Baby Time)

Prolog: Seorang teman bertanya, “Menurut lo; bagusnya gue berhenti kerja apa nggak, ya?” Dia adalah salah seorang perempuan pintar yang saya kenal. Kami berteman sejak duduk di bangku kuliah. Sekarang ini, karirnya sedang menanjak dengan gaji yang lumayan tinggi. Calon suaminya meminta dia untuk berhenti bekerja setelah menikah. Kebanyakan perempuan mungkin mengalami hal ini, kegundahan menjadi ibu-bekerja.

“Tergantung prioritas,” jawab saya. ”Pengennya sih, gue tetap bekerja. Lagipula, itu kan buat anak-anak juga. Gue bisa menyiapkan bekal pendidikan yang paling baik buat mereka,” katanya memberi alasan. ”Lalu kenapa masih bingung?” saya balik bertanya. ”Karena pasti gue bakal merasa bersalah karena ninggalin mereka di rumah,” jawabnya dengan wajah yang muram. ”There you go. You don’t have to ask me, you know the answer,” kata saya. Kenapa? Karena hati nurani tidak pernah bohong. Kita boleh mengajukan seribu alasan, tapi hati nurani hanya punya satu jawaban yang sesungguhnya. Menjadi ibu, keinginan untuk mengasuh anak, keinginan untuk selalu berada di dekat anak adalah fitrah. Rasa bersalah timbul karena pengingkaran fitrah tersebut. Kalau sudah benar tentu hati tidak akan gundah, bukan? Sederhana saja.

Kembali bekerja setelah mempunyai anak atau berhenti bekerja setelah punya anak, dua-duanya adalah keputusan yang sama beratnya. Dulu, untuk memikirkannya saja; rasanya seperti ada perang di dalam kepala dan hati saya. Otak dan hati selalu bentrok. Apalagi orang-orang terdekat nyaris tidak ada yang memihak pada opsi berhenti bekerja. ”Gila lo yaaa…” cetus seorang teman, saat saya mengungkapkan kebingungan antara pekerjaan dan anak. ”Orang yang mau jadi PNS itu banyak. Lo yang sudah jadi PNS, masa mau berhenti?” kata teman saya. ”Jadi PNS itu sudah yang paling pas. Tidak terlalu sibuk dan fleksibel. Jika harus tidak masuk kantor karena urusan anak, atasan pasti maklum kok.” Teman yang lain menanggapi. ”Ingat-ingat saja, ada uang pensiun setiap bulannya di hari tua. Apalagi laki lo kan kerja swasta,” sahut yang lain. Makin gundah lah hati saya.

Sembari memikirkan keputusan yang akan diambil seusai masa cuti melahirkan, saya pun membaca-baca wacana tentang ibu-rumah-tangga dan ibu-bekerja. Buku terjemahan karangan Danielle Crittenden (Perempuan Salah Langkah, 2002) dan beberapa artikel tentang perempuan dari almanhaj.or.id adalah di antaranya. Lhooo…kok lebih banyak tentang yang bekerja di rumah? Mungkin karena pada dasarnya memang saya sudah berat ke rumah, ya. Mungkin juga karena saya terlalu malas untuk jungkir-balik kerja domestik-publik… Hahaha! Akhirnya keputusan saya untuk berhenti bekerja pun mantap. Suami yang sedari awal menginginkan saya untuk fokus saja ke anak dan rumah tangga pun berlega hati karena tidak perlu lagi ’menceramahi’ saya setiap hari tentang prioritas istri-ibu yang ’muslimah’. ”Sudah bapaknya bekerja dari pagi sampai malam, masa ibunya juga mau ikut pergi pagi pulang malam,” katanya. ”Jika suaminya sudah cukup menafkahi, perempuan itu wajibnya di rumah,” tambahnya lagi. ”Aku kan kerja bukan untuk cari duit,” jawab saya. ”Nah, apalagi bukan untuk cari duit. Lebih nggak wajib lagi, dong?” dia balik bertanya.


Surah Al-Ahzab 33-34, artinya: ”Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang terdahulu dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatilah Allah dan RasulNya sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabi) sesungguhnya Allah adalah Mahalembut lagi Maha Mengetahui.”

Lalu bagaimana dengan aktualisasi diri saya? Demikian protes saya. Jawabannya saya temukan dalam bukunya Crittenden. Jika bukan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bekerja (aktualisasi diri) hanya menjadi pemuasan ego saya pribadi. Padahal dengan menjadi seorang ibu berarti ada tanggung jawab kepada pihak lain (anak). Harus ada yang mengasuh anak saya, harus ada yang mengatur bidang domestik rumah tangga saya. Pengasuh bukan jawaban karena sebenarnya yang paling dibutuhkan seorang anak tentu adalah ibunya. Menurut Crittenden…dan saya sih, setuju. Saya tidak sampai hati mendahulukan ’kepentingan pribadi’ saya daripada kepentingan anak. Saya kira mengasuh anak itu ternyata membutuhkan konsentrasi penuh ya. Saya ngurus satu anak aja belum tentu beres, mau dibagi pulak konsentrasinya dengan pekerjaan. Nanti bagaimana saya mempertanggungjawabkannya kepada Allah Swt?

Lalu dengan menjadi seorang istri-ibu berarti mengesampingkan kebutuhan pribadi seorang perempuan? Tidak perlu merasa ’diremehkan’ dengan adanya koridor tersebut, karena apa-apa yang sudah diatur oleh-Nya adalah yang terbaik bagi umat-Nya, buat perempuan juga. Apalagi Islam adalah agama yang mengangkat harkat wanita, setelah dulu tertindas pada jaman jahiliyah. Walaupun perempuan ‘lebih baik di rumah‘, ‘bekerjanya perempuan adalah di rumah‘, toh Islam tidak melarang perempuan bekerja. Ada beberapa keluarga yang penghasilan suaminya tidak mencukupi, sehingga sang istri harus ikut bekerja juga. Tapi dengan catatan, pekerjaannya sesuai dengan koridor yang telah disyariatkan. Saya sih merasa, adanya koridor tersebut justru menjaga betul fitrah perempuan sebagai seorang ibu. Keep balance. Lihat “Pekerjaan Perempuan Muslimah” dan “Perempuan Bekerja, Asalkan…”. Aktualisasi didapat, fitrah terjaga, syariat terlaksana. Saya sempat berpikir mencari pekerjaan yang bersifat SOHO (small office home office) untuk menggantikan pekerjaan saya yang lama. Model home-based ini sepertinya cocok sekali, dengan demikian pekerjaan dan anak dapat dikontrol dari rumah. Jadi tidak terlalu banyak waktu terbuang di luar rumah. Tapi lama-lama saya semakin malas ;) Buat saya, kehilangan pekerjaan telah tergantikan dengan kepuasan ‘bekerja’ sebagai seorang ibu. Meskipun tidak tahu juga bagaimana tahun-tahun mendatang jika anak sudah sibuk sekolah. Saya jadi yakin seyakin-yakinnya; jika tahu ’ilmunya’, tauhid dan iman pada Allah Swt serta ketentuan-Nya, maka saya dapat dengan ikhlas menjalani apa yang sudah disyariatkan sehingga mendapatkan kebahagiaan yang sudah dijanjikan-Nya. Bukankah Islam itu rahmatan lil a’lamin?

Selang beberapa waktu berlalu… Waduh, anak saya kok makin lama makin menggemaskan ya? Melihat senyum dan tawanya yang menggemaskan, rasanya saya jadi orang yang paling bahagia sedunia. Jika ia sakit, hati saya serasa ditusuk-tusuk sembilu. Bila ia memanggil saya dengan manja… Aduuuh! Mendengarnya saya pasti tidak tahan, langsung memeluk dan mengecup pipinya dengan perasaan bagai terbang ke langit tujuh. Apalagi kalau ia bilang enak pada masakan yang saya buat, sambil tersenyum lebar dan mata berbinar-binar. Sudah pasti GR-lah saya! Terutama karena saya tidak pintar masak… Tiba-tiba ia sudah pintar bicara saja. Padahal sepertinya baru kemarin saya menggendong dia yang masih bayi. Rasanya sayaaang… sekali, kalau sampai melewatkan masa tumbuh-kembangnya yang cuma terjadi sekali seumur hidup dan tidak bisa diputar-ulang. Saya pun bersyukur memiliki kemewahan untuk memilih antara bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Saya juga bersyukur telah memilih menjadi ibu-penuh-waktu. Jika masih bekerja, saya pasti kehilangan momen-momen indah ini… Ini adalah kebahagiaan saya yang tidak tergantikan oleh apa pun.

Epilog: Joyfull youth, best school, flying marks, glorious days, good job, great friends, perfect-romance, wonderful journey abroad, get married and having a baby. I achieved it all. Those feel to me like the good old days. It’s baby time. Now I’m happy in my role as a ‘family manager’ and a ‘mom’.

Baca juga.. :
>> Prioritas Sang Ibu
>> Memilih Anak atau Karir